{"id":6020,"date":"2019-07-10T09:00:49","date_gmt":"2019-07-10T02:00:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=6020"},"modified":"2022-01-19T15:13:53","modified_gmt":"2022-01-19T08:13:53","slug":"instagram-stories-itu-nyebelin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/instagram-stories-itu-nyebelin\/","title":{"rendered":"Instagram Stories itu Nyebelin"},"content":{"rendered":"<p>Hadirnya fitur <em>stories<\/em> di Instagram merupakan kabar gembira bagi para penggunanya. Bagaimana tidak, di sini kau bisa memposting sebanyak-banyaknya hal <a href=\"https:\/\/mojok.co\/yms\/ulasan\/pojokan\/puasa-di-bulan-ramadan-bikin-tekor-dan-nyampah-itu-harus-dimaafkan\/\">tanpa perlu nyampah<\/a> di <em>timeline<\/em>.<\/p>\n<p>Dulu, sebelum ada fitur <em>stories<\/em> di Instagram, orang-orang merasa tidak nyaman jika harus memposting lebih dari satu postingan dalam sehari. Selain takut mengurangi <em>follower<\/em> karena nyampah, juga tak ingin merusak <em>feed<\/em> dengan postingan asal-asalan. Padahal rasa-rasanya jiwa ini ingin posting sering-sering. Apalagi jika hari ini kegiatan yang kulakukan adalah hal-hal yang keren pasti akan bikin teman-teman ngiri dan harap-harap bisa nyuri perhatian gebetan. Tapi apa daya, aku juga takut <em>followersku<\/em> kabur jika aku posting lebih dari satu postingan dalam sehari, apalagi jika sampai lebih dari dua postingan. <em>Oh, no<\/em>. Itu sama saja dengan bunuh diri.<\/p>\n<p>Lalu pada suatu hari, hadirlah fitur yang menjawab semua kegelisahan selama ini. Instagram Stories atau biasa juga disebut snapgram memberikan semua fasilitas yang kita inginkan. Kita bisa <em>memposting<\/em> sebanyak yang kita inginkan, sampai garis-garisnya mencapai 0,01 milimeter. Lalu <em>stories<\/em> ini sama sekali tidak merusak <em>feed<\/em> dan tidak mengotori <em>timeline<\/em> sehingga <em>followers<\/em> tidak kabur. Karena di zaman ini <em>followers<\/em> itu kan sudah menjadi kebutuhan. Kebutuhan untuk merasa diakui, <a href=\"https:\/\/tirto.id\/mengapa-ada-orang-takut-jatuh-cinta-dan-dicintai-ec1j\">dicintai<\/a> dan diminati. Bahkan kalau perlu beli, biar dikira artis.<\/p>\n<p>Tapi ada satu hal yang menurutku aneh dari Instagram <em>stories<\/em> ini. Durasi tayangnya hanya 24 jam alias sehari. Berbeda dengan postingan di <em>feed<\/em> yang bertahan selamanya jika tidak dihapus. Jadi kalau suatu waktu orang-orang mau melihat kembali postingan kita maka mereka tidak bisa melihatnya lagi. Bisa dibilang Instagram <em>stories<\/em> ini memang dimaksudkan untuk sesuatu yang numpang lewat saja. Dan memang jadinya, postingan-postingan di <em>stories<\/em> ini jadi kebanyakan merupakan hal-hal yang gak penting dan malah jadi lebih nyemak dari <em>timeline<\/em>.<\/p>\n<p>Yang paling menyebalkan lagi, orang-orang jadi menghapus banyak postingan di <em>feed<\/em> dan cuma menampilkan postingan-postingan yang menurut mereka paling indah. Mungkin memang mereka ingin membangun <em>image<\/em> yang &#8216;wow&#8217; di dunia maya. Banyak orang yang <em>feednya<\/em> cuma punya 3 atau bahkan 1 foto. Dan semua itu pasti foto-foto pilihan. Tentu setiap orang punya hak untuk menata profilnya. Tapi yang terjadi setelah itu adalah keseragaman postingan. Semua orang berlomba-lomba memposting hal-hal yang menyenangkan. Entah itu momen liburan, makan di restoran, nonton konser dan hal-hal menyenangkan lainnya.<\/p>\n<p>Instagram jadi tempat pamer dan <em>stories<\/em> adalah tempat menumpahkan semuanya dengan se brutal-brutalnya. Tak jarang orang-orang memposting 10 postingan di tempat yang sama, suasana yang sama bahkan waktu yang nyaris bersamaan. Apalagi durasi di <em>stories<\/em> cuma beberapa detik. Inilah yang membuat garis-garis postingan di <em>stories<\/em> kadang udah terlihat seperti titik-titik.<\/p>\n<p>Sepertinya pihak Instagram memang sengaja menciptakan fitur ini untuk membuat kita betah dan bahkan ketergantungan. Sekali kita <em>play stories<\/em>, maka dia akan berjalan seperti video dan cuma berhenti kalau kita hentikan.<\/p>\n<p>Ada satu hal lagi yang membuatku paling sebel sama Instagram <em>stories<\/em> ini. Karena durasi tayangnya cuma 24 jam, jadi kita seakan dipaksa untuk minimal aktif setiap sekali dalam 24 jam. Kalau seandainya kita tidak membuka Instagram selama lebih dari 24 jam, maka siap-siap penasaran setengah mati saat ada yang <em>ngetag<\/em> kita di <em>storiesnya<\/em>.<\/p>\n<p>Aku sering sekali mengalami kejadian ini. Pernah sekali waktu aku tidak membuka Instagram selama berhari-hari. Setelah akhirya aku kembali, aku mendapati banyak teman yang <em>ngetag<\/em> namaku di <em>stories <\/em>mereka, tapi postingannya sudah tidak bisa lagi dilihat. Itu adalah perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Mau nanya sama yang <em>ngetag<\/em> males. Kalau nggak ditanya penasaran.<\/p>\n<p>Berawal dari kejadian itu, akhirnya aku memutuskan untuk mengecek <em>inbox<\/em> setidaknya sekali dalam 24 jam. Siapa tau ada teman yang ngajak makan-makan gratis dari <em>stories<\/em>, jadi kita tidak ketinggalan.<\/p>\n<p>Setelah aku mengecek <em>stories<\/em> minimal sekali dalam 24 jam, aku merasa masalah sudah selesai. Eh, ternyata masalah baru muncul lagi. Karena ternyata ada juga orang yang <em>storiesnya<\/em> udah hilang padahal belum 24 jam dan itu kebetulan <em>ngetag<\/em> nama kita juga. Dalam kasus ini sepertinya dia berubah pikiran lalu akhirnya menghapus postingannya.<\/p>\n<p>Setelah kejadian itu, aku jadi bodo amat sama <em>stories<\/em>. Sudah terlalu banyak ketidak jelasan yang kurasakan dari <em>stories<\/em> ini. Lebih apesnya lagi, ada juga orang yang <em>mengupload<\/em> postingan yang sama di semua media yang memiliki <em>stories<\/em>, mulai dari WhatsApp, Facebook dan Instagram. Dimana-mana ada <em>stories<\/em>\u2014udah gitu, iklannya juga banyak.<\/p>\n<p>Instagram sangat berhasil dengan fitur ini, ke depannya entah apa lagi yang akan menjadi tren. Aku memilih untuk mengurangi bermain media sosial. Masih banyak hal yang mungkin bisa lebih bermanfaat untuk dilakukan. Contohnya dengan menulis. Yah, minimal menulis motivasi di <em>stories<\/em>\u2014<em>eh<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Instagram Stories atau biasa juga disebut snapgram memberikan semua fasilitas yang kita inginkan. Kita bisa memposting sebanyak yang kita inginkan.<\/p>\n","protected":false},"author":159,"featured_media":6137,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[1093,1590,401,102],"class_list":["post-6020","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-instagram","tag-instagram-stories","tag-kritik-sosial","tag-media-sosial"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6020","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/159"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6020"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6020\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6137"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6020"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6020"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6020"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}