{"id":61171,"date":"2020-09-13T12:13:22","date_gmt":"2020-09-13T05:13:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=61171"},"modified":"2022-01-20T16:00:15","modified_gmt":"2022-01-20T09:00:15","slug":"lorong-waktu-episode-5-musim-1-misteri-kepala-pangeran-diponegoro","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lorong-waktu-episode-5-musim-1-misteri-kepala-pangeran-diponegoro\/","title":{"rendered":"Lorong Waktu Episode 5, Musim 1: Misteri Kepala Pangeran Diponegoro"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lorong Waktu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> episode 5 ini kita diajak mengingat kembali salah satu sifat anak-anak: punya rasa ingin tahu yang sangat besar. Tidak terkecuali Zidan dan teman-temannya, sesama murid Ustad Addin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika mereka sedang asyik bermain di halaman masjid kemudian melihat ada bapak-bapak yang berpenampilan seperti Pangeran Diponegoro, mereka langsung ngikutin. Diikutin sampai ke tempat ambil air wudu. Begitu sampai di sana dan melihat kepala bapak-bapak tadi ternyata botak kinclong, mereka langsung ketawa ngakak. Bapak-bapak yang ditertawai ya santuy aja. Namanya juga anak-anak yah, Pak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Episode kali ini memang bertema Pangeran Diponegoro. Lebih tepatnya mempertanyakan, kepala Pangeran Diponegoro tuh kayak gimana sih? Botak apa berambut? Kalau botak, botaknya kayak gimana? Kalau berambut, rambutnya sepanjang apa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah yang ditanyakan Zidan dan teman-temannya ketika dikasih kebebasan oleh Ustad Addin untuk memilih materi apa yang mereka ingin pelajari. Setelah melakukan rapat internal (asique), Zidan mewakili teman-temannya bertanya kepada Ustad Addin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak Ustad, Pangeran Diponegoro itu botak apa nggak, sih?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sambil geleng-geleng kepala, Ustad Addin menjawab: \u201cKalian ada-ada saja. Begini, dari gambar-gambar, museum, atau buku-buku yang pernah Ustad baca, belum ada satu pun yang pernah mengungkapkan hal seperti itu mengenai Diponegoro. Yang Ustad tahu, para pejuang kita dulu sangat sibuk mengusir penjajah sehingga tidak sempat untuk memikirkan apakah kepalanya ada rambut atau tidak. Yang paling penting buat mereka adalah menegakkan kebenaran dan keadilan. Berjuang di jalan Allah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebegitu panjangnya jawaban Ustad Addin tidak membuat Zidan dan teman-temannya puas. Zidan jadi punya ide untuk melakukan satu hal. Kalau kata Zidan sih, \u201cKepala boleh keras, asal otak musti encer.\u201d Ya, benar juga sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Idenya Zidan bukan kaleng-kaleng. Dia pengin berkunjung ke masa lalu, ke masanya Pangeran Diponegoro. Oleh Ustad Addin, keinginan Zidan itu pun dikabulkan. Tapi kali ini ia berangkat sendiri karena Haji Husin lagi flu. Eh, berangkatnya bertiga ding. Ada Komunikator 2000 sama sebuah benda yang nanti akan saya ceritakan kalau sudah waktunya, wqwqwq.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bikin deg-degan, perjalanan Zidan kena masalah lagi. Error<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Bukannya ketemu sama Om Dip (Pangeran Diponegoro), Zidan malah tersangkut di dunia fantasinya sendiri. Dunia yang dia bayangkan ketika membaca komik. Di tempat itu, Zidan ketemu dengan seseorang yang bikin terkejut. Beliau adalah Pak Bendot alias Superman alias Om Sup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata nih yah, menurut pengakuan Om Sup yang waktu itu lagi menjemur mantel\/sayapnya yang basah setelah kehujanan saat melakukan tugas mengejar asteroid liar, Zidan sudah dikenal sama orang langit. Mungkin Zidan 11-12 sama Hotman Paris. Cuma beda cara orang langit mengenali mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya itu, Om Sup juga bilang begini nih kepada Zidan, \u201cCuaca bumi memang sudah kacau. Musim hujan dan kemarau, terbalik-balik nggak keruan. Itu karena terlalu banyak lobang-lobang ozon. Jadi, orang-orang itu pada mbakar hutan, nebang hutan, seenaknya saja.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari episode ini juga saya baru tahu, ternyata mantel\/sayapnya Supermen itu nggak berfungsi alias nggak bisa dipakai buat terbang kalau lagi basah. Nice<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">info. Setelah gagal terbang dengan mantel\/sayapnya Om Sup, Zidan akhirnya pergi, meninggalkan Om Sup yang galau karena mantel\/sayapnya dibawa pergi Zidan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, Zidan benar-benar ketemu dengan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya. Pangeran Diponegoro versi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lorong Waktu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tentu saja. Mereka ketemu di sebuah sungai. Zidan dengan mantel milik Om Sup langsung menyapa rombongan Om Dip.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAssalamualaikum.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWaalaikumsalam warrahmatullah wabarakatuh,\u201d jawab rombongan sang Pangeran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu pengikutnya Om Dip langsung bertanya sih. \u201cPangeran, siapa gerangan yang memberi salam rasul kepada kita, Pangeran?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh Om Dip, pengikut atau pengawal tersebut langsung diperintahkan untuk menjemput Zidan yang lagi berdiri di atas batu di atas aliran sungai yang cetek. Begitu ketemu dengan Pangeran Diponegoro, Zidan langsung salim dan menyapa, \u201cOh, jadi ini bener Om Dip, yah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Om Dip dan rombongannya serentak merespons dengan nada heran, \u201cOm Dip?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar Zidan menyapa Pangeran Diponegoro dengan sebutan Om Dip, Haji Husin yang menonton itu langsung ngomelin Ustad Addin. Ustad Addin dianggap lalai. Ustad Addin sih alasannya karena nggak kepikiran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lanjut ke adegan Om Dip dan Zidan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cCah bagus, kamu ini siapa? Apakah kamu putra Belanda sehingga memanggil saya dengan sebutan om?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya Zidan, asli Indonesia,\u201d Zidan memperkenalkan diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIndonesia?\u201d dua orang pengawal Om Dip kembali merasa heran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMaksudmu\u2026 Hindia-Belanda?\u201d tanya Om Dip lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, iya. Dulu disebutnya begitu, Om,\u201d kata Zidan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDulu? Memangnya sekarang disebut apa?\u201d Nah loh, pengawalnya Om Dip heran lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lorong Waktu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> episode 5 ini, Zidan dapat dua tuduhan. Pertama tuduhan sebagai mata-mata kompeni alias Belanda. Saat dituduh sebagai mata-mata, Zidan sempat meminta bantuan Haji Husin untuk membersihkan nama baik Zidan. Sayangnya Haji Husin menolak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, Zidan dituduh atau katakanlah dianggap sudah kesambet wewe gombel karena kelakuannya aneh dan ucapannya cenderung kurang ajar. Begitu pemikiran dua orang pengawal Pangeran Diponegoro. Sang Pangeran sih nggak begitu heran. Dia sudah bisa memprediksi hal seperti itu akan terjadi pada masa mendatang. Dalam artian, anak-anak memang akan lebih bebas bersikap dan berani bicara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pangeran Diponegoro lalu mengajak Zidan salat berjamaah. Zidan girang banget. Namun, bukannya langsung siap-siap, Zidan malah mengeluarkan sebuah benda dari sakunya. Benda yang dia bawa sejak awal perjalanan. Sebuah kamera atau dulu disebutnya tustel!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Niatnya Zidan tentu saja pengin ngefotoin Pangeran Diponegoro yang lagi wudu. Namun, karena terhalang pengawalnya Om Dip, Zidan nggak bisa ngefoto. Lucunya (menurut saya sih), kilatan cahaya yang keluar dari tustelnya Zidan disangka petir tak bersuara oleh pengawalnya Om Dip.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkat cerita, selesai salat, Zidan langsung nyamperin Om Dip.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOm Dip sebenarnya mau ke mana sih?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sambil menyimpan kembali kerisnya, Om Dip menjawab pertanyaan Zidan, \u201cOm Dip sedang dalam perjalanan menuju tempatnya kompeni. Mereka mengundang aku untuk membuat suatu perjanjian.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJangan, Om Dip!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLoh, kenapa?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cItu cuma jebakan Belanda. Om bakalan masuk penjara dan dibawa ke Manado.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAnak pintar. Aku ini seorang raja. Sabda pandita ratu, pantang ingkar janji. Aku harus menghormati diriku, juga orang yang mengundang diriku. \u201c<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi kan mereka musuh, Om?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMereka itu tetap makhluk ciptaan Allah. Hanya sifatnya yang aku benci.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi kan itu undangan jahat, Om.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum sempat Om Dip merespons lagi, Ustad Addin sudah mengeluarkan peringatan, \u201cZidan, waktumu cuma lima menit lagi. Segera pulang!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBaik, Pak Ustad,\u201d sahut Zidan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cCah bagus, kelak kamu akan mengerti mengapa aku harus memenuhi undangan itu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi\u2026 supaya dipenjara?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAda hikmah yang lebih besar dari penderitaanku. Kamu akan paham jika kamu benar-benar berpikir.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berhubung waktunya akan segera habis, Zidan pun salim lalu pamit kepada Pangeran Diponegoro beserta rombongannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita pun ditutup dengan jam beker Zidan yang berbunyi. Waktunya sahur. Misteri tentang kepalanya Om Dip tidak terungkap sampai akhir cerita. Selamat penasaran, Zidan dan teman-temannya.<\/span><\/p>\n<p><strong>Ikuti sinopsis\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/lorong-waktu-musim-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Lorong Waktu musim 1<\/a>\u00a0di sini serta tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/utamy-ningsih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Utamy Ningsih<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Zidan dan teman-temannya penasaran, gimana sih bentukan kepala Pangeran Diponegoro? Gondrong atau botak? Berangkatlah ia ke masa Pangeran Diponegoro menggunakan mesin waktu.<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":76258,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13082],"tags":[292,8714,7000],"class_list":["post-61171","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sinetron","tag-lorong-waktu","tag-lorong-waktu-musim-1","tag-sinopsis-sinetron"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61171","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61171"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61171\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/76258"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61171"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61171"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61171"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}