{"id":65461,"date":"2020-07-17T17:48:08","date_gmt":"2020-07-17T10:48:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=65461"},"modified":"2020-07-17T17:48:26","modified_gmt":"2020-07-17T10:48:26","slug":"6-persamaan-cak-nun-dan-gus-baha","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-persamaan-cak-nun-dan-gus-baha\/","title":{"rendered":"6 Persamaan Cak Nun dan Gus Baha&#8217;"},"content":{"rendered":"<p>Siapa yang tidak kenal dengan Emha Ainun Nadjib? Banyak yang mengatakan bahwa tokoh yang lebih akrab disapa Cak Nun ini adalah manusia multidimensi. Beliau dikenal sebagai seniman, budayawan, penyair, cendekiawan, sastrawan, aktivis, pekerja sosial, dan kiai. Atas inisiatif beliau pula kini jamaah Maiyah tersebar di berbagai penjuru dunia.<\/p>\n<p>Beberapa tahun terakhir saya gemar mengikutinya, kadang menghadiri langsung acara \u201cSinau Bareng\u201d, namun lebih sering menyimaknya via YouTube. Belakangan ini saya juga gemar menyimak ceramah dari K.H. Ahmad Baha\u2019uddin Nursalim\u00a0atau lebih dikenal dengan\u00a0Gus Baha\u2019. Lewat YouTube juga tentunya karena belum berkesempatan hadir secara langsung di pengajiannya.\u00a0Gus Baha\u2019 dikenal sebagai ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam tentang Al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p>Ada persamaan antara Cak Nun dan Gus Baha\u2019 yang saya simpulkan setelah beberapa waktu mengikuti keduanya.<\/p>\n<h4><strong>#1 Meneduhkan dalam berbicara<\/strong><\/h4>\n<p>Ceramah yang meneduhkan adalah yang selalu saya cari. Bagi saya, seseorang yang bicaranya meneduhkan itu menunjukkan kebesaran hati dan keluasan ilmu. Dan saya menemukan ketenangan ketika mendengarkan ceramah dari Cak Nun dan Gus Baha\u2019.<\/p>\n<h4><strong>#2 Membuat optimis<\/strong><strong>tis setelah mendengar kajiannya<\/strong><\/h4>\n<p>Kesan yang saya dapat setelah mendengar ceramah dari dua tokoh yang saya sebutkan selalu gembira. Beliau-beliau ini menularkan sikap optimistis dalam menghadapi berbagai macam persoalan hidup. Baik Cak Nun dan Gus Baha\u2019, selalu menanamkan sikap rida atas segala sesuatu yang terjadi pada diri kita.<\/p>\n<p>Salah satu sikap yang sering dituturkan oleh mereka berdua yakni syukur. Dengan pandai bersyukur kita tidak akan mudah mengeluh, dengan tidak mudah mengeluh kita akan terhindar dari sifat pesimistis. Rasa syukur itu menerbitkan kegembiraan yang murni dan sejati, kegembiraan yang tidak bergantung pada sesuatu di luar diri kita.<\/p>\n<p>Cak Nun pernah membuat perumpamaan seperti ini: \u201cBila air yang sedikit dapat menyelamatkanmu dari kehausan, tak perlu meminta air yang lebih banyak yang barangkali dapat membuatmu tenggelam.\u201d<\/p>\n<p>Gus Baha\u2019 pun demikian, dalam ceramahnya mengajarkan kita untuk selalu bisa menemukan sesuatu untuk disyukuri. Salah satu kisahnya pernah ditulis di Terminal Mojok dengan judul \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/belajar-optimis-masuk-surga-bersama-gus-baha\/\">Belajar Optimis Masuk Surga Bersama Gus Baha\u2019<\/a>\u201d.<\/p>\n<h4><strong>#3 Ceria dan suka bercanda<\/strong><\/h4>\n<p>Cak Nun dan Gus Baha\u2019 selalu tampil ceria dan tidak sungkan mengajak audiens untuk bercanda. Tak jarang mereka juga tertawa terbahak apabila memang sedang menceritakan hal yang lucu. Mendengarkan ceramah mereka merupakan suatu hiburan yang berfaedah bagi saya.<\/p>\n<p>Dalam sebuah ceramahnya, Gus Baha\u2019 pernah berkata \u201cSaya itu malu sama Allah kalau dalam hidup ini tidak ada guyon, bercanda, karena kalau cemberut, kelihatan sedih, kesannya kok tidak rida sama qada dan qadar Allah.\u201d<\/p>\n<p>Sedangkan bercandanya Cak Nun lebih ceplas-ceplos meski pendengarnya lebih beragam latar belakangnya. Bagi Cak Nun, misuh itu nggak apa-apa, yang tidak boleh adalah misuhi orang lain.<\/p>\n<h4><strong>#4 Bisa diterima banyak golongan<\/strong><\/h4>\n<p>Jamaah Maiyah itu terdiri dari beragam kalangan. Mulai dari pejabat, tokoh masyarakat, akademisi, santri, muslim abangan, bahkan preman bisa berbaur dan duduk bersama dalam satu majelis. Semua diterima Cak Nun, dari latar belakang ormas mana pun di negeri ini.<\/p>\n<p>Tak jarang Cak Nun juga diminta untuk menengahi antara kelompok yang berselisih. Misalnya perbedaan pendapat antara ormas NU, Muhammadiyah, dan HTI. Bahkan ketika ada perselisihan antara suporter sepak bola. Banyak golongan yang membutuhkan sosok Cak Nun meski tetap saja ada sebagian kecil kelompok yang tidak suka dengan beliau.<\/p>\n<p>Gus Baha\u2019, meski mayoritas pendengarnya adalah kalangan santri, tapi nyatanya beliau juga diterima oleh banyak kalangan. Beliau ulama NU tulen, tapi kawan-kawan saya yang <em>pure<\/em> Muhammadiyah juga suka mendengarkan ceramahnya. Baru-baru ini beliau juga mengisi ceramah yang diadakan Universitas Muhammadiyah Malang.<\/p>\n<h4><strong>#5 Cerdas <\/strong><\/h4>\n<p>Saya rasa tak ada yang meragukan kecerdasan logika mereka. Sejauh pengamatan saya mereka selalu menang dalam berargumen. Gus Baha\u2019 mampu menjelaskan tafsir ayat dengan bahasa kaumnya, yang mudah dipahami. Sedangkan Cak Nun lihai dalam membaca situasi sosial dan memasukkan ilmu-ilmu agama sesuai tingkat pemahaman kaumnya.<\/p>\n<h4><strong>#6 Tidak masuk TV nasional<\/strong><\/h4>\n<p>Meskipun mereka berdua tidak masuk TV nasional, nyatanya jamaah mereka sangat banyak jumlahnya. Saya yakin mereka punya alasan khusus kenapa menolak untuk diliput TV nasional.<\/p>\n<p>Rasanya sangat beruntung bisa mendengar nasihat-nasihat dari Cak Nun dan Gus Baha\u2019, benar-benar seperti oase yang menyejukkan di tengah gersangnya zaman. Semoga sehat selalu dan panjang umur untuk beliau berdua, amiiin.<\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/commons.wikimedia.org\/w\/index.php?sort=relevance&amp;search=cak+nun&amp;title=Special:Search&amp;profile=advanced&amp;fulltext=1&amp;advancedSearch-current=%7B%7D&amp;ns0=1&amp;ns6=1&amp;ns12=1&amp;ns14=1&amp;ns100=1&amp;ns106=1#\/media\/File:Sinau_Bareng_Cak_Nun_dan_Kiai_Kanjeng_di_Lamongan.jpg\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Wikimedia Commons<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/beda-pandangan-kiai-maimoen-dan-gus-baha-soal-menerima-tamu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Beda Pandangan Kiai Maimoen dan Gus Baha\u2019 Soal Menerima Tamu<\/a> dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/abdulloh-suyuti\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Abdulloh Suyuti<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rasanya sangat beruntung bisa mendengar nasihat-nasihat dari Cak Nun dan Gus Baha\u2019, benar-benar seperti oase yang menyejukkan di tengah gersangnya zaman.<\/p>\n","protected":false},"author":125,"featured_media":65612,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[902,7606,225,7886,2180],"class_list":["post-65461","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-cak-nun","tag-ceramah","tag-gus-baha","tag-maiyah","tag-ulama"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65461","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/125"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=65461"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65461\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/65612"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=65461"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=65461"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=65461"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}