{"id":6363,"date":"2019-07-14T09:30:55","date_gmt":"2019-07-14T02:30:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=6363"},"modified":"2022-01-19T14:42:59","modified_gmt":"2022-01-19T07:42:59","slug":"pengalaman-diputuskan-mantan-kekasih-karena-belum-diterima-di-kampus-negeri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-diputuskan-mantan-kekasih-karena-belum-diterima-di-kampus-negeri\/","title":{"rendered":"Pengalaman Diputuskan Mantan Kekasih Karena Belum Diterima di Kampus Negeri"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tepat sembilan tahun yang lalu, saya diputuskan oleh seorang kekasih dengan alasan orangtuanya tidak menyetujui hubungan kami. Mengapa? Ya macam-macam. Mulai dari sifat kami yang katanya beda hingga <a href=\"https:\/\/mojok.co\/fnh\/esai\/dinasti-politik-mbulet-ala-klaten\/\">latar belakang keluarga<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian, saya hidup dengan mempercayai hal itu, menderita bertahun-tahun. Sampai kemudian ibunya meminta saya menjadi teman di media sosial dan memberi beberapa komentar di unggahan saya. Bukan, bukan <a href=\"https:\/\/tirto.id\/kasus-ay-kok-bisa-anak-perempuan-merisak-sesamanya-dlCY\">komentar jahat<\/a> macam <a href=\"https:\/\/medan.tribunnews.com\/2018\/10\/09\/dulu-tokoh-antagonis-paling-terkenal-kini-leily-sagita-jualan-keripik-singkong\">peran-peran mertua Leily Sagita<\/a>, melainkan komentar hangat bak seorang teman lama yang sudah bertahun-tahun tak bersua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua orang waras tentu tahu, bahwa seorang ibu atau ayah yang tak suka dengan pacar anaknya, tak akan pernah mau menjalin hubungan baik dengannya. Kecuali mungkin, tiba-tiba pacarnya ini berubah jadi cakep maksimal, kaya maksimal, dan juga jadi presiden. <\/span>Namun, hidup saya ya masih begitu-begitu saja. Miskin tidak, tetapi tidak menonjol sekali. Bukan seseorang yang akan membuat calon-calon mertua berubah pikiran. Jadi, apakah ini?<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah melewati renungan malam beberapa hari, ditambah dengan kepala yang berat akan kenangan, saya jadi paham akan satu hal: saya ditinggalkan karena dulu belum dapat kampus negeri. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Saya lulus kampus negeri di saat-saat kritis. Ibaratnya, hanya doa orangtua saja yang bisa membuatmu lolos. Di zaman saya dulu, belum ada sistem ujian duluan, lalu masuk kampus duluan. Pada saat itu, kampus-kampus negeri begitu rakus mencari uang puluhan hingga ratusan juta lewat jalur ujian mandiri yang dibuka berkali-kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan hanya nilai tes, yang mempengaruhi kelolosanmu adalah besar-kecilnya uang pangkal yang kamu masukkan saat melakukan pendaftaran daring. Saya sampai bingung: ini tes kampus negeri, atau lelang rumah? Namun begitulah faktanya dan saya harus hidup melewati hal itu.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mantan kekasih saya yang lumayan kaya dan sangat rajin itu sudah bisa masuk ke salah satu kampus terbaik negeri dengan mulus. Bayar puluhan juta tidak masalah. Toh katanya, kepintaran tetap dinilai. Katanya, sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di masa-masa sulit itu, saya begitu tertekan mengikuti berbagai macam ujian mandiri. Kalau ditotal, uang pendaftaran yang saya keluarkan mungkin setara dengan uang semesteran.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja, kalau satu kampus negeri mematok uang pendaftaran sebesar seratus lima puluh ribu rupiah sampai dua ratus lima puluh ribu rupiah, sudah berapa banyak uangmu yang hilang apabila ada sepuluh kampus negeri yang kamu daftar?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang benar kata orangtua saya dulu. Masuk ke kampus negeri tidak selamanya menjamin kalau kamu pintar. Banyak yang masuk karena beruntung, pintar memilih jurusan yang tak banyak saingan, punya kenalan, dan tentu punya uang banyak. Itu dulu. Sekarang, semoga lebih baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ah, kembali lagi ke mantan kekasih saya itu, intinya, dia begitu kesal dan menyalahkan saya yang tak kunjung masuk ke kampus negeri. Katanya, saya salah strategi, salah belajar. Padahal, saya sudah melahap banyak buku kisi-kisi ujian mandiri dan SNMPTN (sebelum namanya berubah jadi SBMPTN).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu hari, saat saya datang ke kota barunya, kota tempatnya akan menuntut ilmu, untuk mendaftar di kampus negeri di kotanya, dia pun bilang bahwa dia amat sayang pada saya. Segala kata, senyuman, sentuhan, semuanya itu merupakan tanda bahwa cintanya pada saya belum tergerus.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Itu adalah hal yang kemudian menyemangati saya untuk bisa masuk ke kampus negeri di kota yang sama dengannya. Ah, cinta. Cinta adalah bahan bakar, bukan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, keesokan harinya, usai saya merampungkan tes, dia bilang pada saya\u2014<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ibuku kayaknya nggak setuju deh sama hubungan ini.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Ouch, sampailah saya pada titik terendah kehidupan. Belum tahu harus kuliah di mana, pacar memutuskan dengan alasan eksternal, dan uang makin menipis karena mendaftar ke mana-mana. Itulah saat terakhir saya bertemu dengannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa bulan setelahnya, saya diterima di kampus negeri. Selang satu minggu setelah saya menuliskan nama kampus saya di biodata Facebook\u2014eh, dia mengirim pesan, &#8216;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hai, gimana kabarmu, selamat ya, kamu sudah diterima di universitas xxx. Sudah cari kos?&#8217;<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa cinta saya kepadanya masih besar, tetapi itu sebanding dengan rasa sakit hati diputuskan mendadak. Saya hanya jawab, ya, baik, sudah. Tidak ada pertanyaan terbuka untuknya. Dan dia, saya rasa tahu bahwa itu merupakan bentuk penolakan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Untung\u2014atau sedihnya\u2014kami berkuliah di kampus yang berbeda, menjalani studi di jurusan yang nuansanya bertolak belakang, dan hingga kini, bekerja di bidang yang sama sekali tidak berhubungan. Seperti kata Kahitna dalam lagu Mantan Terindah\u2014<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">engkau di sana, aku di sini.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau saja saya berkuliah di kota yang sama dengannya, mungkin sulit bagi saya untuk pindah hati alias <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">move on. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Akan sangat menyakitkan menjalani hubungan dengan orang yang, kalau dipikir dengan nalar, ternyata mendewakan hal-hal bersifat akademis semacam itu. Ya, setelah tak lagi cinta dengannya dan setelah berteman dengan ibunya, saya baru berpikir kalau mantan kekasih saya ini tipikal orang yang menilai orang lain hanya dari kampusnya, jurusannya, nilai rapornya, dan kalau perlu nilai NEM.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan saya tidak menyesal sih, putus dengan dia. Karena sebagai manusia, kok saya merasa kesal apabila nilai diri saya cuma diasosiasikan dengan kelulusan di kampus negeri. Ini lebih menyakitkan daripada tidak diterima sama sekali, bukan?<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ah, kembali lagi ke mantan kekasih saya itu, intinya, dia begitu kesal dan menyalahkan saya yang tak kunjung masuk ke kampus negeri. <\/p>\n","protected":false},"author":147,"featured_media":6904,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12912],"tags":[1712,1713,737,1578,1184],"class_list":["post-6363","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sapa-mantan","tag-diputusin","tag-kampus-negeri","tag-mantan-kekasih","tag-pengumuman-sbmptn","tag-sbmptn"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6363","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/147"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6363"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6363\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6904"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6363"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6363"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6363"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}