{"id":61823,"date":"2020-07-03T18:40:31","date_gmt":"2020-07-03T11:40:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=61823"},"modified":"2022-01-11T16:24:59","modified_gmt":"2022-01-11T09:24:59","slug":"makan-mie-ayam-itu-harus-pakai-sumpit-titik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makan-mie-ayam-itu-harus-pakai-sumpit-titik\/","title":{"rendered":"Makan Mie Ayam Itu Harus Pakai Sumpit. Titik!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanan favorit saya, dan tidak akan pernah bosan, adalah mie ayam. Mau mie ayam Bangka, Wonogiri, sampai yamin yang kalian kutuk itu juga saya suka. Pokoknya jadi favorit untuk list jajanan saya, tiada tertandingi. Tentunya makan mie ayam ini harus diiringi dengan keahlian menggunakan sumpit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi sungguh yang saya bingungkan, kok ada orang yang makan mie ayam tidak pakai sumpit. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Makanan akulturasi yang dibawa dari daratan Cina sana dan pastinya di setiap tempat makan disediakan sumpit untuk alat makan. Masa <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">sih <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ada yang makan pakai sendok atau garpu? Ada-ada saja, pokoknya harus pakai sumpit. Titik!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Percayalah, mari kita kembali ke <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">khitah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">bahwa sesungguhnya menikmati mie ayam yang hakiki adalah menggunakan sumpit. Bukan sendok, bukan garpu, apalagi tangan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sumpit adalah alat mutlak untuk menyantapnya, dan inilah alasannya.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama, <\/b>s<span style=\"font-weight: 400;\">umpit bukan sekadar alat makan. Dia seperti &#8220;cita rasa&#8221; khas&#8221; menambah kenikmatan sendiri. Rasakan sendiri, makan dengan garpu itu hambar karena garpu biasanya menggunakan aluminium.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan sumpit biasanya dari kayu, yang mana menurut saya tidak mengganggu kehangatan makanan saat disediakan. Kalau garpu sudah dingin, saat dicelupkan ke mangkok otomatis merusak nuansa kuah. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">No offense, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">masalah selera saya cukup berat. Jadi bagi saya, garpu itu merusak cita rasa, karena makanan ini bukan sekadar mie.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">memakai sumpit adalah tradisi yang sudah ada dari dulu utamanya untuk memakan makanan khas Tionghoa. Saya termasuk <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">man of culture<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang merasa makan bukan hanya sekadar urusan mengenyangkan perut. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eda etika dan budaya dari rasa sampai cara sampai menikmatinya. Menggunakan sumpit adalah kebajikan yang bisa saya (usahakan) untuk dilestarikan, suap demi suap agar saya tidak hanya kenyang namun juga puas batin.<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">sumpit bukan sekadar dua buah kayu untuk makan mie. Lebih dari itu. Saat mengaduk mie ayam contohnya. Kalau sendok dan garpu tidak sinkron dan kadang bisa tumpah-tumpah. Tetapi, sumpit kita pegang di tangan masing-masing satu sungguh itu adalah keajaiban kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita aduk perlahan, dari pinggir ke tengah menggunakan sumpit, mie akan terangkat secara pelan. Lalu, saat menarik sumpit ke pinggir, mie akan mengikuti dan tidak tumpah. Cobalah, kalau tidak percaya, segera makan mie ayam dengan sumpit. Selain itu, untuk mencomot makanan pun jadi kelihatan elegan, seperti pendekar.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p><b>Keempat, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">makan dengan sumpit melatih kesabaran. Apalagi jika baru mulai belajar pakai sumpi. Makan dengan sabar dapat dua pahala. Makan makanan nikmat, kita bersyukur kepada Tuhan. Makan dengan sumpit, gagal mengambil mie dan terpeleset terus kita jadi sabar. Mantap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk yang juga sudah ahli menggunakan sumpit pun juga sabar, karena makan tidak terburu-buru. Telaten satu-satu ambil topping mie ayam, lalu menghabiskan buru-buru membuat kita menikmatinya lebih lama. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sungguh luar biasa bukan? Banyak makna terkandung saat makan mie ayam dengan sumpit. Sekali lagi saya tekankan, maklumat bahwa makan mie ayam itu harus pakai sumpit. Karena sumpit adalah bagian dari identitas mie ayam itu sendiri. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">No debat!\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/percampuran-budaya-sunda-dan-betawi-di-pernikahan-orang-bekasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Percampuran Budaya Sunda dan Betawi di Pernikahan Orang Bekasi<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/nasrullah-alif\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nasrulloh Alif Suherman<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jodoh mie ayam adalah sumpit. Bukan sendok, garpu, apalagi makan pakai tangan.<\/p>\n","protected":false},"author":321,"featured_media":61848,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[7592,796,4796],"class_list":["post-61823","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-mie","tag-mie-ayam","tag-sumpit"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61823","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/321"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61823"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61823\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61848"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61823"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61823"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61823"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}