{"id":65244,"date":"2020-07-21T15:00:35","date_gmt":"2020-07-21T08:00:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=65244"},"modified":"2020-07-21T15:01:13","modified_gmt":"2020-07-21T08:01:13","slug":"skripsi-sebaiknya-dijual-ketimbang-disimpan-bukankah-begitu-unilak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/skripsi-sebaiknya-dijual-ketimbang-disimpan-bukankah-begitu-unilak\/","title":{"rendered":"Skripsi Sebaiknya Dijual ketimbang Disimpan, Bukankah Begitu, Unilak?"},"content":{"rendered":"<p>Beberapa waktu yang Menteri Koordinator bidang PMK, Muhadjir Effend mengatakan bahwa pendidikan Indonesia kurang berorientasi industri. Sehingga dunia pendidikan di Indonesia masih kalah jauh untuk bersaing dengan negara lain. Mungkin sekilas kita akan menyetujui pendapat itu. Itu jika kita menangkap maksud Pak Muhadjir bahwa sistem pendidikan kita memang sudah berorientasi pada angka. Riset sebatas skripsi dan tesis, atau apalah maksud pak menteri itu.<\/p>\n<p>Hal ini menjadikan Sisdiknas\u00a0tidak relevan lagi dengan kebutuhan industri di era sekarang. Tetapi ketika melihat realitasnya, bukankah selama ini dunia pendidikan di Indonesia memang diciptakan menjadi \u201clahan basah\u201d industri?<\/p>\n<p>Bukankah selama ini memang pendidikan kita sudah tidak wajar lagi untuk dikatakan \u201cmencerdaskan\u201d kehidupan bangsa. Bukankah setiap tahunnya dari ribuan sekolah yang ada di Indonesia selalu berebut bibit unggul saja?<\/p>\n<p>Dengan kata lain, hari ini lembaga pendidikan yang ada di Indonesia cenderung memproduksi manusia yang nantinya dapat diperlombakan di dunia industri pendidikan, di mana setiap harinya penuh persaingan semu. Sehingga seolah-olah pendidikan kita \u2013dari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi- sebuah \u201cpabrik manusia\u201d yang diciptakan menjadi robot industri di masa depan.<\/p>\n<p>Kita akan dapat menyaksikan betapa tidak ada \u201cniat baik\u201d pendidikan kita untuk menuju pendidikan berbasis riset dan justru jauh dari cita-cita \u201cmencerdaskan kehidupan bangsa\u201d. Ketika melihat kasus \u201coknum\u201d pegawai perpustakaan melakukan pembuangan hasil cetak skripsi, seperti membuang sampah di Universitas Lancang Kuning (Unilak) Pekanbaru Riau, beberapa waktu yang lalu.<\/p>\n<p>Meskipun Rektor Unilak Junaidi melalui website kampus unilak.ac.id meminta maaf secara resmi. Serta telah memecat kepala pustaka Unilak dan\u00a0 \u201coknum\u201d perpustakaan yang melakukan aksi lempar-lempar hasil cetak skripsi melalui jendela tersebut, tetapi hal ini tidak meredakan amarah civitas akademi se-Indonesia \u2013Unilak\u00a0 khususnya-. Seperti kata Tao Ming Se, kata maaf itu sudah \u201ctidak ada gunanya lagi\u201d karena memang telah terlanjur melukai hati semua mahasiswa.<\/p>\n<p>Kejadian ini memicu hujatan hingga berujung demonstrasi di kalangan mahasiswa Unilak sendiri. Mereka menganggap bahwa Kampus Unilak tidak menghargai hasil riset Mahasiswanya yang telah susah payah dalam menghasilkan skripsi-skripsi tersebut. Jerih payah mereka ternyata hanya dibuang begitu saja bagaikan sampah yang tidak berharga.<\/p>\n<p>Meski Rektor Unilak telah berdalih bahwa skripsi-skripsi tersebut merupakan skripsi lama yang telah rusak dan telah dilakukan digitalisasi, beberapa pihak tetap menyayangkan kejadian tersebut, karena tak sepantasnya hal itu terjadi.<\/p>\n<p>Menjadi hal yang wajar ketika mahasiswa Unilak marah. Itu semua karena mengetahui secara persis bahwa skripsi-skripsi tersebut ternyata \u201cdijual ke tempat tukang loak\u201d. Wow, amajing, sungguh membuka lahan industri baru budidaya \u201csampah skripsi\u201d, yang pasti bisa menjadi terobosan inovatif \u00a0kedepannya.\u00a0Bayangkan skripsi yang dibuat oleh mahasiswa dengan perjuangan yang tidak mudah tentunya, dibuang begitu saja, seolah-olah hal itu tidak ada artinya bagi mereka.<\/p>\n<p>Mereka \u201coknum\u201d\u2014terpujilah pencipta kata oknum\u2014pegawai perpustakaan Unilak pasti tidak pernah merasakan betapa sulitnya menulis skripsi. Mereka mungkin tidak harus menerima teror dari keluarga dan kolega yang terus-menerus menanyakan perkembangan skripsi.<\/p>\n<p>Hal itu, belum termasuk menghadapi dosen pembimbing yang sulit ditemui sehingga penyelesaiannya tertunda hingga hilangnya mood. Sekalinya bertemu sang dosen, revisi yang diterimanya adalah revisi total dan harus mengulanginya dari awal lagi.<\/p>\n<p>Setelah itu, mereka harus mencari data lagi di lapangan. Harus bertemu dengan responden yang sama lagi dan berusaha terus menghindar karena seperti dikejar paparazi. Ketika \u00a0dapat bertemu responden, ternyata mereka tidak merespon dengan baik karena merasa illfeel.<\/p>\n<p>Pasti si \u201coknum\u201d pegawai perpustakaan Unilak tersebut juga tidak pernah merasakan malam-malam penuh drama. Mempersiapkan\u00a0sidang ujian skripsi yang lebih mendebarkan dibandingkan sidang \u201cpelanggaran\u201d lalu Lintas di Pengadilan. Makan jadi tidak enak, tidur pun susah. Sampai-sampai rajin-rajin beribadah untuk mengharapkan lulus sidang dengan baik, alias tidak dibantai oleh penguj.<\/p>\n<p>Belum lagi, mahasiswa-mahasiswa tersebut dihadapkan dengan dilema kertas-kertas hasil revisi yang menumpuk. Galau mau dijual atau merasa sayang dan menyimpannya di gudang sebagai saksi dan bukti perjuangan. Lha, ini para oknum perpustakaan Unilak tanpa rasa simpati dengan mudahnya ingin menjual hasil cetak aslinya. Sungguh terlalu.<\/p>\n<p>Memang seseorang itu akan mati rasa ketika ia tidak pernah mengalaminya sendiri penderitaan tersebut. Mereka yang membuang skripsi dengan mengatasnamakan \u201capapun\u201d, pada hakikatnya telah menghina \u201charga\u00a0 diri dan perjuangan\u201d mahasiswa.<\/p>\n<p>Dengan kata lain, mereka telah menempatkan mahasiswa dengan skripsinya hanya sebagai robot industri ciptaan pendidikan di negeri ini, yang hasil risetnya sudah usang dan patut dihina karena sudah tidak menguntungkan lagi.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/belajar-dari-kolor-perdamaian-gus-dur\/\">Belajar dari Kolor Perdamaian Gus Dur<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/mubaidi-sulaeman\/\">Mubaidi Sulaeman<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Membuang skripsi, meskipun itu skripsi lama, jelas melukai dan menghina para mahasiswa yang berjibaku mati-matian dalam menyelesaikannya.<\/p>\n","protected":false},"author":804,"featured_media":66542,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2091,7959],"class_list":["post-65244","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-industri","tag-skrpsi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65244","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/804"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=65244"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65244\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/66542"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=65244"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=65244"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=65244"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}