{"id":6164,"date":"2019-07-10T13:00:22","date_gmt":"2019-07-10T06:00:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=6164"},"modified":"2022-01-19T15:13:07","modified_gmt":"2022-01-19T08:13:07","slug":"tidak-semua-celaan-perlu-dibalas-dengan-karya-kawan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tidak-semua-celaan-perlu-dibalas-dengan-karya-kawan\/","title":{"rendered":"Tidak Semua Celaan Perlu Dibalas dengan Karya, Kawan"},"content":{"rendered":"<p>Seringkali saya mendengar dari seseorang pun membaca postingan di media sosial \u201cjika ada yang menghina dengan kita, balas dengan karya.\u201d Tujuannya mungkin baik, yang saya tangkap hal itu bermakna \u201cnggak usah ditanggepin yang jelek-jelekin kita, yang penting tetep produktif aja sesuai porsinya.\u201d Tapi permasalahannya adalah, memangnya wajib banget gitu segala celaan yang tertuju pada diri kita harus direspon\u2014dengan karya?<\/p>\n<p>Dengan segala perbedaan karakteristik yang dimiliki setiap orang, rasanya tidak perlu memaksakan bagaimana atau apa respon seseorang setelah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/sfy\/esai\/rasanya-jadi-orang-jelek-secara-harfiah\/\">mendapat celaan<\/a>. Jika ada yang mencela lalu mau dibalas dengan <em>misuh<\/em> sekaligus <em>sambat<\/em> sendirian di kamar, mau nyindir sekaligus <a href=\"https:\/\/tirto.id\/perkara-cuitan-dubes-arab-saudi-yang-bikin-gp-ansor-dan-nu-marah-daVp\">marah-marah di Twitter,<\/a> mau bikin lirik lagu juga dijadikan bahan tulisan. Terserah. Mau minta kontak berikut juga alamat emailnya juga boleh, kok. <em>Eh<\/em>?<\/p>\n<p>Lagipula, tidak semua orang diberkati kemampuan dalam berkarya\u2014karya apa pun itu. Kalau pun punya bakat dalam berkarya, belum lagi terkendala rasa malas yang tak berkesudahan. Dan saya, mungkin menjadi salah satu orang yang malas menanggapi jika ada yang mencela atau mencibir\u2014membicarakan dan menjelek-jelekan di belakang.<\/p>\n<p>Di usia saya saat ini, rasanya nggak penting jika harus berkutat atau meladeni sindirian dari siapa pun, masih banyak hal lain yang jauh lebih penting dibanding itu\u2014perihal pekerjaan salah satunya. Jika ada seseorang yang kiranya secara telak dan diketahui membicarakan atau menyinggung saya, hal yang saya lakukan tak lain dan tak bukan adalah tertawa atau dibercandai balik. Bukan bertujuan untuk menghina, lebih kepada saya yang menertawakan diri sendiri, \u201cemang iya ya sebegitunya\u201d\u2014<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nyengirin-saja-jangan-dibuat-baper\/\">tanpa baper<\/a>.<\/p>\n<p>Terkadang, kalau pun saya sedang malas menanggapi biasanya tidak diberi respon apa-apa, hanya sekadar \u201coh\u201d yang digumamkan dalam hati. Masalahnya, jika cercaan dibalas dengan karya, apakah menjamin dia atau mereka paham akan respon yang menurut kita elegan tersebut? Tidak semua orang mudeng atau paham dengan balasan berupa karya atau prestasi.<br \/>\nBagi mereka yang mencibir, apa pun yang kita lakukaan hanya dijadikan sebagai peluang untuk membuat cibiran yang baru. Jadi, apa gunanya kita meniatkan diri membalas perbuatan tidak menyenangkan orang lain dengan segala prestasi yang diraih? Menjadi iya dan tidak apa ketika diniatkan untuk pencapaian diri. Hasil karya menjadi tidak relevan ketika hanya digunakan untuk membalas kekesalan\u2014dendam.<\/p>\n<p>Tapi, mau bagaimana pun, karya merupakan sesuatu yang dibuat oleh seseorang dengan segala kreativitas dan kemampuan yang dimiliki, bagaimana proses dalam mencapai hal tersebut perlu mendapat apresiasi.<\/p>\n<p>Saya juga dengan sukarela mengiyakan mereka yang berkata \u201ckreativitas itu tidak terbatas\u201d, mau buktinya? Salah satunya <em>meme<\/em> yang tersebar luas di internet. Yang terbaru dan ramai, mengenai seekor biawak yang memanjat pagar rumah seseorang. Ada yang mengibaratkan sebagai pengantar barang, penagih hutang, pacar yang langsung ditinggal masuk ke dalam rumah, dan lain sebagainya.<\/p>\n<p>Katanya, <em>meme<\/em> dapat digunakan juga sebagai lucu-lucuan, sindirian, atau reaksi terhadap apa yang dilakukan orang lain. Namun nyatanya, tidak semua orang memahami sindirian. Jadi, meski sudah dibuat dan dirasa tepat sasaran, tingkat kepekaan seseorang tetap menjadi pembeda. <em>hehe<\/em>. Dan sedikit himbauan saja, meski kreativitas itu tidak terbatas namun tetap harus bisa dipertanggungjawabkan. Hati-hati UU ITE bisa menerkam siapa saja, loh. Maaf sekadar mengingatkan.<\/p>\n<p>Memang, jika <a href=\"https:\/\/mojok.co\/auk\/ulasan\/pojokan\/hei-lelaki-yang-suka-ngebut-di-jalan-karena-marah\/\">emosi negatif<\/a> diluapkan dan dicurahkan dalam bentuk karya, pasti akan jauh lebih baik dibanding harus merespon cacian dengan cacian lagi\u2014pasti tidak akan ada habisnya. Minimal dibalas senyuman, pasti akan lebih menyenangkan bagi diri sendiri.<\/p>\n<p>Tapi, ada kalanya cercaan dari orang lain baiknya diladeni secara langsung dan ditanyakan kepada orang yang bersangkutan, ada masalah apa, kenapa, dan maunya bagaimana. Bukan untuk menambah konflik, justru agar masalah dapat terselesaikan dengan dibukanya perbincangan daripada saling saut melalui sindiran.<\/p>\n<p>Bagi saya, dibanding membalas celaan orang lain di media sosial dan berpotensi siapa yang disindir siapa yang tersindir, lebih baik dijadikan bahan tulisan dan dikirim ke redaksi atau media, syukur jika ditayangkan di lamannya dan menjadi trending. Ditambah ada honornya juga. <em>xixixi<\/em>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seringkali saya mendengar dari seseorang pun membaca postingan di media sosial \u201cjika ada yang menghina dengan kita, balas dengan karya.\u201d<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":6186,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13080],"tags":[1602,135,726,401,1185],"class_list":["post-6164","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-personality","tag-balas-dengan-karya","tag-baper","tag-bully","tag-kritik-sosial","tag-motivasi"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6164","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6164"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6164\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6186"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6164"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6164"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6164"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}