{"id":63172,"date":"2020-09-12T10:04:23","date_gmt":"2020-09-12T03:04:23","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=63172"},"modified":"2022-01-20T15:31:06","modified_gmt":"2022-01-20T08:31:06","slug":"lorong-waktu-episode-4-musim-1-rahasia-haji-husin-terungkap","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lorong-waktu-episode-4-musim-1-rahasia-haji-husin-terungkap\/","title":{"rendered":"Lorong Waktu Episode 4, Musim 1: Rahasia Haji Husin Terungkap"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih ingat dengan peristiwa durian yang mengecil dan kebingungan Haji Husin karena tiba-tiba pecinya longgar? Di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lorong Waktu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> episode 4 ini, Ustad Addin tampak menggalaukan hal itu. Maunya sih, Haji Husin dan Zidan nggak perlu tahu ada yang aneh dari diri mereka. Tapi, nyatanya Haji Husin sadar berat badannya memang berkurang dan masih bertanya-tanya kenapa pecinya tiba-tiba kebesaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lorong Waktu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> episode 4 ini juga ada satu lagi rahasia Haji Husin yang terungkap. Namun, kita lihat dulu Ustad Addin yang lagi mengajar murid-muridnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kepada murid-muridnya, Ustad Addin menceritakan kisah tentang hubungan orang tua dan anak. \u201cTapi akhirnya, sang Ibu memaafkan segala kesalahan yang diperbuat anaknya dan akhirnya anaknya meninggal dengan tenang. Oke, jadi hikmah apa yang bisa kalian ambil dari kisah tadi?\u201d tanya Ustad Addin pada murid-muridnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Zidan mengacungkan tangan lalu menjawab, \u201cJangan mati sebelum minta maaf sama orang tua,\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOrang tua harus pemaaf, sebab bisa bikin anak sengsara,\u201d kata murid di samping Zidan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, tapi anak-anak harus ngerti dong perasaan ibu. Ibu kan udah capeeekkk banget mengandungi adek bayi selama tujuh bulan,\u201d Ayu ikut berpendapat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEh, salah, yang benar Sembilan bulan,\u201d murid lain membetulkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi, Ayu lahirnya pas tujuh bulan kok!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cItu namanya Ayu lahir dalam keadaan provokator, hahaha,\u201d kata Zidan sok tahu<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBukan provokator, tapi prematur karena Ayu sudah tidak sabar ingin ketemu dengan mamanya,\u201d Ustad Addin meluruskan. Hadeeeh, si Zidan nih!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengakhiri pelajaran hari itu, Ustad Addin menyampaikan, \u201cJadi, rida Allah tergantung pada rida orang tua. Maka, berbaktilah selalu pada orang tua.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesampainya di rumah, pesan itu terngiang-ngiang di kepala Zidan, membuatnya susah tidur. Zidan akhirnya memilih mendatangi kamar papa dan mamanya. Di kamar, papa Zidan baru saja terjatuh dari tempat tidur dan membuat mama Zidan terbangun. Kepada papanya, Zidan mengajak mengunjungi rumah kakek dan neneknya, tetapi papa Zidan menolak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Papa Zidan ternyata berselisih paham dengan bapaknya, kakek Zidan. Papa Zidan tidak setuju Zidan terlalu dimanja, sementara Kakek menganggapnya wajar, namanya juga cucu satu-satunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang kita balik lagi ke Haji Husin dan Ustad Addin di masjid. Haji Husin masih penasaran kenapa kepalanya tiba-tiba mengecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDari rumusan program yang saya buat sudah jelas tidak ada kesalahan. Perhitungannya sudah tepat dan sesuai prosedur,\u201d kata Ustad Addin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalo tepat, kenapa pale gue kecil waktu balik kemari?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBerarti ada pelanggaran prosedur, kita melakukan penyimpangan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKita???\u201d protes Haji Husin, \u201cElu yang melakukan penyimpangan. Elu yang salah. Salah lu, bawa-bawa gue, lu. Gue sama Zidan kan cuma pasang badan, Din, istilahnye. Gue diri bedua die. Abis itu gue jadi kunang-kunang deh. Brrr, gitu. Lu pencet deh tombolnya. Plok. Bles. Gua pegi, ngilang. Nah, gua pegi, elu yang ngatur. Gua balik lagi kemari, elu yang atur juga. Gue, lu salahin. Enak aje lu. Elu yang sale!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara Haji Husin ngomong panjang lebar, Ustad Addin cuma senyum-senyum sendiri mendengarnya. Mungkin sudah terbiasa dengan tingkah Haji Husin yang ngegas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah sempat berpikir beberapa saat, Ustad Addin mulai tahu di mana letak permasalahannya. Ia tiba-tiba menggebrak meja, membuat Haji Husin terkejut. Saking kagetnya Haji Husin langsung memeragakan adegan silat. Bikin ngakak meski ditonton berulang kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, permasalahannya memang soal waktu. Haji Husin dan Zidan terlalu lama berada di masa lalu. Waktu itu Haji Husin dan Zidan terlambat 10 menit dari waktu yang seharusnya cuma 2 jam. Gara-garanya ya mati listrik di masjid.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAntara waktu kunjung dengan memori komputer saya berbanding terbalik. Makin lama objek itu di sana, maka makin besar pula memori yang dibutuhkan. Akibatnya, bobot dan bentuk benda itu akan menyusut,\u201d jelas Ustad Addin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTerus, terus, hubungannya ama kepale gue gimane?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai jalan keluar, Ustad Addin menyarankan Haji Husin makan lebih banyak. Haji Husin jelas nggak terima. Namun, Ustad Addin nggak peduli. Mereka berdua kemudian masuk ke kamarnya Ustad Addin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu masuk ke kamar, betapa terkejutnya mereka ketika melihat bahwa Zidan sudah siap sedia di tempat pengiriman objek, lengkap dengan roket-roketan alias Komunikator 2000 di tangannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak Ustad, Zidan sudah siap dikirim,\u201d seru Zidan dengan penuh semangat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEh, bocah. Lu mau ke mane? Ah, ngapain lu di sini? Ah!\u201d semprot Haji Husin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cZidan mau ketemu kakek dan nenek! Zidan udah kangeeen banget sama kakek dan nenek!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah kenapa kok bisa, Haji Husin dan Ustad Addin lagi-lagi patuh sama Zidan. Dikirimlah mereka berdua menemui kakek dan nenek Zidan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, di sini kesalahan terjadi lagi. Alih-alih sampai ke rumah tujuan, Haji Husin malah nyantol di tiang bendera depan masjid. Ustad Addin panik, Haji Husin langsung ngoceh kayak biasa. Setelah puas, dia bergegas menuju kamar Ustad Addin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ustad Addin coba menenangkan Haji Husin. Ia lalu meneliti layar komputer. Di sana muncul tulisan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">frekwensi negatif\u201d. Di sinilah rahasia Haji Husin terbongkar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMaaf yah, Pak Haji. Waktu proses pengiriman berlangsung, perasaan Pak Haji apa?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPerasaan?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, Pak Haji,\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hening sejenak karena Haji Husin sedang berpikir, tidak berapa lama ia menyadari apa yang keliru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAstagfirullahaladzim. Astagfirullahaladzim. Ya Allah. Ya, tadi sempat sedetik dua detik gue inget ame si Romlah,\u201d aku Haji Husin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cRomlah?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHo oh. Neneknya Zidan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak Haji kenal?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYe, gue jadi malu, gue. Dulu waktu masih mude-mude, zaman perjuangan dulu kan gue pernah\u2026 pernah pacaran ame si Romlah<\/span><b>.<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Terus tadi, sempat sedetik dua detik, ape tuh, rasanya gue kangen bener. Padahal kan mustinya kagak boleh. Ya Allah. Si Romlah kan sudah jadi bini orang. Astagfirullahaladzim. Ini komputer lu tahu aje. Dia aja tahu apalagi yang Mahatahu, Allah. Gue jadi malu dah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tempat lain, Zidan sudah sampai di rumah kakek dan neneknya. Mendarat di dalam kurungan ayam. Kebetulan kakek dan neneknya Zidan memang lagi ngebahas papa Zidan. Kakek Zidan sebenarnya kangen sama Zidan, tetapi gengsi berkunjung duluan. Kakek Zidan juga lagi masuk angin. Ia lalu minta dikeroki istrinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika tahu Zidan datang, kakek dan neneknya sangat bahagia. Sementara itu, di kamarnya Ustad Addin, Haji Husin nggak berkedip melihat neneknya Zidan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kunjungan Zidan selesai. Ia dipulangkan sepaket dengan oleh-oleh dari kakek-nenek. Ada buah nanas, kelapa, dan kacang panjang segala macem.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesampainya di rumah, Zidan langsung menyampaikan apa yang terjadi pada kakeknya kepada Papa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPah, Kakek sakit.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTahu dari mana kamu?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKontak batin, Pah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, iya, iya. Nanti Lebaran kita ke sana yah?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKenapa musti nunggu lebaran, Pah. Kata Ustad Addin, silaturahmi itu bisa setiap saat, Pah,\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Papanya Zidan pun langsung merenung. Ya udah, gitu aja akhir <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lorong Waktu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> episode 4. Hahaha.<\/span><\/p>\n<p><strong>Ikuti sinopsis\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/lorong-waktu-musim-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Lorong Waktu musim 1<\/a>\u00a0di sini serta tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/utamy-ningsih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Utamy Ningsih<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<div><\/div>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dahsyat banget mesin waktunya Ustad Addin, sampe bisa tahu perasaan segala.<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":76258,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13082],"tags":[292,8714,7000],"class_list":["post-63172","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sinetron","tag-lorong-waktu","tag-lorong-waktu-musim-1","tag-sinopsis-sinetron"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63172","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=63172"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63172\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/76258"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=63172"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=63172"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=63172"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}