{"id":64858,"date":"2020-07-15T08:43:42","date_gmt":"2020-07-15T01:43:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=64858"},"modified":"2020-07-15T08:43:42","modified_gmt":"2020-07-15T01:43:42","slug":"belajar-optimis-masuk-surga-bersama-gus-baha","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/belajar-optimis-masuk-surga-bersama-gus-baha\/","title":{"rendered":"Belajar Optimis Masuk Surga Bersama Gus Baha&#8217;"},"content":{"rendered":"<p>Belajar optimis kepada Gus Baha&#8217;&#8230;.<\/p>\n<p>Fenomena &#8220;ustaz seleb&#8221; di Indonesia sebenarnya barang lama. Bukan sesuatu yang negatif juga sebetulnya. Namun, sayangnya, ustaz seleb yang baru muncul belakangan, rata-rata yang saya temui, tidak (atau belum) punya dasar keilmuan Islam yang baik. Yang terlihat adalah keprihatinan.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, ada seorang ustaz yang bikin parodi lagu anak &#8220;Balonku Ada Lima&#8221; secara ngawur. Hal ini berujung klarifikasi semata yang mengundang ramai ledekan di media sosial. Lalu, disusul oleh skandal ustaz lain, yang memimpin pembacaan Alquran dengan bacaan tajwid yang mengenaskan, bagi seorang yang parahnya mengaku belajar agama secara otodidak.<\/span><\/p>\n<p>Mohon maaf sebelumnya, selain keprihatinan, yang terlihat adalah kekonyolan. <span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih memberikan keteduhan lewat ceramah, yang ada malah hawa panas. Lewat berbagai <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">umpatan, menebar kebencian. Seenaknya menafsirkan dalil pula. Puncaknya, yang tidak sehaluan dengan mereka, akan tega dituduh tidak diterima ibadahnya dan masuk neraka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka, dengan pongahnya, menyebarkan pesimisme perihal otoritas surga dan neraka. Jika mengikuti pendapat mereka, surga adalah jaminan. Jika berseberangan, neraka jadi ancaman. Seolah-olah mereka yang berhak memetakan siapa saja yang berhak dapat surga dan siapa yang layak menghuni neraka.<\/span><\/p>\n<p>Jujur, saya sebetulnya punya harapan tinggi atas kemunculan ustaz-ustaz baru, yang muda-muda. Senang, ketika pendakwah dan pemimpin agama bermunculan. Namun, yang muda-muda, kok, malah begitu. Oleh sebab itu, secara pribadi, saya selalu mencari ulama atau tokoh agama yang benar secara keilmuan dan mapan secara laku. Kembali kepada &#8220;mereka yang tua&#8221;, tapi memberi kesejukan, misalnya sosok Gus Baha&#8217;.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ceramahnya terasa mengayomi, menentramkan, dan selalu menularkan optimisme. Terutama ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Bukan saja soal iman saja.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Gus Baha&#8217;, optimis adalah perkara iman. Yakin dan percaya bahwa rahmat Tuhan itu luas. Tak meleset dengan definisi KBBI, yang memberi pengertian bahwa optimis berarti berpengharapan baik atas segala sesuatu. Maka dari itu, dalam menjalani kehidupan, baik berupa nikmat atau ujian, kita harus selalu optimis bahwa di balik semua itu terdapat hikmah dan kasih sayang Tuhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya Gus Baha&#8217; menjelaskan tentang diterima atau tidaknya suatu ibadah seorang hamba kepada Tuhan. Tak perlu bimbang akan hal ini. Menurut Gus Baha&#8217;, ibadah kita pasti diterima Tuhan. Kita harus optimis. &#8220;Karena menerima ibadah seorang hamba, bagi Tuhan, adalah persoalan gampang. Bahkan remeh sekali,&#8221; jelas Gus Baha&#8217;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang sangat perlu dirisaukan adalah jika kita beribadah, lalu mempunyai niat nyeleweng di dalamnya. Misalnya untuk ajang pamer, mengelabuhi gebetan, pura-pura saleh di hadapan calon mertua, dan niat-niat terselubung lainnya. Tujuan ibadah menjadi tidak murni.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hadis sahih (<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">mutafaqun<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">&#8216;alaih<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">), tertulis bahwa Tuhan itu sebagaimana prasangka hamba-Nya. Optimis termasuk berprasangka baik kepada Tuhan dan Ia senang jika hambanya tak meragukan kemahaan-Nya. Maka tindakan Tuhan selanjutnya juga dipengaruhi oleh sikap optimis hambanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam berprasangka baik, juga dipastikan kita tidak akan mudah kecewa, sakit hati, dan selalu ringan untuk bangkit. Kita senantiasa terhindar dari ekspektasi berlebih yang biasanya mengakibatkan kita jatuh tersungkur ke dalam sumur keterpurukan yang tak berujung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya isi ceramahnya yang mengandung optimisme, cara menyampaikan, gestur, dan segala gerak-gerik Gus Baha&#8217; selalu memancarkan optimis. Gus Baha&#8217; sama sekali tidak sungkan tertawa lebar bersama jemaah. Ia selalu mengajak mereka menertawakan nasib dan bergembira ria karena rida dengan keadaan, bagaimana pun beratnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kasus lain, Gus Baha&#8217; juga bersikap demikian. Dikelilingi maraknya ustaz-ustaz yang ringan mengafirkan dan menerakakan, Gus Baha&#8217; tampil elegan dengan mengajak umat agar optimis masuk surga. Tanpa menyesatkan yang berbeda pandangan atau seolah-olah telah memesan tiket surga di akhirat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gus Baha&#8217; selalu dengan santai dan mantap mengutip dalil klasik, bahwa kunci surga adalah percaya bahwa tiada Tuhan kecuali Allah. Modalnya tak memerlukan proses administrasi yang sulit, hanya yakin dan percaya bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu. Terutama perihal otoritas surga dan neraka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penjelasannya tidak berhenti di sini. Gus Baha&#8217; menekankan bahwa sesungguhnya amal dan ibadah kita tidak akan cukup untuk mengantarkan kita ke surga. Hanya Tuhan yang berhak menentukan itu. Jadi pada akhirnya, selain usaha, kita hanya perlu optimis kepada luasnya rahmat (kasih sayang) Tuhan.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pea\/komen\/kepsuk\/kiai-kampung-dan-sikap-kebijaksanaan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kiai Kampung dan Sikap Kebijaksanaan<\/a> atau tulisan lainnya dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-khozin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhammad Khozin<\/a> di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terminal Mojok<\/a>.<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Percaya bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu. Terutama perihal otoritas surga dan neraka.<\/p>\n","protected":false},"author":863,"featured_media":64869,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[225,7607,6440],"class_list":["post-64858","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-gus-baha","tag-ustaz-mualaf","tag-ustaz-seleb"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64858","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/863"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=64858"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64858\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/64869"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=64858"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=64858"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=64858"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}