{"id":61872,"date":"2020-09-25T09:37:01","date_gmt":"2020-09-25T02:37:01","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=61872"},"modified":"2022-01-20T15:59:51","modified_gmt":"2022-01-20T08:59:51","slug":"lorong-waktu-episode-8-musim-1-episode-lorong-waktu-yang-paling-sedih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lorong-waktu-episode-8-musim-1-episode-lorong-waktu-yang-paling-sedih\/","title":{"rendered":"Lorong Waktu Episode 8, Musim 1: Episode Lorong Waktu yang Paling Sedih"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum membaca tulisan ini lebih jauh, saya mau membuat pengakuan bahwa di antara episode-episode sebelumnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lorong Waktu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> episode 8 adalah episode yang paling menyentuh. Melihat Zidan nangis karena tidak mau kehilangan Haji Husin, saya jadi ikutan terenyuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Loh, memangnya di <em>Lorong Waktu<\/em> episode 8 ini Haji Husin mau ke mana? Sabar, sebelum saya jelaskan tentang Zidan dan Haji Husin, kita tengok dulu apa yang terjadi sama Ustad Addin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pagi ketika Ustad Addin lagi jogging, dia ketemu sama seorang cewek cantik yang lagi jogging juga. Kalau dari sikapnya sih, bisa terbaca cewek itu naksir Ustad Addin. Bagaimana tidak, setelah menyapa Ustad Addin, cewek yang namanya Aura itu nggak bisa lepas ngelihatin Ustad Addin. Saking seriusnya ngelihatin Ustad Addin, dia yang berlari (kecil) mundur sampai tersandung, lalu jatuh ke belakang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pulang dari jogging, Ustad Addin ditugaskan Haji Husin membeli buku untuk perpustakaan masjid yang koleksi bukunya tergolong kurang. Entah benar apa tidak sih perihal kondisi perpustakaan itu. Soalnya dari apa yang terjadi, Haji Husin terkesan sengaja gitu nyuruh Ustad Addin buat pergi, kayaknya karena dia mau melakukan satu hal tanpa sepengetahuan Ustad Addin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi ceritanya begini. Sewaktu Ustad Addin pergi ke toko buku bersama Aura (mereka nggak sengaja ketemu. Aura yang lagi naik mobil, ngelihat Ustad Addin lagi jalan. Aura lalu nawarin Ustad Addin untuk sama-sama ke toko buku), Haji Husin masuk ke kamar\/ruangannya Ustad Addin. Haji Husin nggak sendiri tentu saja, dia ngajakin Zidan. Anak kecil yang dibilang polos nggak, dibilang sok tua juga bisa, wqwqwq.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dalam ruangannya Ustad Addin, Haji Husin sama Zidan bekerja sama mengoperasikan mesin waktu. Haji Husin ternyata sudah punya catatan bagaimana cara menyalakan dan mengoperasikan mesin waktu untuk mengirimkan objek. Begitu mesin berhasil dinyalakan, di layar monitor muncul tulisan peringatan, tetapi bernada lucu: \u201cTolong jangan injak kabel.\u201d Busettt, keren banget komputernya Ustad Addin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang lucunya lagi, Haji Husin menuduh Zidan yang lagi nginjak kabel. Zidan nggak merasa melakukan apa yang dituduhkan, tentu saja balik menunjuk Haji Husin. Setelah dicek, ya memang benar Haji Husin yang nginjak kabel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSelanjutnye, ketik kode pengiriman objek. Ah, nih dia nih. Eh\u2026 ni huruf A-nya di mane nih? Ahhh? Addin, dia beli komputer yang kayak begini,\u201d Haji Husin ngomong sambil mencari huruf A lalu membolak-balik keyboard.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNih, huruf A-nya, Pak Haji,\u201d kata Zidan sambil nunjukin letak huruf A di keyboard.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOh, lu sih mindah-mindahin, ah!\u201d tuduh Haji Husin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLoh, Zidan bukan mindahin, Zidan cuma nunjuk.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tombol A dipencet, tidak berselang lama, muncul tulisan siap mengirimkan objek, tentukan koordinat. Haji Husin dan Zidan tertawa kegirangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang mau dikirim ternyata adalah Haji Husin. Dia masih penasaran sama masa depannya. Zidan ditugaskan sebagai operator mesin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNgomong-ngomong Pak Haji mau dikirim ke mana sih?\u201d tanya Zidan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGua masih penasaran\u2026 gue\u2026 gue pengen tahu, tua gue kayak ape.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSekarang aja sudah tua, Pak Haji.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLu! Lu kalo ngomong suka nyelekit begitu, Lu! Udah jangan banyak cincong deh. Lu ketik, ketik, ketik. Awas jangan sampai salah!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, Pak Haji.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bikin deg-degan, saat Haji Husin sudah hampir terkirim, dia baru ingat Komunikator 2000 ketinggalan. Zidan langsung buru-buru ngelempar benda itu ke arah Haji Husin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengiriman sedang berlangsung, muncul gambar lorong waktu, dan\u2026 error. Haji Husin mendarat di WC umum, lebih tepatnya jongkok di atas penutup kloset jongkok. Begitu keluar, di depan ternyata ada penjaga WC umum yang kelihatannya lagi tidur. Suara uang koin yang dimasukin Haji Husin ke dalam kotak pembayaran membuat penjaga tersebut terbangun. Betapa terkejutnya Haji Husin ketika melihat wajah si penjaga tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKok muke kita bisa sama persis begini ye? Kalau ana boleh tahu nih, nama ente siape?\u201d tanya Haji Husin kepada penjaga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHusin,\u201d jawab penjaga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSubhanallah!\u201ducap Haji Husin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNama ente sendiri siape?\u201d tanya penjaga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cRomeo. Haji Romeo,\u201d jawab Haji Husin sebelum lanjut bertanya, \u201cEnte udeh lame kerja di sini?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, ada sih kira-kira lima taon gitu. Saya mustinya sudah dapat promosi naik jabatan, cuman saya dijegal terus sama saingan-saingan saye.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEh, dulunye Ente kerja di mane?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBukan kerja sih, tapi saye pernah jadi pengurus masjid.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBentar, bentar, tapi kenapa sekarang ente kerja di sini?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cItu die. Saya dipecat ama bekas murid saya yang jadi ustad. Gara-garanye saye ngerusak peralatan komputernye die,\u201d jelas si penjaga dengan nada sedih bercampur malu. Mendengar hal tersebut, Haji Husin balik masuk lagi ke toilet. Perintahin Zidan untuk mulangin dia. Sayangnya Zidan nggak tahu gimana cara mulangin Haji Husin. Di catatannya Haji Husin juga nggak ada petunjuknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meninggalkan Haji Husin dan Zidan, kita diajak ke toko buku tempat Ustad Addin dan Aura beli buku. Aura sudah ngasih kode dengan nunjukin buku berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tuntunan Keluarga Bahagia dalam Islam<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, tetapi sayangnya Ustad Addin nggak peka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Balik lagi ke Haji Husin dan Zidan. Kali ini Haji Husin memerintahkan Zidan mengetik perintah yang dia ketik waktu mau mengirimkan Haji Husin. Zidan melaksanakan perintah, tetapi hasilnya error lagi. Haji Husin terkirim ke sebuah kuburan. Di sana tampak ada seorang kakek-kakek yang lagi gali kubur. Begitu melihat kakek-kakek tersebut, Haji Husin kembali terkejut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEnte pasti namanya Husin kan?\u201d tanya Haji Husin kepada kakek yang lagi gali kubur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBetul. Husin.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEnte, udah lama kerja di pekuburan ini?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYe, nggak. Sehari-hari sih saye kerjanye jadi pengurus masjid ama pengurus yayasan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTerus, ente gali kuburan siape?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, kuburan saye nih,\u201d kata si kakek sambil nunjukin nisan dengan nama dan tahun lahir, tetapi tanpa tahun wafat, kepada Haji Husin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cInnalillahi wainnailaihi rajiun. Sin, ape nggak ade orang laen yang bisa ente mintain tulung ngegali kuburan?\u201d tanya Haji Husin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYe, orang lain juga banyak yang ngegali kuburannye sendiri. Kebanyakan dosa. Jadi merasa paling bener. Paling merasa berkuasa, paling kaya, paling pinter, paling tinggi ilmunye, padahal di atas langit kan masih ada langit.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara Haji Husin berjalan dari kuburan ke sebuah tempat yang tampak gelap, Zidan kelihatan mulai panik dan sedih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak Haji harus pulang sekarang, waktunya sudah habis\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGimana caranya, Dan? Begimane?\u201d tanya Haji Husin dengan nada sedih dan lemah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak Haji nggak boleh ngomong gitu. Pak Haji harus marah, Pak Haji harus berteriak-berteriak seperti biasanya, Pak Haji nggak boleh diam,\u201d Zidan mulai emosional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLu ame gue nggak ngerti caranya, Dan. Kite belon paham ilmunye. Allah baru percayain tu ilmu buat Ustad Addin, belon buat kite. Mangkenye pesen gue cuman atu ama lu, Dan: lu belajar. Lu belajar yang rajin. Lu cari ilmu setinggi-tingginya supaya lu jadi manusia yang bermanfaat ye?\u201d pesan Haji Husin. Wadaw, Lorong Waktu episode 8 bakal jadi momen terakhir Pak Haji nih?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar pesan-pesan Haji Husin, Zidan langsung nangis kejer. Beneran sedih bagian ini, Mylov. Tepat ketika Haji Husin mulai fokus berzikir la illaha ilallah muhammadarrasulullah, datanglah Ustad Addin. Sambil memohon pertolongan kepada Allah, Ustad Addin mencoba memulangkan Haji Husin. Setelah menunggu sekian waktu, akhirnya Haji Husin berhasil pulang. Alhamdulillah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk meyakinkan diri sendiri bahwa dia belum meninggal, Haji Husin nyubit Zidan dan Ustad Addin. Baru setelah itu, Haji Husin minta maaf kepada Ustad Addin karena sudah merasa lebih pintar daripada Ustad Addin. Yah, dalam kata lain, Haji Husin sudah lancang lah yah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Lorong Waktu<\/em> episode 8 pun berakhir dengan adegan maaf-maafan. Fiuh\u2026.<\/span><\/p>\n<p><strong>Ikuti sinopsis\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/lorong-waktu-musim-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Lorong Waktu musim 1<\/a>\u00a0di sini serta tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/utamy-ningsih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Utamy Ningsih<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<div><\/div>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Haji Husin dan Zidan memakai mesin waktu tanpa sepengatahuan Ustad Addin. Selanjutnya, yang terjadi adalah bencana.<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":76258,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13082],"tags":[292,8714,7000],"class_list":["post-61872","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sinetron","tag-lorong-waktu","tag-lorong-waktu-musim-1","tag-sinopsis-sinetron"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61872","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61872"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61872\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/76258"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61872"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61872"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61872"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}