{"id":5841,"date":"2019-07-30T07:30:36","date_gmt":"2019-07-30T00:30:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=5841"},"modified":"2022-01-18T12:19:21","modified_gmt":"2022-01-18T05:19:21","slug":"jangan-jangan-jurusan-pendidikan-cuma-dijadiin-hiasan-doang-di-kampus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-jangan-jurusan-pendidikan-cuma-dijadiin-hiasan-doang-di-kampus\/","title":{"rendered":"Jangan-Jangan Jurusan Pendidikan Cuma Dijadiin Hiasan Doang di Kampus"},"content":{"rendered":"<p>Di umur 25 tahun ini, obrolan-obrolan ringan sepertinya mulai menghilang dan digantikan obrolan serius tentang hidup. Waktu nongkrong bareng teman-teman nggak jauh yang dibahas ya kerjaan atau jodoh. Bahkan buat sekedar basa-basi membuka obrolan dengan teman lama pun temanya itu. Pertanyaan seperti \u201ckerja di mana sekarang?\u201d \u201c<a href=\"https:\/\/tirto.id\/q\/persiapan-pernikahan-jGb\">kapan nikah<\/a>?\u201d \u201csama orang mana nih sekarang?\u201d sering jadi pilihan buat membuka obrolan, lalu mengalir begitu saja sampai semua hal tentang kerjaan dan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/edi\/esai\/ademnya-tafsir-tentang-jodoh-dan-pernikahan-menurut-quraish-shihab\/\"> jodoh habis dibahas<\/a>.<\/p>\n<p>Setidaknya begitu yang terjadi pada saya dan teman kuliah waktu bulan puasa kemarin. Di tengah-tengah obrolan tentang hidup, ada satu pernyataannya yang cukup mengganggu saya. Dia bilang, \u201cjangan-jangan jurusan pendidikan ada cuma buat jadi hiasan di kampus aja ya.\u201d Kami berdua sama-sama lulusan dari jurusan pendidikan dan bergelar Sarjana Pendidikan. Hebatnya, tidak ada satupun dari kami yang menjadi guru. Pernyataan tadi lahir dari keluhan kami yang bingung mau melamar kerja ke mana.<\/p>\n<p>Di era teknologi, banyak lowongan kerja yang lebih membutuhkan mahasiswa lulusn dari jurusan yang berhubungan dengan teknologi dan informasi. Dengan kata lain, saya yang lulusan jurusan pendidikan ini sudah makin sedikit peminatnya. Kalaupun ada, paling saya harus cari lowongan yang menyantumkan \u201cuntuk semua jurusan\u201d di dalamnya. Saya bukannya nggak melirik lowongan-lowongan buat tenaga pendidik di sekolah-sekolah, tapi saya nggak munafik kalau pendapatan sebagai guru honorer kurang mampu mencukupi kebutuhan hidup.<\/p>\n<p>Profesi guru memang menjanjikan, tapi itu buat guru yang statusnya sudah jadi PNS bukan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surat-cinta-dari-guru-honorer-di-kampung-sebagai-hadiah-spesial-untuk-bapak-jokowi\/\">honorer<\/a> lagi. Apalagi dengan adanya sertifikasi dari pemerintah yang jumlahnya bisa sangat besar\u2014dibandingkan gaji pokok guru\u2014menjadikan profesi guru sebagai profesi yang banyak diburu. Sayangnya, jangankan saya yang baru lulus satu tahun dari kampus, masih banyak guru honorer yang sudah mengabdi bertahun-tahun tapi masih belum jelas nasibnya. Ya memang, sih, sekarang ada seleksi nasional CPNS yang bisa dicoba tapi tetap saja untuk lolos seleksi nggak semudah membalikan telapak tangan.<\/p>\n<p>Akibat dari profesi guru yang sudah dianggap menjanjikan, banyak calon-calon mahasiswa baru memilih masuk ke jurusan pendidikan. Jurusan pendidikan juga sekarang jumlahnya nggak sedikit. Menurut data dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi ada sekitar 5 ribu program studi pendidikan di universitas negeri dan swasta di seluruh Indonesia. Dari 5 ribu program studi tadi, jumlah total mahasiswanya ada sekitar 1.388.514 orang. Artinya rata-rata jumlah mahasiswa jurusan pendidikan di setiap kampus ada sekitar 277 ribu. Bisa disimpulkan setiap tahun ada ribuan <em>fresh graduate <\/em>dengan gelar S.Pd sedangkan lowongan kerja untuk guru jauh lebih sedikit, tahun 2017 saja hanya ada 27 ribu lowongan. Berdasarkan hal ini, rasanya tidak berlebihan kalau teman saya menganggap jurusan pendidikan hanya \u201chiasan\u201d saja di kampus. Kalau setiap tahun terus begini, berapa juta lulusan pendidikan yang harus kebingungan mau ngelamar kerja kemana?<\/p>\n<p>Hubungan antara sarjana pendidikan dan lowongan kerja itu mirip seperti cowok yang mau pdkt sama cewek tapi udah tahu kalau ceweknya nggak suka alias ditolak sejak dini. Baru juga mau ngirim lamaran udah ditolak duluan karena gak ada syarat \u201cuntuk semua jurusan\u201d <em>tea, <\/em>kan bingung saya. Mau diusahain pun kok rasanya kayak orang gila gitu, padahal sarjana.<\/p>\n<p>Kalau dalam ilmu bisnis ala-ala yang saya pelajari dari teman, katanya kalau jumlah barang sudah melebihi permintaan maka harga barang tersebut menjadi turun. Loh, kok, bener banget, sih? Karena jumlah sarjana pendidikan lebih banyak dari pada lapangan kerja\u2014dalam bidang pendidikan\u2014nya, gelar sarjana pendidikan jadi kayak yang turun. Menurut saya, sekarang ijazah SMK lebih berharga daripada ijazah Sarjana Pendidikan. Tapi semoga itu nggak jadi kenyataan, nanti yang susah saya juga soalnya hehehe<\/p>\n<p><em>Akhirul kalam, <\/em>saya membuat tulisan ini bukan untuk mengharapkan pemerintah <span style=\"text-decoration: line-through;\">memperhatikan nasib saya<\/span> mencari solusi dari hal ini. Anggap saja tulisan ini sebagai keluhan dari\u00a0 seorang pemuda pengangguran. Kalau ada manfaatnya buat saya, syukur <em>alhamdulillah<\/em>, kalau nggak juga ya nggak apa-apa.<\/p>\n<p>Hidup pendidikan Indonesia!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kami berdua sama-sama lulusan dari jurusan pendidikan dan bergelar Sarjana Pendidikan. Hebatnya, tidak ada satupun dari kami yang menjadi guru.<\/p>\n","protected":false},"author":158,"featured_media":8286,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[73,751,2094,1123,2093,175],"class_list":["post-5841","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-cari-kerja","tag-generasi-muda","tag-guru","tag-guru-honorer","tag-jurusan-pendidikan","tag-pendidikan"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5841","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/158"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5841"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5841\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8286"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5841"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5841"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5841"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}