{"id":6016,"date":"2019-07-09T14:00:42","date_gmt":"2019-07-09T07:00:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=6016"},"modified":"2022-01-19T15:15:45","modified_gmt":"2022-01-19T08:15:45","slug":"soal-makanan-lidah-tak-pernah-bohong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/soal-makanan-lidah-tak-pernah-bohong\/","title":{"rendered":"Soal Makanan, Lidah Tak Pernah Bohong"},"content":{"rendered":"<p>Sehari-hari, saya banyak menghabiskan waktu untuk duduk. Sebab itu, saya sering jalan kaki setiap sore\u2014kadang dengan seorang teman. Kami berjalan dari kos (sekitar Sanata Dharma Mrican) menuju sebuah sepetak sawah yang ada di belakang Atma Jaya Babarsari. Itu sekitar 45 menit. Pergi-pulang lumayanlah bikin keringat\u2014olahraga santai.<\/p>\n<p>Nah, jalan santai ini sudah saya lakukan rutin dua tahun terakhir. Selain bisa menikmati tujuan\u2014sawah\u2014yang semakin lama semakin lenyap menjadi lapangan futsal, rumah dan caf\u00e9, saya juga bisa menemukan perubahan apa saja yang ada di sepanjang jalan. Yang saya lihat sejauh ini, banyak usaha kecil\u2014pengusahanya kebanyakan anak muda atau mahasiwa\u2014mati \u00a0di usia muda. Beberapa di antaranya sempat saya kunjungi.<\/p>\n<p>Pola yang saya perhatikan hampir sama. Tempatnya kecil. Dekorasinya biasanya sangat menggoda mata. Warnanya cerah. Sekilas, tempatnya sangat enak buat nongkrong. Dan, makanan atau minuman yang dijual terlihat berkelas\u2014kebanyakan sih kopi dengan berbagai varian dan tetek bengeknya. Kopi emang tren masa kini, hehe. Awal-awal buka, rame\u2014menurutku itu teman-temannya yang ikut meramaikan\u2014lalu perlahan sepi dan tak lama kemudian\u00a0 tutup.<\/p>\n<p>Di benak saya muncul pertanyaan: mereka niat nggak<em>\u00a0<\/em>sih bikin bisnis? Apa tidak sayang waktu dan uang bayar tempat, beli peralatan dan perlengkapan tapi tanpa hasil? Modal belum balik, kapal sudah terbalik\u2014bangkrut. Terlepas, apakah itu memang sengaja hanya sekedar seru-seruan, buang-buang waktu karena tidak tahu mau <em>ngapain, <\/em>buang-buang uang karena orangtuanya kaya, menurut saya pribadi itu tetap konyol.<\/p>\n<p>Oke, di sini saya sedikit berbagi ilmu yang pernah saya dapatkan di bangku kuliah. Dalam bisnis, prinsip utamanya adalah anda untung. Intinya, tidak boleh pasak lebih besar dari tiang. Supaya apa? Jelas supaya bisnis anda hidup dan bertumbuh seperti layaknya tanaman. Bagaimana supaya tanaman itu tumbuh? Ya anda berikan pupuk\/kompos, air, dibersihkan dan seterusnya. Dalam bisnis, anda urus sistem manajemennya, operasionalnya, sumber daya, produk, pemasaran, dan seterusnya.<\/p>\n<p>Dalam bisnis ada dikenal yang namanya <em>red ocean <\/em>dan <em>blue ocean. <\/em>Kalau anda buka bisnis di <em>red ocean, <\/em>maka anda harus bertarung mati-matian karena di sana sudah banyak pesaing. Anda buka warung kopi tapi di mana-mana sudah banyak warung\u2014caf\u00e9\u2014kopi. Ya, anda harus menawarkan sesuatu yang berbeda, entah itu <a href=\"https:\/\/tirto.id\/kopi-susu-kekinian-di-antara-dana-besar-modal-ventura-dan-tren-edu8\">racikan kopinya<\/a>, layanannya, atau tempatnya\u2014lingkungan.<\/p>\n<p>Kalau anda pemain kecil dan tidak ada yang unik yang anda tawarkan\u2014apalagi pengunjungnya dua tiga teman yang itu-itu saja, sadarlah! Lebih baik ajak teman-temannya ke kos atau ke rumah lalu ngopi bareng di sana.\u00a0 (Ingat, pemodal besar bisa menyediakan produk yang lebih enak dan tempat\/suasana bagus yang lebih asik buat nongkrong).<\/p>\n<p>Kalau masih niat\u2014belajar\u2014bisnis dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pea\/komen\/kepsuk\/kiat-membangun-rumah-tanpa-modal-rupiah\/\">modal anda kecil,<\/a> contohlah warung makan yang selalu ramai meski tempatnya kecil (besok-besok, anda lebih berpeluang buka cabang). Bermain di <em>red ocean, <\/em>anda harus fokus pada kualitas produk anda. Anda harus menawarkan sesuatu yang berbeda\u2014ada nilai plusnya. Kalau tidak bisa, ya ujung-ujungnya anda harus bermain harga\u2014lebih murah. (hati-hati, itu bisa menghantar bisnismu ke liang kubur lebih cepat, hehe)<\/p>\n<p>Bermain di <em>blue ocean <\/em>lebih enak, anda jadi pencetus\u2014tidak ada saingan. Meski modal sedikit, kalau produk anda bagus dan orang tertarik, anda berpeluang besar sukses. Walaupun kelemahannya, ketika anda sukses, yang lain bakal mengekor. Bahkan kelak, mereka bisa mengalahkan anda kalau anda tidak belajar dan berinovasi. Kasus seperti ini sering terjadi. Misalnya, anda bikin bakso buah naga dan ternyata enak, orang suka. Percayalah, yang lain bakal mengikuti jejak anda. Menjadi pengekor memang lebih mudah daripada pencetus.<\/p>\n<p>Bagi kalian pebisnis\u2014kuliner, ini pendapat saya sebagai konsumen. Saya suka makan. Kadang-kadang tak masalah harus merogoh kantong, asalkan lidah tidak kecewa. Ketika saya menemukan tempat yang hidangannya enak, biasanya saya setia. Saya biasanya berpindah kalau menemukan yang lebih enak (lebih murah jarang karena harga biasanya berbanding lurus dengan kualitas). Kalau kecewa, biasanya tempat itu saya <em>blacklist<\/em> selamanya. Kejam ya, hehe<\/p>\n<p>Dari pengalaman, saya lebih percaya kata teman yang sudah pernah mencoba daripada apa yang dikatakan oleh media atau orang yang tidak kukenal. Kalau teman sudah bilang\u00a0 \u201ckamu harus coba!\u201d biasanya saya coba. Kalau sudah mencoba dua kali \u00a0dan tetap enak, saya akan jadi pelanggan setia.<\/p>\n<p>Artinya apa? Kalau anda niat bisnis (kuliner)\u2014tidak cuma gaya-gayaan, pertama-tama fokuslah pada kualitas makanan yang anda jual. Mau tak mau harus enak. Jangan sampai lidah pengunjung kecewa saat pertama kali datang. Kesan pertama itu mahal harganya.<\/p>\n<p>Meskipun anda pasang iklan di mana-mana\u2014mengalahkan iklan korporasi\u2014kalau makanan anda tidak enak, orang tidak akan mau berkunjung terus menerus. Tapi kalau anda berhasil bikin orang <em>kangen <\/em>dan membuat mulut mereka terus bicara \u201cKamu harus coba!\u201d kepada teman-temannya, maka bisnis anda berpeluang berumur panjang. Sebab, lidah tidak pernah bohong.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meskipun anda pasang iklan di mana-mana\u2014mengalahkan iklan korporasi\u2014kalau makanan anda tidak enak, orang tidak akan mau berkunjung terus menerus.<\/p>\n","protected":false},"author":161,"featured_media":6081,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[1581,1337,1582,939],"class_list":["post-6016","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-makanan-enak","tag-makanan-khas","tag-makanan-khas-jogja","tag-wisata-kuliner"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6016","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/161"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6016"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6016\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6081"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6016"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6016"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6016"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}