{"id":64165,"date":"2020-07-19T11:54:03","date_gmt":"2020-07-19T04:54:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=64165"},"modified":"2020-07-19T11:54:03","modified_gmt":"2020-07-19T04:54:03","slug":"tafsir-lain-ramalan-jayabaya-perihal-masa-depan-jawa-yang-dipercaya-akurat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tafsir-lain-ramalan-jayabaya-perihal-masa-depan-jawa-yang-dipercaya-akurat\/","title":{"rendered":"Tafsir Lain Ramalan Jayabaya Perihal Masa Depan Jawa yang Dipercaya Akurat"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih dikenal sebagai seorang raja yang memimpin Kerajaan Kediri pada periode 1135-1157 Masehi, bagi masyarakat Jawa Prabu Jayabaya justru lebih masyhur sebagai peramal ulung. Banyak hal telah diramalkannya perihal masa depan bumi Jawa, baik tertulis dalam serat maupun secara tutur yang diwariskan turun-temurun. Hampir semua ramalan Jayabaya dianggap akurat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya yang populer di tengah masyarakat, perihal munculnya mode transportasi modern yang menandai datangnya zaman baru di Jawa. Ramalan tersebut berbunyi:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMbesuk yen wis ana kreta tanpa jaran\u201d (Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda. Maksudnya: kereta api.)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTanah Jawa kalungan wesi\u201d (Tanah Jawa berkalung besi. Maksudnya: rel kereta api yang melingkar atau membentang di seluruh tanah Jawa.)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPrahu mlaku ing dhuwur awang-awang\u201d (Kapal yang berjalan di udara. Maksudnya: kapal terbang\/pesawat.)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKali ilang kedhunge\u201d (Sungai mengering. Maksudnya: Hilangnya sumber mata air karena eksploitasi dan masifnya pembangunan. Lebih gampang diartikan, munculnya gedung-gedung tinggi.)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPasar ilang kumandhange\u201d (Pasar jadi sepi. Maksudnya: transaksi jual beli sudah beralih ke mal atau supermarket.)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIku tandane yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak\u201d (Tandanya zaman Jayabaya sudah kian dekat.)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara harfiah sih, masuk akal saja kalau maksud dari ramalan tersebut adalah perangkat-perangkat fisik yang mengiringi perubahan peradaban Jawa menuju zaman Jayabaya atau zaman kekacauan. Ada kereta api, pesawat, gedung tinggi, dan mal yang hari ini kesemuanya sudah kita saksikan. Itulah kenapa ramalan tersebut dinilai sangat tepat. Meminjam istilah orang-orang tua, \u201cJawa wis netepi titahe\u201d (Jawa sudah memenuhi titah Sang Prabu).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi saya justru berpikiran lain. Saya curiga jangan-jangan bukan itu maksud sebenarnya ramalan tersebut. Gini, leluhur bangsa Jawa itu terkenal sangat waskita. Apa pun pasti didasari oleh perhitungan intuitif, sehingga hasilnya\u2014berupa pitutur luhur maupun ajaran-ajaran lainnya\u2014bisa menyentuh Jiwa pendengar atau penerimanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak salah sih, kalau misalnya meyakini bahwa demikianlah makna sesungguhnya dari ramalan tersebut. Kalau saya pribadi, jujur, rasa-rasanya kok masih kurang jeru (kurang mendalam). Kurang menyentuh Jiwa kalau dirasa-rasakan. Ha mosok seorang raja yang waskita cuma sebatas ngeramal hal teknis dan permukaan. \u201cKreta tanpa jaran\u201d sebatas diartikan kereta api. Masih permukaan alias kurang substansial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, atas dasar kegelisahan itulah saya kemudian beriktikad meraba-raba tafsir lain. Berdasarkan hasil diskusi dengan beberapa kawan dan tentunya beberapa orang tua yang saya anggap paham tentang Jawa, ketemulah alternatif tafsir sebagai berikut.<\/span><\/p>\n<h4><b>Ramalan Jayabaya #1 Kreta tanpa jaran<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu alat transportasi yang terkenal di Jawa adalah cikar atau andong yang ditarik dengan kuda. Jadi lebih sering disebut kreta jaran (kereta kuda). Nah, pendapat mainstream mengaitkan ramalan ini pada jenis alat transportasi yang baru, sama-sama disebut kereta, tapi yang ini digerakkan oleh lokomotif, bukan kuda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi saya rasa bukan itu yang dimaksudkan Prabu Jayabaya. Kalau saya gini, jaran (kuda) itu ibarat penarik atau penuntun, sementara kretanya adalah yang dituntun. Bisa dibilang, maksudnya yaitu relasi antara pemimpin dengan umat. \u201cKreta tanpa jaran\u201d di sini adalah ketika masyarakat Jawa sudah kehilangan arah, tanpa sosok pemimpin yang benar-benar pemimpin. Dan ini sama akuratnya karena jika kita rasakan, nyatanya masyarakat Jawa memang kehilangan sosok yang bisa menuntun mereka.<\/span><\/p>\n<h4><b>Ramalan Jayabaya #2 <\/b><b>Tanah Jawa kalungan wesi<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika frasa ini sering dimaknai rel kereta api, kalau saya kok nggak begitu. \u201cKalungan wesi (berkalung besi)\u201d lebih saya identikkan dengan kecenderungan masyarakat Jawa yang hari ini lebih suka berkiblat pada paham atau ideologi dari luar sampai-sampai keteteran. Itulah kenapa analoginya berkalung besi. Untuk menggambarkan kondisi masyarakat Jawa yang kabotan (keberatan) dengan paham yang mereka anut. Lebih simpelnya, ramalan ini mengacu pada kondisi di mana \u201cWong Jawa wis ilang Jawane\u201d (orang Jawa sudah hilang kejawaannya).<\/span><\/p>\n<h4><b>Ramalan Jayabaya #3\u00a0<\/b><b>Prahu mlaku ning dhuwur awang-awang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Katanya sih, ini berkenaan dengan munculnya pesawat atau dalam istilah masyarakat Jawa disebut kapal terbang. Adapun tafsir lainnya, mungkin maksudnya adalah gambaran tentang kondisi masyarakat Jawa yang bisa dibilang lupa daratan. Prahu itu kan hakikatnya di air (bawah), lah ini kok ada prahu yang malah di awang-awang (atas). Secara sederhana bagian ini juga nggak jauh-jauh dari ungkapan, \u201cWong Jawa ilang Jawane,\u201d sih.<\/span><\/p>\n<h4><b>Ramalan Jayabaya #4 <\/b><b>Kali ilang kedhunge<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Umumnya dimaknai sebagai keadaan di mana bumi Jawa sudah tidak lagi ijo royo-royo gemah ripah loh jinawi, lantaran bentang alam yang sudah digantikan dengan masifnya geliat pembangunan. Hutan digunduli, sumber mata air ditimbuni, demi berdirinya gedung-gedung megah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kalau dipikir-pikir lagi, secara substansial barangkali dimaksudkan untuk orang Jawa yang sudah kehilangan kejernihan dan kedalaman batinnya. Karena kedhung dalam istilah Jawa itu merujuk pada bendungan air yang biasanya cukup dalam. Terbukti dengan dekadensi moral dan defisit pengetahuan yang dialami masyarakat Jawa era modern.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya, kalau dulu simbah-simbah kita bahkan bisa memberi pengajaran moral lewat mitos atau lagu-lagu dolanan, masyarakat Jawa hari ini hampir nggak ada yang bisa nyipatin hal serupa. Karena batin orang Jawa sekarang sudah nggak sejernih dan sedalam orang-orang Jawa tempo dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibaratnya lagi, orang Jawa adalah kali (sungai), sementara batinnya adalah kedhung. Jika kedhungnya hilang, maka hanya tinggal kalinya saja. Hakikat kali adalah mengalir saja, ikut arus. Bisa jadi dimaksudkan untuk menggambarkan keadaan masyarakat Jawa yang pada akhirnya hanya ikut arus, pasif, alias nggak bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.<\/span><\/p>\n<h4><b>Ramalan Jayabaya #5\u00a0<\/b><b>Pasar ilang kumandhange<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara harfiah bisa disebut sebagai masa transisi dari pasar ke mal, di mana pasar kalah pamor. Makannya frasanya, pasar ilang kumandhange (pasar hilang riuhnya). Tapi kalau mau lebih dalem lagi, pasar itu kan simbol terjalinnya hubungan sosial. Atau dalam bahasa agama disebut, \u201cHablun min al-nas\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan begitu, mungkin saja maksudnya adalah masa ketika sifat individualistis dan egoistis dalam diri masyarakat Jawa lebih dominan dibanding altruisme dan tenggang rasa. Atau bisa juga dimaknai sebagai kemerosotan kreativitas masyarakat Jawa karena kecenderungan konsumtivisme. Ya, pasar sudah tak riuh lagi. Masyarakat Jawa sudah meninggalkan tradisi berdagang dan pengembangan ekonomi kreatif. Semua beralih ke kebudayaan yang serbainstan.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/commons.wikimedia.org\/wiki\/File:Serat_Pramanasidi,_by_P._T._M._Ng._Mangoenwidjojo.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Wikimedia Commons<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/mhd\/esai\/selain-ken-arok-milenial-emang-doyan-kena-tipu-penguasa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Selain Ken Arok, Milenial Emang \u2018Doyan\u2019 Kena Tipu Penguasa<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aly-reza\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aly Reza<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada banyak ramalan Raja Jayabaya soal masa depan Jawa, baik tertulis dalam serat maupun dituturkan turun-temurun. Hampir semua dianggap akurat.<\/p>\n","protected":false},"author":540,"featured_media":65911,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[623,7917],"class_list":["post-64165","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-jawa","tag-ramalan-jayabaya"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64165","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/540"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=64165"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64165\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/65911"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=64165"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=64165"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=64165"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}