{"id":62301,"date":"2020-10-05T17:32:05","date_gmt":"2020-10-05T10:32:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=62301"},"modified":"2022-01-20T15:33:52","modified_gmt":"2022-01-20T08:33:52","slug":"lorong-waktu-episode-11-musim-1-pelajaran-tentang-sedekah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lorong-waktu-episode-11-musim-1-pelajaran-tentang-sedekah\/","title":{"rendered":"Lorong Waktu Episode 11, Musim 1: Pelajaran tentang Sedekah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lorong Waktu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> episode 10 Haji Husin dan\/atau Zidan yang berpetualang, kali ini bukan mereka berdua, melainkan seseorang bernama Pak Darmawan. Di <em>Lorong Waktu<\/em> episode 11 ini sebenarnya Zidan juga \u201cikut\u201d berpetualang sih, tetapi bukan atas kemauan dia dan bukan diberangkatkan Ustad Addin. Entah bagaimana ceritanya, Zidan bisa ada pada dimensi waktu yang sedang dikunjungi oleh Pak Dermawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Darmawan adalah seseorang yang rajin beribadah dan suka bersedekah. Harta yang dia punya sering disedekahkan bagi kaum fakir miskin. Sayangnya, perbuatan baik Pak Darmawan itu tidak tulus. Itu karena setiap dia membagikan sedekah disertai dengan perasaan sombong dan pamer. Setiap kali membagikan sedekah, ada tukang foto yang siap mengabadikan momen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga suatu hari, saat sedang salat, dia didatangi seseorang dengan penampilan lusuh dan kotor yang selama ini hanya berdiri di luar pagar (di bawah pohon) setiap kali Pak Darmawan membagikan sedekah. Seseorang yang berpenampilan lusuh dan kotor itu mengaku diri bernama Fakir. Seusai salat, Pak Darmawan menyapa Pak Fakir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBa-Bapak ini siapa? Kenapa ada di sini?\u201d tanya Pak Dermawan kepada Pak Fakir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya datang untuk memberi peringatan kepada kamu tentang kesalahan-kesalahan kamu,\u201d jawab Pak Fakir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAh, kesalahan? Apa kesalahan saya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKesalahan kamu adalah kamu tidak tahu bahwa kamu telah berbuat salah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOh\u2026 saya baru ingat sekarang. Saya sering melihat Bapak berdiri di bawah pohon ketika saya membagi-bagikan sedekah. Bapak belum mendapatkan sedekah dari saya? Tunggu, akan saya ambil!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya tidak memerlukan sedekah dari kamu, meskipun saya berhak.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadi apa yang bisa saya lakukan untuk menolong Bapak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAku tidak memerlukan pelayanan kamu. Aku justru datang kemari untuk membantu kamu memperbaiki kesalahan-kesalahan kamu. Menyelamatkan amal ibadah kamu. Ini berikan kertas ini kepada seorang ustad yang bernama Addin. Cari di Masjid Siti Rawani. Dia akan membawa kamu ke tempatku. Ingat, kertas ini tidak boleh kamu buka, kecuali kamu akan menjadi orang yang celaka, yang tidak bisa dipercaya. Hanya Ustad Addin yang berhak.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Fakir kemudian memberi selembar kertas (berisi tulisan) yang terlipat kepada Pak Darmawan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Pak Darmawan pun menerima kertas tersebut. Setelah itu, Pak Darmawan akhirnya siap dikirimkan sesuai perintah Pak Fakir di kertas yang diberikan untuk Ustad Addin. Pak Darmawan bukan cuma tidak didampingi oleh Haji Husin ataupun Zidan, tetapi juga tidak dibekali Komunikator 2000. Haji Husin sempat mengingatkan Ustad Addin perihal Komunikator, tetapi kata Ustad Addin memang sengaja nggak dibawa. itu sesuai perintah Pak Fakir yang disebut Ustad Addin sebagai hamba Allah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah sampai di tujuan, Pak Darmawan sangat kebingungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa Allah, saya ada di mana? Ya Allah, saya ada di mana?\u201d Pak Darmawan bertanya-tanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKamu sedang berada di dunia sanubarimu. Aku Fakir yang akan membantumu untuk melihat kesia-siaanmu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, tapi kenapa harus seorang fakir?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKarena manusia tidak memiliki apa-apa, heh, selain yang dititipkan Allah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, tiba-tiba gelap gulita. Haji Husin panik. Setelah dijelaskan Ustad Addin, Haji Husin semakin penasaran. Saking antusiasnya, Haji Husin meminta tukaran tempat dengan Ustad Addin. Kali ini Haji Husin yang duduk di depan layar komputer. Oleh Ustad Adddin, Haji Husin diperingatkan untuk menjaga jarak agar jari-jarinya tidak menyentuh keyboard<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Menuruti peringatan Ustad Addin, Haji Husin pun memosisikan tangannya seperti seekor kucing yang siap menerkam mangsanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKenapa tiba-tiba menjadi gelap dan sunyi?\u201d Pak Darmawan kebingungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKarena hanya dalam kegelapan kita memerlukan cahaya dan hanya dalam kesunyian kita bisa melihat diri kita sendiri.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seketika muncullah sebuah tayangan yang menampilkan seseorang yang sedang membawa ember bocor berisi air. Air yang keluar dari ember tersebut membasahi tanah yang ditumbuhi tanaman. Setelah disimak lebih lanjut, orang yang membawa ember bocor berisi air tersebut adalah Pak Darmawan. Melihat dirinya ada di dalam tayangan itu, Pak Darmawan bertanya kepada Pak Fakir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cFakir, bukankah itu saya, Fakir?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTidak salah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBodoh betul dia. Harusnya kan dia mengganti dengan ember baru.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHe, orang itu, atau yang sebenarnya kamu, hanya memiliki ember-ember yang bocor.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTolong jelaskan, Fakir.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAir yang kamu bawa itu adalah amal ibadahmu yang terbuang sia-sia sepanjang hidup kamu. Air itu menyirami dan menyuburkan tanah yang kau lewati, tapi tidak berguna bagi kamu sama sekali.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya tidak mengerti kenapa amal ibadah saya jadi sia-sia, Fakir?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKarena ember-ember itu telah kamu lubangi dengan rasa kebanggaan dan sifat pamermu. Setiap kali kamu bersedekah, kamu ingin mendapatkan pujian, kamu memamerkan harta kekayaan. Padahal semua itu adalah milik Allah. Kamu tidak akan mendapatkan pahala yang layak karena kamu telah merasa berbuat baik. Itu akan menjauhkan kamu dari rida Allah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar ucapan Pak Fakir, Pak Darmawan hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca. Haji Husin yang ikut menonton pun tampak sangat serius menyimak. Ternyata, tayangan tentang perbuatan Pak Darmawan tidak cukup sampai di situ.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAkan kuperlihatkan lagi yang lain bahwa sesungguhnya kau telah berbuat syirik.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNaudzubillahimindzalik. Fakir, saya seorang muslim, saya hanya menyembah Allah yang mahatunggal,\u201d kata Pak Darmawan sambil berteriak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKenyataannya tidak begitu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada tayangan selanjutnya, Pak Darmawan tampak menyembah pada diri sendiri yang sedang menggunakan pakaian layaknya seorang raja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTidak, tidak. Tidak mungkin, Fakir.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKamu terlalu bangga terhadap diri kamu. Menepuk dada di balik sukses dan kemapananmu. Setiap kali kamu merasa lebih tinggi ketika kamu memberikan sedekah sehingga kamu tidak merasakan bahwa orang-orang itu sebagian merasa malu menerima sedekah dari kamu. Eeeh, pujian sudah melupakan Tuhan bagimu. Kamu selalu menceritakan tentang kebaikan-kebaikan kamu pada semua orang. Seolah-olah orang yang menerima sedekahmu telah berutang seisi dunia kepada kamu. Eeehhh, padahal mereka sedang menolong kamu, agar kamu bisa berbuat amal.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cCukup, Fakir, cukup. Tolong jangan diteruskan, Fakir. Saya sudah tidak kuat lagi. Saya sudah tidak kuat lagi, Fakir,\u201d pinta Pak Darmawan sambil menangis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHaaa, kamu pikir diri kamu siapa? Kamu nyaris menganggap diri kamu adalah Tuhan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat keadaan Pak Darmawan yang sudah menyadari kesalahannya dan menangis terisak, Haji Husin jatuh iba. Dia meminta Ustad Addin untuk memulangkan Pak Darmawan, tetapi Ustad Addin menolak karena memang begitulah perintah Pak Fakir alias hamba Allah. Petualangan baru bisa selesai kalau Pak Fakir yang memerintahkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Balik lagi ke perjalanan Pak Darmawan, dalam keadaan berjongkok, pundaknya disentuh oleh Pak Fakir dan membuat Pak Darmawan berdiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMasih juga kau akan menyiksaku, Fakir?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKamu lebih baik tersiksa di sini sekarang daripada di akhirat kelak. Aku akan menunjukkan satu hal lagi, agar kamu benar-benar sadar.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya muncullah tayangan yang menampilkan Zidan sedang mengajarkan huruf hijaiah kepada Pak Darmawan. Melihat Zidan ada di sana, Ustad Addin merasa heran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNggak ada yang nggak mungkin, Din. Ilmu Allah nggak keukur. Di atas langit masih ada langit. Lu ingat nggak kisahnya Nabi Musa? Die kan musti belajar lagi dari Nabi Khidir. Yeee, nggak?\u201d kata Haji Husin kepada Ustad Addin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, melihat tayangan tersebut, Pak Darmawan lagi-lagi belum paham.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa artinya, Fakir?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cArtinya, kebesaran yang kamu miliki masih jauh di bawah anak kecil yang masih suci itu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya semakin tidak mengerti, Fakir. Tolong jelaskan!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIlmu yang kamu miliki, kebesaran yang kamu punya, tidak membawa apa-apa bagi dirimu. Ilmu bukan cuma sekadar perhitungan-perhitungan dari gejala-gejala alam, tapi juga menuntut kerendahan hati. Menuntut kepasrahan hati yang suci terhadap Sang Maha Pencipta karena Dia-lah pemilik segala ilmu. Kita hanya diberikan sediiikit saja. Nah, masih beranikah kamu menyombongkan diri dengan segala sesuatu yang milik Allah? Kamu bahkan tidak lebih besar dari seekor semut yang sedang merayap di atas sebuah jeruk.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAllahuakbar,\u201d ucap Haji Husin setelah melihat tayangan Pak Darmawan dan Pak Fakir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau begitu, apa orang bodoh bisa dibilang lebih beruntung, Pak Haji?\u201d tanya Ustad Addin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau soal nyari rida Allah, orang pinter lebih punya banyak kesempetan. Selama dia beriman.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita tentang petualangan Pak Darmawan dan Pak Fakir selesai sudah. Pak Fakir memerintahkan Ustad Addin untuk melakukan perintah-perintah selanjutnya yang sudah dia tulis di kertas. Pak Darmawan dan Zidan pun dipulangkan ke rumah masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Zidan yang merasa bermimpi lalu terbangun langsung bertanya sendiri. \u201cKalau jadi guru, gajinya gede nggak, yah?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengetahui Pak Darmawan tidak kembali ke ruangan Ustad Addin, Haji Husin yang masih dalam posisi seperti kucing yang hendak menerkam, mempertanyakan hal tersebut kepada Ustad Addin. Lagi-lagi hal tersebut (Pak Darmawan tidak kembali ke ruangan Ustad Addin) karena sesuai tugas atau perintah yang diberikan oleh Pak Fakir. Sebagai tugas terakhir, kertas\/surat dari Pak Fakir itu kemudian dibakar oleh Ustad Addin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Lorong Waktu<\/em> episode 11 ditutup dengan Pak Darmawan yang kembali membagikan sedekah seperti biasanya. Bedanya, kali ini tidak ada dokumentasi, Pak Darmawan bahkan menolak ketika diberi pujian oleh penerima sedekah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Fakir yang biasanya hanya melihat dari bawah pohon saat Pak Darmawan membagikan sedekah, kali ini sudah mendekat dan meminta langsung sedekah kepada Pak Darmawan. Pak Fakir menerima sedekah itu sambil tersenyum kepada Pak Darmawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di seberang jalan, ada Haji Husin, Zidan, dan Ustad Addin yang ikut melihat pembagian sedekah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak Haji, Pak Haji, kayaknya Zidan pernah ketemu sama orang itu,\u201d kata Zidan sambil menunjuk Pak Darmawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEh, lu mustinya merasa bersyukur karena lu pernah ketemu ame orang yang diberi hidayah oleh Allah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari depan rumahnya, Pak Darmawan yang sedang membagikan sedekah menatap Haji Husin, Zidan, dan Ustad Addin dengan tatapan heran.<\/span><\/p>\n<p><strong>Ikuti sinopsis\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/lorong-waktu-musim-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Lorong Waktu musim 1<\/a>\u00a0di sini serta tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/utamy-ningsih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Utamy Ningsih<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seorang dermawan diberi hidayah oleh Allah lewat perantara mesin waktu Ustad Addin.<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":76258,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13082],"tags":[292,8714,7000],"class_list":["post-62301","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sinetron","tag-lorong-waktu","tag-lorong-waktu-musim-1","tag-sinopsis-sinetron"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62301","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=62301"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62301\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/76258"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=62301"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=62301"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=62301"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}