{"id":62416,"date":"2020-07-14T11:08:40","date_gmt":"2020-07-14T04:08:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=62416"},"modified":"2020-07-14T11:08:40","modified_gmt":"2020-07-14T04:08:40","slug":"membandingkan-ari-lasso-dan-once-adalah-kesia-siaan-tingkat-dewa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/membandingkan-ari-lasso-dan-once-adalah-kesia-siaan-tingkat-dewa\/","title":{"rendered":"Membandingkan Ari Lasso dan Once Adalah Kesia-siaan Tingkat Dewa"},"content":{"rendered":"<p>Satu bahasan yang tak ada habisnya mengelinding kalau ngomongin Dewa 19, meskipun kini band ini tinggal tersisa separuh nafas saja dengan format reuninya, yaitu tentang siapa yang lebih baik antara Ari Lasso dan Once.<\/p>\n<p>Pergantian vokalis membuat Dewa 19 tak lagi sama sekaligus membelah dua masa dan dua fans yang masih saja berdebat. Sebenarnya sia-sia memperdebatkan hal ini, bukan karena otak dan jantung band ini tetap sama, yaitu Ahmad Dhani dan Andra Ramadhan, juga ada alasan-alasan lain.<\/p>\n<h4><strong>Alasan Ari Lasso dan Once nggak perlu dibanding-bandingkan #1 Landasannya cuma kenangan<\/strong><\/h4>\n<p>Pertama, kebanyakan perdebatan didasarkan pada memori pendengarnya. Saya ingat ketika berbincang dengan penjual martabak yang mengaku sebagai Baladewa, sebutan fans Dewa 19, dengan yakin dia menyatakan Dewa 19 yang dia kenal ya Dewa 19-nya Ari Lasso, selebihnya bukan Dewa 19 lagi.<\/p>\n<p>Gofar Hilman pernah mengatakan ini kepada Ari Lasso dalam acara Ngobam miliknya. Ari Lasso sih tenang saja menimpali, \u201cNggak gitu, itu karena kamu besarnya di era Ari Lasso saja.\u201d Sebaliknya, kalau saya nanya mas-mas yang jual mi ayam di depan kos, dia ya ingatnya vokalis Dewa 19 tuh Once karena teringat memori SMA-nya.<\/p>\n<p>Seperti halnya cinta pertama yang selalu membekas gitu lah. Membandingkan keduanya hanya berdasarkan kenangan, jadi cuma arogansi antargenerasi.<\/p>\n<h4><strong>Alasan Ari Lasso dan Once nggak perlu dibanding-bandingkan <\/strong><strong>#2 Dua-duanya sama-sama sukses dan berkarakter<\/strong><\/h4>\n<p>Ari Lasso pernah membuat statement bahwa Dewa 19 harus berterima kasih kepadanya karena dengan hengkang Ari dari Dewa 19, band ini malah makin sukses. Ukurannya ada pada angka penjualan album. Album yang lagu-lagunya dinyanyikan Once, kayak <em>Bintang Lima<\/em>, bisa laku 1,7 juta keping. Album <em>Cintailah Cinta<\/em> juga sama suksesnya.<\/p>\n<p>Tapi\u2026 kalau bicara album apa yang paling legendaris, tetap <em>Terbaik-Terbaik<\/em> jawabannya. Seperti namanya, album ini langganan bertengger di daftar album musik terbaik sepanjang masa versi beberapa media.<\/p>\n<h4><strong>Alasan Ari Lasso dan Once nggak perlu dibanding-bandingkan <\/strong><strong>#3 Musiknya beda<\/strong><\/h4>\n<p>Dewa 19 menciptakan lagu sesuai karakter vokalis. Itulah kenapa agak aneh membayangkan \u201cCukup Siti Nurbaya\u201d, \u201cCinta Kan Membawamu\u201d, atau \u201cKirana\u201d bisa pantas di telinga jika dinyanyikan Once. Begitu juga sebaliknya, Ari Lasso kadang kelabakan menyanyikan \u201cArjuna\u201d dan terdengar aneh saat membawakan \u201cPupus\u201d dan \u201cRisalah Hati\u201d.<\/p>\n<p>Tapi kenapa beberapa lagu lebih enak dibawakan salah satunya walaupun bukan lagunya ya?<\/p>\n<p>\u201cRoman Picisan\u201d misalnya, menurut beberapa orang lebih enak di versi Ari Lasso. Saya sempat nguli-ngulik soal ini dan ternyata lagu ini emang dibuat untuk Ari Lasso kok. Bahkan ada rekaman versi Ari Lasso sebelum ada versi Once. Sampai-sampai, saat rekaman suara Ari Lasso dimasukkan untuk membantu Once yang kesulitan membawakan lagu ini. Dengerin deh bagian reff-nya.<\/p>\n<p>Ari Lasso dengan suara tinggi bersihnya mengiringi masa muda personil Dewa 19 dengan lirik puitis dan kritik sosial, yang dikemas dalam aransemen khas Dewa 19\u2014yang di masanya yang sering disebut \u201crock romantic\u201d. Sementara Once dengan suara tinggi seraknya mengiringi pendewasaan personil Dewa 19 dengan musik berwarna baru yang lebih pop serta lirik yang kental ajaran sufisme. Dua warna berbeda yang sama-sama dibawakan apik dengan gayanya masing-masing.<\/p>\n<p>Sama seperti Ronaldo dan Messi, bubur diaduk dan enggak, Naruto atau One Piece, membandingkan keduanya nggak bakal ada habisnya. Jika bisa menikmati keduanya, kenapa capek-capek berdebat soal mana yang lebih baik sih?<\/p>\n<p><em>Sumber gambar: Instagram <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/B655ajihPeM\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">@de19wa<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/red\/komen\/status\/ari-lasso-dan-uji-pendengaran-kalimat-misterius-di-lagu-dewa-19\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ari Lasso dan Uji Pendengaran Kalimat Misterius di Lagu Dewa 19<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dicky-setyawan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Dicky Setyawan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sama seperti Ronaldo dan Messi, bubur diaduk dan enggak, Naruto atau One Piece, membandingkan keduanya nggak bakal ada habisnya.<\/p>\n","protected":false},"author":783,"featured_media":64718,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[7796,7283,2698,7797],"class_list":["post-62416","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-ari-lasso","tag-dewa-19","tag-musik-indonesia","tag-once"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62416","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/783"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=62416"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62416\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/64718"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=62416"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=62416"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=62416"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}