{"id":5934,"date":"2019-07-08T13:00:51","date_gmt":"2019-07-08T06:00:51","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=5934"},"modified":"2022-01-20T14:21:00","modified_gmt":"2022-01-20T07:21:00","slug":"tentang-viral-dan-pentingnya-mengambil-jarak-terhadapnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tentang-viral-dan-pentingnya-mengambil-jarak-terhadapnya\/","title":{"rendered":"Tentang Viral dan Pentingnya Mengambil Jarak Terhadapnya"},"content":{"rendered":"<p>Kalian punya cermin besar di kos atau di rumah? Coba deh sekarang ambil atau mendekat ke cermin lalu dekatkan mata kalian ke cermin? Apa yang kalian lihat? Saya yakin seratus persen, kalian hanya bisa melihat mata kalian dan itu pun kabur.<\/p>\n<p>Terus hubungan cermin dengan judul\u2014viral\u2014apa? Sebelumnya, saya ajak kalian lebih dulu berkelana ke pengalaman pribadi saya. Di akhir tulisan, kalian boleh membuat keputusan dengan bebas: menganggukkan kepala atau menggelengkan kepala.<\/p>\n<p>Hampir setiap hari, saya melihat atau mendengar sesuatu yang heboh\u2014viral. Yang viral tersebut seolah-olah sangat mendesak, krusial dan penting bagi kehidupan saya sehingga saya harus mengikutinya dan tidak boleh ketinggalan. Orang-orang pun berbondong-bondong melihat\u2014karena penasaran\u2014lalu buru-buru berkomentar sana-sini seperti para ahli.<\/p>\n<p>Jujur saja, sekarang saya malas membuang-buang energi untuk sesuatu yang viral. Dulu masih tertarik, sekarang sudah jera. Bagaimana tidak? Kalau ada yang viral, semua orang <em>posting <\/em>itu, membicarakannya, menjadikannya status dan seterusnya. Rasa-rasanya tidak ada lagi yang lebih menarik, lebih berguna, lebih penting selain itu mirip bayangan mantan yang terus menghantui\u2014<em>hehe. <\/em>Lama-lama pusing kepala saya berada di pusaran itu. Saya merasa lebih baik menjauh.<\/p>\n<p>Sekarang coba perhatikan media-media raksasa. Mereka mengeksploitasi kata viral sebagai strategi dalam bisnisnya. Koran-koran <em>online <\/em>menjadikannya sebagai judul. Misalnya, \u201cVIRAL\u2014Seorang Perempuan Rela Dimadu Demi Kepuasan Suaminya\u201d. Viral ini sudah mirip seperti <a href=\"https:\/\/tirto.id\/clickbait-jebakan-judul-berita-yang-menipu-pembaca-cF7b\"><em>clickbait <\/em>saat anda menonton video<\/a> di YouTube\u2014jebakan Batman.<\/p>\n<p>Setelah sekian lama saya mengamati, ternyata banyak juga penulis yang buru-buru menanggapi\u2014menuliskan\u2014sesuatu yang viral. Biar keren\u2014kita sebut istilahnya\u2014berpartisipasi membuatnya semakin viral. Motivasinya, saya jelas tidak tahu. Bisa ingin memanfaatkan momen untuk popularitasnya sebagai penulis. Bisa pula karena merasa itu sangat penting untuk khalayak banyak. Atau, bisa pula otaknya sedang buntu\u2014kehabisan topik karena tidak ada ide bagus yang bisa membuatnya orgasme secara intelektual maupun spiritual. <em>hahaha<\/em><\/p>\n<p>Saya pribadi tidak suka buru-buru merespon atau menanggapi sesuatu yang viral. Ada beberapa alasan. <strong>Pertama<\/strong>, biasanya yang viral sifatnya sensasional\u2014emosional\u2014dan cepat pula berlalu. <strong>Kedua<\/strong>, sesuatu yang viral biasanya langsung dikerumuni banyak orang. Saya bukan tipe orang yang suka ikut-ikutan\u2014kalian pasti sudah pernah dengar pepatah tentang singa dan domba itu kan?\u2014<em>hehe<\/em>. <strong>Ketiga<\/strong>, ini berhubungan dengan cermin di awal tulisan ini.<\/p>\n<p>Dari dulu saya dinasehati supaya membuat keputusan\u2014tanggapan\u2014dalam keadaan tenang, pikiran sedang jernih, dan emosi sedang tidak menggebu-gebu\u2014sangat sedih atau sangat senang. Guru-guru spiritual saya\u2014mereka sering saya temukan di tulisan-tulisan, di sebuah acara, di mana saja\u2014bilang, kita harus mengambil jarak terhadap segala sesuatu supaya bisa melihatnya dengan jelas. Dengan adanya jarak, emosi kita akan lebih stabil. Bahkan dengan adanya jarak, bukan hanya rindu yang mekar tapi sifat asli pacarmu juga jadi ketahuan\u2014sabar ya kalau diselingkuhin karena LDR. <em>haha<\/em><\/p>\n<p>Intinya, jarak memberikan kesempatan kepada diri kita untuk merenung, bercermin\u2014berefleksi. Saat kita merenung, kita bisa melakukan pemilahan dengan jelas atau sering disebut <em>discernment. <\/em>Dengan mengambil jarak satu atau dua meter dari cermin, kalian akan melihat dengan jelas apa yang ada dalam cermin\u2014peristiwa. Kalian akan bisa melihat mata, rambut, telinga, dada, tangan, kaki bahkan kalau sedang telanjang, kalian bisa melihat tahi lalat yang ada di dekat selangkangan.<\/p>\n<p>Selain itu, dalam cermin kamu juga bisa melihat sesuatu yang lain seperti meja, tembok, lukisan mantan, buku atau apa saja yang ada di belakang bayanganmu. Jadi, kalau kita tidak mengambil jarak, tentu yang bisa kita lihat hanya sedikit. Sialnya, itu pun kabur. Lalu mengapa masih <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esd\/esai\/kebelet-menikah\/\"><em>ngebet banget<\/em><\/a> menanggapi sesuatu yang viral?<\/p>\n<p>Kalian boleh menggelengkan kepala atau menganggukkan kepala dengan tulisan ini. Jangan khawatir saya bukan nabi yang butuh pengikut. Saya hanya mengutarakan pendapat pribadi dan bagaimana saya bersikap. Saya percaya, meskipun saya menulis hal-hal remeh temeh, tidak sedang viral atau tidak menarik\u2014menjual\u2014menurut kaca mata bisnis, kalau yang saya tulis itu punya manfaat (nilai), pada akhirnya orang-orang akan tiba pada tulisan saya.<\/p>\n<p>Kalau kita setia menuliskan sesuatu yang bermanfaat, berkualitas\u2014esensial\u2014pelan tapi pasti, kita akan punya pembaca yang setia. Akhir kata, jangan lupa bercermin. Apapun profesi kalian, kalian perlu merenung sebab hidup yang tak direnungkan tak layak dijalani kata Socrates. Tapi ingat, jangan lupa ambil jarak.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yang viral tersebut seolah-olah sangat mendesak, krusial dan penting bagi kehidupan saya sehingga saya harus mengikutinya dan tidak boleh ketinggalan.<\/p>\n","protected":false},"author":161,"featured_media":5985,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12906],"tags":[401,1557,1094],"class_list":["post-5934","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-media-sosial","tag-kritik-sosial","tag-panjat-sosial","tag-viral"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5934","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/161"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5934"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5934\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5985"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5934"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5934"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5934"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}