{"id":62007,"date":"2020-09-28T13:30:48","date_gmt":"2020-09-28T06:30:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=62007"},"modified":"2022-01-20T15:59:39","modified_gmt":"2022-01-20T08:59:39","slug":"lorong-waktu-episode-9-musim-1-haji-husin-dan-zidan-disandera-lintah-darat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lorong-waktu-episode-9-musim-1-haji-husin-dan-zidan-disandera-lintah-darat\/","title":{"rendered":"Lorong Waktu Episode 9, Musim 1: Haji Husin dan Zidan Disandera Lintah Darat"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berangkat dari sebuah berita di koran berjudul \u201cNelayan Teluk Hiu Dikuasai Lintah Darat\u201d, Haji Husin, Ustad Addin, dan Zidan pun memulai petualangan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lorong Waktu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> episode 9.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tempat yang akan dikunjungi Haji Husin dan Zidan hiduplah seorang nelayan miskin bernama Mardikun yang menjadi bulan-bulanan Kang Kohar dan anak buahnya. Kang Kohar yang seorang lintah darat memaksa Mardikun untuk menerima pinjaman uang darinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkali-kali dipaksa, bahkan sampai disiksa dan perahu rakitannya dirusak, Mardikun tetap menolak \u201cbantuan\u201d Kang kohar. Mengetahui sikap suaminya, istrinya Mardikun marah dan kecewa. Bagaimanapun, mereka punya dua orang anak yang masih kecil yang selama ini tidak mendapat asupan makanan dan pakaian yang layak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam pertengkaran yang diiringi tangis dan emosi yang meluap-luap dari istrinya Mardikun, Mardikun tetap tidak bersedia meminjam uang dari Kang Kohar. Dia percaya pertolongan Tuhan itu nyata adanya. Yang dibutuhkan hanya kesabaran. Mendengar hal tersebut, Onah, istri Mardikun, semakin emosional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga akhirnya, hari itu sampailah Haji Husin dan Zidan ke tempat Mardikun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAssalamualaikum,\u201d sapa Haji Husin dan Zidan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWaalaikumsalam,\u201d balas Mardikun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHaji Husin. Nah, ini cucu saye. Bapak siape?\u201d Haji Husin memperkenalkan diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya Mardikun.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNah, ini dia orang yang kita cari-cari, Pak Haji,\u201d kata Zidan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi, saya\u2026 sa-sa-saya tidak salah apa-apa, Aden.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNama saya bukan Aden, tapi Zidan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEh, Kun. Orang nyari ente belon tentu mau nyari perkara. Cucu gue mau kenalan ame lu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKenalan? Sama Mardikun?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIyeee,\u201d jawab Haji Husin<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya nggak pantas dikenalkan. Saya cuma petani miskin.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAaah, soal miskin nggak usah lu omongin. Dari muke lu udah ketahuan lu miskin. Nah, rume lu aja gubuk, reyot, kesenggol ayam aja rubuh, badan lu bau amis, tapi bukan itu soalnye. Soalnye, hatiii lu yang wangi.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya nggak ngerti,\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, lu kagak bakalan ngerti. Gua ceritain juga lu kagak bakalan ngerti deh.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, silakan masuk. Mari! Onah, kita kedatangan tamu. Apa ada makanan untuk buka puasa?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa? Makanan? Akang tanya makanan? Apa Akang pikir kita punya duit buat beli makanan, hah?\u201d istrinya Mardikun bertanya dengan nada emosi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar istri Mardikun marah-marah, Haji Husin menjelaskan tujuan kedatangannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak Mardikun, ente nggak usah repot-repot, ane kemari bukan pengin minta makan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, sebenarnya saya nggak repot, Pak Haji. Cuma\u2026.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGue kemari pengin lihat keadaan di sini yang kayak gimana, gitu!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, Zidan belom pernah ke daerah begini, Pak Mardikun,\u201d Zidan menambahkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNah\u2026,\u201d seru Haji Husin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, tapi apa yang mau dilihat dari desa nelayan miskin seperti ini, Pak Haji? Semuanya serbamenyedihkan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKita justru pengin lihat yang beginian. Kalau lihat gedung tinggi, betingkat, mewah, tahu-tahu belakangan utang melulu, ye?\u201d tanya Haji Husin yang disambut anggukan oleh Zidan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, Mardikun pun mengantar Haji Husin dan Zidan jalan-jalan di daerah tersebut. Selagi mereka jalan, di tempat lain, Kang Kohar lagi-lagi menunjukkan kekejamannya. Seorang nelayan dihajar habis-habisan karena tidak bisa membayar utang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kepada Haji Husin dan Zidan, Mardikun bercerita tentang perahu rakitannya yang tidak kunjung jadi karena tidak ada orang yang mau membantu. Semuanya takut kepada Kang Kohar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKang Kohar memaksa orang supaya meminjam duit sama dia dengan bunga yang sangat tinggi dan berlipat ganda. Duitnya dibelikan perahu yang sudah disediakan sama Kang Kohar sendiri, Pak Haji. Semua hasil tangkapan ikan harus disestorkan sama Kang Kohar.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMaksudnye buat nyicil utangnye begitu?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBukan cicilan utangnya, tapi cicilan bunganya, Pak Haji.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAstagfirullahaladzim, tapi lu nggak ngerente ame die kan?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi khawatir saya, Pak Haji, lama-lama saya nggak tahan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKenape emangnye, Kun? Selama ini lu mampu bertahan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak Haji lihat sendiri keadaan keluarga saya, Pak Haji. Serbakekurangan, sedangkan perahu yang saya bikin belum jadi juga. Padahal perahu inilah satu-satunya yang bisa menghidupi keluarga saya, Pak Haji.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKun, istikamah, istikamah. Lu mesti yakin, Allah akan kasih jalan keluar dari setiap kesulitan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan niat meringankan beban Mardikun, Haji Husin membantu Mardikun merakit perahu meski\u2026 yah\u2026 Haji Husin dan Zidan tidak tahu cara membuat perahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meninggalkan sejenak mereka bertiga merakit perahu, adegan berpindah ke masjid. Di masjid, murid-murid mulai gelisah karena Ustad Addin tidak kunjung datang mengajar. Mereka kompak mencari Ustad Addin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Balik lagi ke desa nelayan, saat Mardikun, Haji Husin, dan Zidan lagi fokus merakit perahu, Kang Kohar dan anak buahnya datang. Melihat hal tersebut, Ustad Addin yang melihat kejadian tersebut merasa heran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak Haji.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApe? Ape?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBiar saya yang ngadepin, Pak Haji,\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cUdeh, lu nggak usah takut, apalagi ame sama-sama manusie. Kite makan nasi, die juga makan nasi. Yang elo perlu takutin cuman satu, Allah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDengar omongan Pak Haji sepertinya Pak Haji ini nantangin saya ini.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYeee, nggak begitu sih, hehe. Tapi kalau ente merasa begitu yeee\u2026 nggak ape-ape, heh. Ente mau jual, ane beli.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara situasi mulai menegangkan, di masjid, anak murid Ustad Addin makin tidak sabaran. Mereka mendatangi kamar Ustad Addin. Untuk menenangkan, Ustad Addin pun meninggalkan ruangannya kemudian mengikuti kemauan anak muridnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di desa nelayan, Haji Husin sudah siap bertarung dengan Kang Kohar dan anak buahnya yang berjumlah tujuh orang. Sebelum bertarung, Haji Husin ngomong, \u201cCume gue kasih tahu ame lu ye, kalo gue mati nggak ada yang nangisin. Gue duda. Tapi kalo lu kenape-kenape pade, keluarga lu gimane? Itu yang mesti lu pikirin, lu. Mulai sekarang ayo! Siape duluan, hah?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi tegang-tegangnya melihat Haji Husin yang siap bertarung, Zidan malah manggil Haji Husin. Haji Husin pun meninggalkan sejenak arena pertarungan lalu nyamperin Zidan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak Haji mending kita lari, itu musuhnya banyak,\u201d Kata Zidan sambil bisik-bisik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAh, kagak ada dalam kamus gue lari. Kagak ada! Mendingan nyerah aja yuk!\u201d Haji Husin memberi penawaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYah, dikirain Pak Haji mau ngelawan, nggak tahunya nyerah,\u201d protes Zidan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Haji Husin balik lagi ke arena. Sementara itu Zidan mulai sibuk menghubungi Ustad Addin yang sedang tidak di tempat. Melihat Zidan ngomong ke roket-roketan, Mardikun tampak heran sekaligus penasaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tepat ketika pukulan pertama Haji Husin mengenai wajah salah satu anak buah Kang Kohar, tiga anak buah Kang Kohar lainnya menyandera Zidan. Komunikator atau roket-roketan yang dipegang oleh Zidan terjatuh di tanah. Mengetahui Zidan sudah ditahan oleh anak buahnya Kang Kohar, Haji Husin tidak bisa lagi melanjutkan pertarungan. Haji Husin menyerah. Haji Husin, Mardikun, dan Zidan pun dibawa ke gudang oleh anak buahnya Kang Kohar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lorong Waktu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> episode 9 ditutup dengan adegan seorang nelayan yang menemukan roket-roketan yang terjatuh di tanah. Duh, gimana nih nasib Mardikun, Haji Husin, dan Zidan? Bisakah Haji Husin dan Zidan kembali ke kehidupan sebenarnya tanpa bantuan roket-roketan?<\/span><\/p>\n<p><strong>Ikuti sinopsis\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/lorong-waktu-musim-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Lorong Waktu musim 1<\/a>\u00a0di sini serta tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/utamy-ningsih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Utamy Ningsih<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Awalnya berniat menolong seorang nelayan yang dikerjai lintah darat, Haji Husin dan Zidan terancam tidak bisa pulang.<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":76258,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13082],"tags":[292,8714,7000],"class_list":["post-62007","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sinetron","tag-lorong-waktu","tag-lorong-waktu-musim-1","tag-sinopsis-sinetron"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62007","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=62007"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62007\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/76258"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=62007"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=62007"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=62007"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}