{"id":59532,"date":"2020-06-25T14:11:12","date_gmt":"2020-06-25T07:11:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=59532"},"modified":"2020-06-25T14:11:12","modified_gmt":"2020-06-25T07:11:12","slug":"beda-penggunaan-tanda-petik-biasa-dan-tanda-petik-tunggal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/beda-penggunaan-tanda-petik-biasa-dan-tanda-petik-tunggal\/","title":{"rendered":"Beda Penggunaan Tanda Petik Biasa dan Tanda Petik Tunggal"},"content":{"rendered":"<p>Sebagai seseorang yang senang menulis, saya memiliki sebuah persoalan yang tidak pernah saya cari tahu jawabannya. Bukan karena malas, tapi karena waktu itu, menurut saya hal tersebut tidak terlalu genting. Namun, sebagaimana hal-hal lain yang ditunda, persoalan tersebut akhirnya terlupakan. Sekarang setelah saya mengingat dan berhasil menemukan jawabannya, saya menuliskan artikel ini. Hehe.<\/p>\n<p>Kita semua tahu bahwa di dalam bahasa Indonesia ada cukup banyak tanda baca. Sebagian besar kita kenali dengan baik dan kita bisa menggunakannya dengan baik pula, semisal tanda koma, titik, tanda seru, dan tanda tanya. Ada juga tanda petik yang mungkin beberapa dari kita sering menggunakannya. Tapi, tahukah kalian di dalam tanda baca bahasa Indonesia ada dua jenis tanda petik? Terus bedanya apa dong? Nah, di sini akan ada sedikit penjelasannya.<\/p>\n<h4>Tanda petik (&#8220;&#8230;&#8221;)<\/h4>\n<p>Kita mulai dari yang lebih familier, tanda petik dua (&#8220;&#8230;&#8221;). Petik ini digunakan untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Contohnya:<\/p>\n<blockquote><p>\u201cKamu udah makan belum?\u201d tanya seorang lelaki kepada kekasihnya.<\/p><\/blockquote>\n<p>Itu adalah penggunaan tanda petik yang sudah sering kita jumpai. Penggunaan lain tanda petik dua adalah untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. Misalnya:<\/p>\n<blockquote><p>Kemarin ibu saya menonton sinetron yang berjudul \u201cAnakku Ternyata Bukan Anakmu\u201d di sebuah saluran televisi nasional.<\/p><\/blockquote>\n<p>Penggunaan tanda petik dua yang selanjutnya adalah untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. Kali ini saya ambilkan contohnya dari PUEBI, sumber satu-satunya yang membuat saya bisa menulis artikel ini. Contohnya:<\/p>\n<blockquote><p>\u201cTetikus\u201d komputer ini sudah tidak berfungsi.<br \/>\nDilarang memberikan \u201camplop\u201d kepada petugas!<\/p><\/blockquote>\n<p>Pada contoh pertama, tanda petik dua digunakan karena istilah &#8220;tetikus&#8221; kurang dikenal. Dan pada contoh kedua, tanda petik digunakan karena kata &#8220;amplop&#8221; mempunyai arti khusus, yakni uang.<\/p>\n<h4>Tanda petik tunggal (&#8216;&#8230;&#8217;)<\/h4>\n<p>Selanjutnya, tanda petik tunggal. Dinamai petik tunggal karena petiknya memang hanya ada satu di tiap sisi kata atau kalimat yang diapit. Nah, kalau yang ini gunanya buat apa? Jadi, petik tunggal ini digunakan ketika kamu ingin mengapit petikan yang sudah ada di petikan lain. Contohnya:<\/p>\n<blockquote><p>Temanku bertanya, \u201cKamu dengar suara \u2018kring-kring\u2019 tadi nggak?\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Nah, jadi salah satu fungsi tanda petik tunggal adalah ketika kita butuh untuk menggunakan petikan di dalam petikan. Biar tidak salah paham gitu, hehe.<\/p>\n<p>Lalu, fungsi yang kedua. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan. Misalnya:<\/p>\n<p>retina \u2018dinding mata sebelah dalam\u2019<br \/>\nnoken \u2018tas khas Papua\u2019<br \/>\nmoney politics \u2018politik uang\u2019<\/p>\n<p>Nah, sehabis diberikan penjelasan seperti itu baru dilanjutkan agar menjadi kalimat yang baik.<\/p>\n<p>Jadi, ternyata bahasa Indonesia yang kita pakai sehari-hari itu aturannya banyak dan perlu kita pelajari. Setidaknya biar kalau kita lagi chat sama pacar jadi kelihatan intelek. Tapi, selain itu, mempelajari penggunaan tanda baca dan ejaan yang baku memang sangat diperlukan. Apalagi, bagi kalian-kalian yang saat ini statusnya adalah mahasiswa tingkat akhir dan sedang menyusun skripsi, pasti paham lah ya rasanya revisian cuman karena salah cara menggunakan tanda baca.<\/p>\n<p>Sebelum menutup tulisan ini, saya menyatakan bahwa semua informasi yang saya tulis di atas didapat dari <a href=\"https:\/\/puebi.readthedocs.io\/en\/latest\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">laman web PUEBI daring<\/a> yang dibikin Ivan Lanin. Bahkan, beberapa contoh saya ambil persis serupa seperti yang ada di laman webnya. Sengaja tidak menuliskannya menggunakan format sitasi agar tidak terlihat terlalu akademik dan juga karena format artikel di Mojok adalah artikel santai yang bisa dinikmati sambil menunggu kereta atau seusai makan siang di kantor.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/prm\/komen\/versus\/penggunaan-huruf-kapital-panduan-contoh-dan-catatan-perkecualian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Penggunaan Huruf Kapital: Panduan, Contoh, dan Catatan Perkecualian<\/a> dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-ramadhani-suryolaksono\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhammad Ramadhani Suryolaksono<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tahukah kalian, di dalam tanda baca bahasa Indonesia ada dua jenis tanda petik? Terus bedanya apa dong? Nah, di sini akan ada sedikit penjelasannya.<\/p>\n","protected":false},"author":742,"featured_media":59895,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1164,7462,7461],"class_list":["post-59532","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa-indonesia","tag-puebi","tag-tanda-petik"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59532","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/742"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=59532"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59532\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/59895"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=59532"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=59532"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=59532"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}