{"id":59867,"date":"2020-09-11T17:36:43","date_gmt":"2020-09-11T10:36:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=59867"},"modified":"2022-01-20T16:00:28","modified_gmt":"2022-01-20T09:00:28","slug":"lorong-waktu-episode-3-musim-1-haji-husin-dan-zidan-tak-menyadari-ada-yang-salah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lorong-waktu-episode-3-musim-1-haji-husin-dan-zidan-tak-menyadari-ada-yang-salah\/","title":{"rendered":"Lorong Waktu Episode 3, Musim 1: Haji Husin dan Zidan Tak Menyadari Ada yang Salah&#8230;"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih takut dan kapok, di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lorong Waktu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> episode 3 ini Zidan malah ketagihan bertualang pakai mesin mesin waktu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIni namanya habis manis sepah dibuang,\u201d protes Zidan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBukan begitu,\u201d sanggah Ustad Addin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBuktinya Zidan nggak boleh ikutan jalan-jalan lagi,\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEh, Dan\u2026 Dan\u2026 Dan, lu itu bukan diajak jalan-jalan, bukan. Lu itu kebawa. Ngikut. Jadi nggak sengaja,\u201d protes Haji Husin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBiar nggak sengaja, tapi kan Zidan sudah berjasa sebagai kelinci percobaan yang baik.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka bertiga lalu berdebat keras soal Zidan boleh ikut lagi apa nggak. Satu lawan dua, Zidan lawan Haji Husin dan Ustad Addin, nyatanya Zidan yang menang. Soalnya Haji Husin sakit kepala disamberin Zidan mulu. Akhirnya mereka sepakat, Zidan boleh ikut dengan alasan \u201cdemi pendidikan\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi gue musti ngingetin lu nih, lu musti bisa pegang rahasia, pegang amanah, jangan khianat. Ye?\u201d Haji Husin ngasih syarat ke Zidan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka lalu bersiap untuk perjalanan selanjutnya. Setelah Ustad Addin menekan tombol enter di komputernya, tidak lama kemudian Haji Husin dan Zidan mendarat di sebuah taman. Haji Husin mendarat di perosotan, Zidan mendarat di mangkuk putar. Haji Husin ngoceh, Zidan kegirangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari taman, kita kemudian diajak melihat penjual durian. Ada Mang Amin dan Go\u2019is. Durian yang baru saja diatur oleh Go\u2019is diprotes kemudian diatur ulang oleh Mang Amin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMang, Mang, Mang. Mang Amin, kenapa dibongkar lagi durennya, Mang? Ini memang saya ngaturnya kurang rapi ya, Mang?\u201d tanya Go\u2019is.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNgatur lu kelewat rapi, jadi duren-duren yang jelek kagak kelihatan,\u201d terang Mang Amin<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, maksudnya biar yang jelek-jelek, nanti biar laku juga gitu, Mang,\u201d Go\u2019is membela diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBukan begitu cara mamangmu dagang, Is. Pembeli harus dikasih tahu mana duren yang bagus, mana duren yang jelek. Ini amanat, Is, dari Allah. Harus kita pegang teguh,\u201d Mang Amin menjelaskan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Haji Husin dan Zidan datang hendak membeli durian. Go\u2019is berusaha menipu Haji Husin, tetapi dicegah oleh Mang Amin. Tapi Mang Amin dan Go\u2019is merasa heran karena durian itu dibeli untuk buka puasa. Soalnya di dunia mereka, Haji Husin dan Zidan sedang dalam masa Ramadan, sementara di tempat yang mereka datangi saat itu puasa Ramadan masih enam bulan lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara Haji Husin sibuk dengan urusan durian, di tempat Ustad Addin tiba-tiba terjadi mati listrik. Paniklah dia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Balik lagi ke urusan perdurianan. Mang Amin pamit salat, sementara Go\u2019is diminta jaga dagangan. Haji Husin dan Zidan nongkrong di depan kios tempat jualannya Mang Amin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEleh\u2026 eleh, bagaimana mau untung besar kalau dagangnya seperti Mang Amin. Jangan disamain sama nabi dong!\u201d Go\u2019is ngomong sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNabi kan juga pedagang, Bang. Tapi pedagang yang jujur,\u201d sahut Zidan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEh, kamu tuh anak kecil, tidak tahu apa-apa,\u201d Go\u2019is tampak kesal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak lama kemudian seorang perempuan bernama Bu Ali mendatangi tempat jualan Mang Amin dan Go\u2019is. Sama seperti Haji Husin, Bu Ali juga awam soal durian. Celah itu dipakai Go\u2019is untuk membohongi Bu Ali. Sudah dikasih durian jelek, harganya pun dinaikkan. Zidan yang melihat kejadian itu langsung nimbrung tanpa diminta, wqwqwq.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJangan mau, Bu. Harganya 10 ribu, dijual 20 ribu. Mau dagang apa mau ngerampok? Nggak salah apa ini?\u201d tanya Zidan. Go\u2019is lagi-lagi dibuat kesal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak Haji, saya minta tolong sekali lagi, kasih tahu cucunya, ini bukan urusan dia,\u201d Go\u2019is meminta pada Haji Husin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bu Ali yang percaya pada kualitas durian dagangan Mang Amin percaya-percaya saja pada omongan Go\u2019is. Dalam perjalanan pulang, Bu Ali melewati masjid tempat Mang Amin salat. Mang Amin yang baru keluar kaget melihat durian yang dibawa Bu Ali. Sesampainya di tempat jualan, ia memarahi Go\u2019is. Durian jelek yang dibeli Bu Ali dibanting di hadapan Go\u2019is. Sebagai hukuman, Go\u2019is disuruh membawa durian bagus untuk Bu Ali, sekalian kelebihan uangnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAduh, Mang. Saya kan berbuat seperti ini biar kita dapat untung banyak, Mang,\u201d Go\u2019is beralasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cUntung, untung. Terus-terusan lu dagang kayak begitu, di akhirat bakal buntung lu,\u201d Kata Mang Amin, emosi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat Go\u2019is dihukum, Zidan tertawa puas. Di masjid, Ustad Addin semakin panik karena melalui telepon, dia dapat kabar bahwa listrik baru bisa menyala dua jam kemudian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Merasa lapar, Haji Husin dan Zidan berniat pulang. Mereka berusaha menghubungi Ustad Addin, tetapi tidak ada respons. Bagaimana bisa merespons kalau di masjid masih mati listrik. Sebagai usaha, Ustad Addin pun berjalan ke luar masjid. Beruntung, di luar sedang ada orang syuting. Ustad addin pun meminta bantuan pasokan listrik kepada sang sutradara. Setelah diizinkan, Ustad Addin langsung melanjutkan tugasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mesin waktu berhasil dinyalakan kembali, meski terlambat 10 menit dari waktu pengembalian seharusnya, Haji Husin dan Zidan pulang dengan selamat, lengkap dengan durian yang sudah dibeli. Sayangnya, ada yang aneh, Zidan menyadari durian yang mereka beli tampak mengecil. Ustad Addin coba menjelaskan penyebabnya, tetapi Zidan tetap tidak mengerti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain durian, Haji Husin juga menyadari ada yang aneh pada dirinya. Haji Husin bingung, entah kepalanya yang mengecil ataukah pecinya yang kebesaran. Untuk menenangkan, Ustad Addin meyakinkan Haji Husin bahwa pecinya yang kebesaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, dalam perjalanan pulang, Zidan disapa oleh Ayu yang lagi main ayunan. Zidan sempat hampir keceplosan menceritakan petualangannya barusan, tetapi untung ia cepat tersadar. Ayu berusaha membuat Zidan mengaku, tetapi Zidan masih bisa menahan diri. Setelah dikasih oleh-oleh durian, Ayu pun pulang, demikian halnya dengan Zidan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai penutup <em>Lorong Waktu<\/em> episode 3, di kamarnya tampak Ustad Addin merasa galau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cProgram ini masih jauh dari sempurna. Ya Allah, berikanlah selalu petunjukmu, agar Aku bisa mengembalikan mereka ke bentuk yang semula.\u201d<\/span><\/p>\n<p><strong>Ikuti sinopsis\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/lorong-waktu-musim-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Lorong Waktu musim 1<\/a>\u00a0di sini serta tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/utamy-ningsih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Utamy Ningsih<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perjalanan kedua menggunakan mesin waktu ini kelihatannya lancar-lancar aja. Tapi sepertinya ada yang bermasalah&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":76258,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13082],"tags":[292,8714,7000],"class_list":["post-59867","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sinetron","tag-lorong-waktu","tag-lorong-waktu-musim-1","tag-sinopsis-sinetron"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59867","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=59867"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59867\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/76258"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=59867"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=59867"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=59867"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}