{"id":60437,"date":"2020-06-29T12:21:55","date_gmt":"2020-06-29T05:21:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=60437"},"modified":"2020-06-29T12:21:55","modified_gmt":"2020-06-29T05:21:55","slug":"feminis-meributkan-tagar-bekaluntuksuami-itu-omong-kosong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/feminis-meributkan-tagar-bekaluntuksuami-itu-omong-kosong\/","title":{"rendered":"Feminis Meributkan Tagar #bekaluntuksuami Itu Omong Kosong"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ramai di Twitter, feminis meributkan bekal untuk suami dengan tagar #bekaluntuksuami. Bahkan tagar itu sempat jadi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">top trends<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Dalam hati terdalam, saya merasa sangat miris campur muak melihat fenomena ini. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Feminisme rupanya dipakai sebagai ajang kompetisi antargender bahkan juga sesama gender. Ternyata juga, feminisme yang dimaknai orang-orang masih feminisme kuno, jadul!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal zaman sekarang saya kira sudah tidak penting lagi reputasi mana yang lebih tinggi: perempuan atau laki-laki. Sama sekali sudah tidak penting lagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih banyak pe-er untuk kita semua, terutama untuk feminis. Kita seharusnya masih perlu berjuang lebih keras lagi atas banyak hal. Masih banyak kasus yang belum dapat jalan terang. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mulai dari yang paling genting, misalnya RUU-PKS, predator seksual masih berkeliaran, kesehatan reproduksi masih mitos, banyak anak di bawah umur melakukan seks bebas tanpa pemahaman fungsi alat reproduksi. Hal-hal seperti itu sudah digarap, tapi butuh kelanjutan. Bukan lantas meributkan perempuan yang bikin bekal untuk suami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa tidak memikirkan solusi menyelamatkan perempuan korban KDRT atau korban kekerasan dalam pacaran? Kenapa tidak bekerja sama dengan para lelaki membangun komunitas, memberikan pelatihan-pelatihan lebih banyak pada banyak perempuan yang masih belum berdaya ekonomi secara mandiri? <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meributkan pantas atau tidaknya seorang istri menyiapkan bekal untuk suami saya kira cuma omong kosong. Kalau tidak mau menyiapkan bekal untuk suami, ya sudah, tidak perlu dibesar-besarkan sebagai dalih perjuangan para feminis. Untungnya apa? Glorifikasi? Sebatas ngonten?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau memang ada perempuan yang pandai memasak, ingin berhemat, menunjukkan kasih sayangnya pada suami dengan menyiapkan bekal makanan ya sudah, salahnya di mana? Itu bukan hal mewah dalam isu feminisme, saya kira. Meributkan apakah kebiasaan tersebut termasuk peminggiran perempuan ke ranah domestik atau bukan saya kira tidak ada urgensinya sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ayolah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, kembali ke hal-hal yang lebih penting. Dengan meributkan hal remeh seperti itu, justru akan memperpanjang masalah. Feminisme bukan perihal siapa yang lebih baik dan bakal menang. Feminisme bukan lapangan kompetisi, seorang feminis juga tidak akan menyibukkan diri dengan ribut di Twitter dan membahas tagar nggak penting.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk apa, sih, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ngotot <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;tidak mau terlihat kalah&#8221; dari gender seberang. Perempuan dan laki-laki malah seperti terpecah menjadi dua kubu<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Cuma fokus ke penyetaraan gender itu strategi basi. Itu feminisme zaman megalitikum. Dunia saja sudah serba &#8220;new&#8221;, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kok malah pada <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">old<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> ajasih. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fokus kita sudah bukan itu lagi. Sekarang kita semua, bersama, semua gender, tanpa terkecuali saling bahu-membahu memutus mata rantai budaya patriarki. Budaya ini sudah menjadi candu<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, mengakar. Seorang feminis saja kadang bisa khilaf dan memiliki pikiran patriarkis. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ayolah bergerak, dalam dunia apa pun yang menjadi konsen teman-teman. Tidak harus juga demo di jalan. Tidak harus melakukan hal yang muluk-muluk. Di zaman yang sebegini rupa bentuk kemudahan, kita bisa melakukan gerakan feminisme dalam bentuk yang beragam dan inovatif.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau memang suka berbicara di <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">publik<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, bikin forum, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">podcast<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, undang beberapa orang yang juga konsen dan kompeten dalam dunia feminisme. Bikin poster, sampai video Tik-Tok. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa juga membuat S<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">napgram<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> film singkat yang mengangkat isu <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">catcall<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> atau pelecehan seksual. Atau bikin video tutorial menyelamatkan diri dari predator seksual dengan barang-barang yang biasa dibawa pergi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk apa sih ribut di sosial media? Apakah semua bacotanmu dapat menyelesaikan masalah? Apakah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tweet<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">-mu dan tagar itu dapat membuat para predator seksual gemetar dan jera? Apakah semua perempuan menjadi sadar dan tak gentar?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak. Sama sekali tidak.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang ada malah perkara yang lebih urgen jadi terlupakan. Banyak orang menjadi jengah dengan sikap feminis yang mempermasalahkan bekal untuk suami. Pada a<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">khirnya, banyak orang akan menghindari topik feminisme. Terlebih, jadi antipati dengan semua feminis, hanya karena ada beberapa akun ngonten isu omong kosong.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-yang-diberikan-feminisme-untuk-laki-laki\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">4 Hal yang Diberikan Feminisme untuk Laki-laki<\/a> dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/tingkar-ayu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tingkar Ayu<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Malah banyak yang jadi antipati dengan semua feminis, hanya karena ada beberapa akun ngonten isu omong kosong.<\/p>\n","protected":false},"author":658,"featured_media":60531,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[7499,814,324,325],"class_list":["post-60437","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bekal-untuk-suami","tag-feminis","tag-feminisme","tag-patriarki"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60437","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/658"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=60437"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60437\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/60531"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=60437"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=60437"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=60437"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}