{"id":61809,"date":"2020-09-21T14:06:44","date_gmt":"2020-09-21T07:06:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=61809"},"modified":"2022-01-20T16:00:03","modified_gmt":"2022-01-20T09:00:03","slug":"lorong-waktu-episode-7-musim-1-penyebab-zidan-dewasa-jadi-bejat-terungkap","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lorong-waktu-episode-7-musim-1-penyebab-zidan-dewasa-jadi-bejat-terungkap\/","title":{"rendered":"Lorong Waktu Episode 7, Musim 1: Penyebab Zidan Dewasa Jadi Bejat Terungkap"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lorong Waktu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> episode 6 belum ada penjelasan dari Zidan besar kenapa dia bisa berubah drastis, pada Lorong Waktu episode 7, alasannya terpampang nyata dari mulut Zidan besar sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang sudah kita simak bersama, pada episode 6 cerita ditutup dengan kondisi Zidan besar yang memprihatinkan. Nah, pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lorong Waktu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> episode 7, dalam keadaan memprihatinkan itu, Zidan besar mengaku takut pada Zidan kecil. Takut kalau-kalau dia akan dibawa pergi oleh Zidan kecil. Zidan besar juga merasa selalu dihantui oleh seekor burung hantu. Papa Zidan sih merasa apa ia alami adalah efek sarapan pagi Zidan sendiri, yakni putaw. Waduh!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan episode-episode sebelumnya yang unsur komedinya cukup kuat, episode kali ini berfokus pada hal serius. Ya, perkara alasan Zidan yang bisa berubah drastis itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu-satunya hal lucu yang bisa saya tangkap pada episode kali ini adalah teka-teki nasib Haji Husin dua belas tahun yang akan datang (tahun 2011). Sayang sekali, teka-teki itu masih belum terjawab karena saat Ustad Addin baru mau menjawab pertanyaan Zidan kecil, kakeknya Zidan lagi-lagi datang memotong obrolan. Melihat hal serupa terulang kembali, Haji Husin makin kesal sama kakeknya Zidan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak Ustad, Pak Haji Husin ke mana sih? Nih, orangnya nanyain,\u201d tanya Zidan kepada Ustad Addin (versi tua) sambil menunjukkan Komunikator 2000 kepada Ustad Addin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cZidan, sepuluh tahun yang lalu, Pak Haji Husin sakit keras\u2026,\u201d Ustad Addin menjawab, tetapi kemudian dipotong Kakek Zidan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak Ustad, kita musti rapat lagi nih.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBaik, Pak,\u201d sahut Ustad Addin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Haji Husin kesal karena pertanyaannya lagi-lagi ngegantung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTuh, kan. Astagfirullahaladzim. Diselak lagi, diselak lagi sama tu orang\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking kesalnya, Haji Husin memaksa Ustad Addin menjawab rasa penasarannya, tetapi Ustad Addin di masa Zidan kecil tidak bisa menjawab karena memang tidak tahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meninggalkan Haji Husin dan Ustad Addin, kita balik lagi ke rumahnya Zidan. Mama Zidan masih mau ngurusin Zidan yang sudah sangat berubah dibanding Zidan versi masa kecil. Ketika Zidan besar lagi disuapin sama mamanya, Zidan kecil menyampaikan kepada mamanya bahwa rapat keluarga akan dimulai. Sebelum keluar dari kamar, Mama Zidan menyuruh Zidan kecil untuk menemani Zidan besar. Zidan kecil pun bersedia. Terjadilah obrolan antara Zidan kecil dan Zidan besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEh, kenapa sih kamu suka mabok?\u201d tanya Zidan kecil kepada Zidan besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang yang ditanya diam aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHei\u2026 ditaaanyaaa malah diam aja,\u201d Zidan kecil tampak kesal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKamu siapa?\u201d tanya Zidan besar, \u201cIkut campur urusan orang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya Zidan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIh, nyama-nyamain.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEit, jangan salah. Biar lebih kecil, saya lebih dulu ada daripada kamu. Saya adalah diri kamu, waktu kamu masih kecil,\u201d Zidan kecil menjelaskan dengan ekspresif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEh, mabok lu?\u201d Zidan besar bertanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKAMU YANG MABOK. MASA SAYA DIKATAIN?\u201d kata Zidan kecil dengan nada emosi. \u201cEh, tahu nggak, Kak Zidan, Zidan kemari untuk menolong masa depan Kak Zidan dan masa depanku juga.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara Zidan kecil dan Zidan besar lagi ngobrol, di luar orang-orang dewasa juga lagi rapat dengan suasana tegang. Usul Ustad Addin untuk memasukkan Zidan ke panti rehabilitasi disetujui oleh mama dan neneknya Zidan, tetapi ditentang oleh papa dan kakeknya Zidan. Alasannya, mereka takut akan jadi bahan omongan orang. Padahal, menurut Mama Zidan, dengan Zidan jadi pemabuk dan pencandu aja pasti sudah jadi bahan omongan orang. Hmm, benar juga sih, yah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kamarnya Zidan, kembali terjadi obrolan seru antara Zidan kecil dan Zidan besar. Apalagi kalau bukan tentang apa sebenarnya yang menyebabkan Zidan bisa berubah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadi, ini semua gara-gara Kak Zidan patah hati sama Ayu?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, dia ninggalin gue gitu aja. Padahal gue cinta banget sama dia.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Zidan langsung tepuk jidat, lalu ngomong, \u201cGile bener. Waktu kecilnya temenan. Udah gedenya pacaran.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dih, Zidan. Itu sih biasa terjadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat rapat keluarga\u2014yang saat itu sudah tidak dihadiri lagi oleh Ustad Addin\u2014masih berlangsung, di kamarnya, Zidan besar yang lagi sendirian, berbaring sambil memegang foto Ayu versi sudah besar. Tidak berselang lama, foto itu pun disobek oleh Zidan besar. Selesai menyobek foto Ayu, Zidan mengambil pisau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cutter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, berniat mengiris pergelangan tangannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam suasana menegangkan tersebut, tiba-tiba Ustad Addin versi tua, Zidan kecil, dan Ayu versi sudah besar datang. Oleh mamanya Zidan, Ayu yang memang ingin bertemu dengan Zidan besar diantar ke kamarnya Zidan. Ketika Zidan besar lagi ngobrol dengan Ayu, Ustad Addin versi masa sekarang memberi peringatan kepada Zidan kecil bahwa waktunya Zidan sudah hampir habis. Sebelum pulang, Zidan masih sempat nanya kepada Ustad Addin versi tua:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak Ustad, pertanyan Zidan belum dijawab. Pak Haji Husin ke mana sih?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWaktu itu beliau sedang sakit keras, Dan. Saya sudah berusaha membawanya ke dokter, tapi Haji Husin sudah\u2026.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tombol enter ditekan, petualangan Zidan selesai. Haji Husin kesal bukan main kepada Ustad Addin karena lagi dan lagi, rasa penasarannya tidak terjawab. Haji Husin ngomel-ngomel kepada Ustad Addin. Zidan juga kecewa karena merasa petualangannya nanggung. Cerita belum selesai sudah disuruh balik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tadinya, Haji Husin mengira, Zidan masih bisa balik lagi ke masa yang sama, eh tahunya kata Ustad Addin sudah nggak bisa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMasa yang Zidan kunjungi itu tidak lebih dari gambaran maya. Fatamorgana yang terbentuk dari pikiran kita saat ini. Kita bisa melihat fatamorgana dari mimpi, ilham, atau firasat,\u201d Ustad Addin menjelaskan. Sebagai pengobat rasa kekecewaan, Ustad Addin juga ngomong ke Zidan dan Haji Husin bahwa, \u201ctapi Zidan dan Pak Haji cukup beruntung karena tidak semua orang punya kesempatan untuk melihat masa depan. Walaupun itu agak membingungkan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGue jadi merasa beruntung juga, Din. Untung lu kagak jawab pertanyaan si Zidan. Coba kalo lu jawab, jawabannya kagak enak. Ehe, bisa kagak enak makan kagak enak tidur gue, hahaha.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menuju akhir cerita, Zidan yang lagi makan malam bersama mama dan papanya bertanya perihal narkotika.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSeandainya Zidan menjadi pencandu narkotik dan masuk panti rehabilitasi, Mama dan Papa, malu nggak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cItu tidak akan terjadi, sayang. Papa dan Mama akan melakukan yang terbaik,\u201d jawab Mama Zidan. Papa Zidan cuma senyum-senyum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita pun ditutup dengan doa makan yang dipimpin oleh Zidan. Berakhirlah <em>Lorong Waktu<\/em> episode 7.<\/span><\/p>\n<p><strong>Ikuti sinopsis\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/lorong-waktu-musim-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Lorong Waktu musim 1<\/a>\u00a0di sini serta tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/utamy-ningsih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Utamy Ningsih<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sementara itu Haji Husin dongkol karena tak kunjung dapat penjelasan kenapa sosoknya menghilang di masa depan.<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":76258,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13082],"tags":[292,8714,7000],"class_list":["post-61809","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sinetron","tag-lorong-waktu","tag-lorong-waktu-musim-1","tag-sinopsis-sinetron"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61809","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61809"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61809\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/76258"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61809"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61809"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61809"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}