{"id":57976,"date":"2020-06-19T17:01:30","date_gmt":"2020-06-19T10:01:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=57976"},"modified":"2020-06-19T17:01:30","modified_gmt":"2020-06-19T10:01:30","slug":"pengalaman-saya-beli-followers-instagram","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-saya-beli-followers-instagram\/","title":{"rendered":"Pengalaman Saya Beli Followers Instagram"},"content":{"rendered":"<p>Jangan pernah menghakimi mereka yang beli <em>followers <\/em>Instagram. Sungguh. Karena saat kalian menghakimi mereka, berarti saya termasuk kaum yang dihakimi itu wkwkw. Pokoknya jangan menghakimi lah, soalnya kita nggak pernah tahu apa alasan seseorang kenapa dia beli followers, dan FYI aja, alasannya bukan melulu karena malu udah bertahun-tahun punya Instagram tapi followersnya mentok di angka 500-an aja.<\/p>\n<p>Alasan lain itu misalnya&#8230; memberi nafkah kepada penjual <em>followers<\/em>, barangkali. Atau sekadar iseng dan ngetes seberapa efektif beli <em>followers<\/em> untuk berinteraksi sama kita. Atau untuk akun bisnis di awal-awal biar kelihatan lebih punya <em>value<\/em> pas ngiklan. Pokoknya macem-macem, lah.<\/p>\n<p>Nah, konsep jual beli <em>followers <\/em>instagram\u00a0itu sebenarnya simpel. Jadi penyedia jasa jual <em>followers <\/em>itu punya database berisi akun-akun instagram yang didapatkan. Cara mendapatkannya macem-macem, ada yang dapet setelah akun tersebut melakukan pembelian, ada juga dapet karena akun-akun tersebut pernah pake aplikasi yang bisa bikin <em>followers<\/em>nya nambah. Pokoknya mereka punya database banyak akun. Nah, saat kita beli <em>followers<\/em>, penyedia jasa ini akan memanfaatkan akun-akun dari databasenya untuk mem<em>follow<\/em> akun yang beli tadi.<\/p>\n<p>Iya, penyedia jasa bisa mengendalikan kegiatan dari semua akun di databasenya, tetapi sebatas untuk <em>like <\/em>dan <em>follow<\/em> saja, nggak sampai ngubah kata sandi. Saat kita membeli <em>followers<\/em> untuk sebuah akun Instagram kita, secara otomatis akun Instagram kita itu juga masuk ke database penyedia jasa dan bisa digunakan untuk mem<em>follow <\/em>akun-akun lain. Rantai hidupnya kayak gitu terus.<\/p>\n<p>Makanya, pernah nggak kita tiba-tiba <em>follow<\/em> akun yang nggak kita kenal? Bisa jadi itu karena aksi jual beli tadi, dan ini nggak berbahaya kok. Kalo kita melakukan penyortiran <em>following<\/em> kita, kita bisa <em>unfollow <\/em>\u00a0akun-akun asing kapan saja.<\/p>\n<p>Nah, beberapa waktu lalu saya mencoba membeli <em>followers, <\/em>tentunya bukan untuk akun pribadi saya, karena sekalipun jumlah <em>followers<\/em> saya nggak sampai seribu, tetapi saya bangga dan interaksinya bagus, pun saya juga bukan penggila <em>followers<\/em> bejibun\u2014halah, ini sih karena emang <em>followers<\/em>nya nggak banyak aja.<\/p>\n<p>Saya beli <em>followers<\/em> itu untuk sebuah akun media milik rekan saya, biar kelihatan <em>followers<\/em>nya mayan banyak, jadi kalo dia ngiklan, nggak keliatan kampungan karena <em>followers<\/em>nya dikit. Maka mulailah saya cari jasa jual beli <em>followers<\/em> dan langsung nemu banyak pilihan. Saya memilih salah satu dan melihat-lihat jasanya yang ternyata ada banyak. Ada jasa nambah <em>like,<\/em> ada jasa nambah <em>followers <\/em>dari seluruh dunia\u2014lebih murah\u2014ada pula jasa nambah <em>followers<\/em> khusus Indonesia dan yang itu lebih mahal, karena akan terkesan asli.<\/p>\n<p>Saya memilih yang Indonesia. Untuk percobaan, saya membeli 100 <em>followers<\/em> dengan kisaran harga tiga puluh ribuan. Setelah melakukan transfer, saya harus menunggu selambat-lambatnya tiga hari untuk prosesnya selesai. Benar saja, dalam waktu nggak sampai tiga hari, banyak akun yang tiba-tiba <em>follow<\/em> akun yang saya kelola itu.<\/p>\n<p>Bagaimana dengan jumlahnya? Apa beneran seratus? Apa kurang? Apa lebih? Eh ternyata malah lebih. Saya memesan seratus <em>followers<\/em>, tetapi yang datang jauh lebih banyak yaitu seratus dua puluh <em>followers.<\/em> Awalnya saya heran, apakah penyedia jasa yang saya gunakan sedang berbaik hati atau gimana, sampai-sampai saya diberi bonus dua puluh <em>followers.<\/em> Saya sudah mau berterima kasih, sebelum akhirnya mengetahui kenapa belinya seratus, dapatnya seratus dua puluh.<\/p>\n<p>Semua itu untuk mengantisipasi penurunan jumlah. Iya, karena dapetnya cepat, maka berkurangnya juga cepat. Dalam beberapa hari semenjak penambahan <em>followers<\/em>, jumlahnya semakin berkurang dan hanya tersisa seratus saja. Iya, berkurang dua puluh, sesuai jumlah bonus tadi. Jadi memang sengaja dilebihkan karena penyedia jasa sudah tau kalau pasti jumlahnya akan menurun. Bisa-bisa kalau diberinya ngepas seratus, yang pada akhirnya bertahan malah delapan puluhan. Kan kecewa.<\/p>\n<p>Itu dari segi jumlah yang dibuat sebisa mungkin sesuai dengan pesanan. Lalu bagaimana dengan akun-akunnya sendiri? Apakah akun asli atau akun-akun nggak jelas? Eh ternyata bener, akun-akun yang <em>follow<\/em> memang akun aktif dan asli Indonesia. Saya mengecek lumayan banyak akun dan semuanya aktif di Instagram, bukan akun <em>second <\/em>yang lama nggak dibuka pemiliknya.<\/p>\n<p>Tetapi meski semua akunnya adalah akun asli, lupakan akan tercipta interaksi seperti <em>like<\/em> atau ngasih komentar, atau ngirim DM sekalian. Nggak usah ngimpi bakal dapat interaksi seperti itu. Ibaratnya, akun yang di<em>follow<\/em> itu bukan akun yang diinginkan dan malah nggak tau kalau akun itu mereka <em>follow,<\/em> ya jangan harap eksitensi akun kita bakal diperhatikan. Mutlak hanya untuk menambah jumlah <em>followers.<\/em><\/p>\n<p>Tetapi memang dari awal niat saya membeli <em>followers<\/em> bukan untuk mendapat interaksi. Bahkan nggak peduli juga kalau nanti mereka berhenti <em>follow<\/em> akun yang saya kelola itu. Pokoknya setelah masa promosi akun milik teman saya yang saya kelola itu, akun tersebut wajib kelihatan punya banyak <em>followers, <\/em>biar orang-orang yang lihat akun itu tertarik <em>follow <\/em>juga. Terbukti berhasil. Setelah melakukan promosi di Instagram melalui program facebook ads, jumlah followers akun itu naik pesat. Jumlah yang bertambah bisa menyamai jumlah <em>followers<\/em> yang saya beli sebelumnya, bahkan semakin waktu semakin bertambah.<\/p>\n<p>Beberapa kali memang terjadi lonjakan penurunan, tetapi yang <em>unfollow<\/em> itu adalah akun-akun yang saya dapatkan dari beli tadi, bukan akun yang memang <em>follow<\/em> karena tertarik dengan akun tersebut. Jadi ya kalau kemudian ditanya berapa persen akun yang masih bertahan sampai saat ini\u2014sekitar dua bulan berlalu semenjak beli\u2014maka yang tersisa hanya sekitar lima puluh, atau setengahnya sendiri.<\/p>\n<p>Tapi bodo amat, toh strateginya berhasil.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-kenapa-kita-pelan-pelan-perlu-meninggalkan-instagram\/\">Alasan Kenapa Kita Pelan-Pelan Perlu Meninggalkan Instagram<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/riyanto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Riyanto<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meski semua akunnya adalah akun asli, lupakan akan tercipta interaksi seperti like atau ngasih komentar, atau ngirim DM sekalian.<\/p>\n","protected":false},"author":702,"featured_media":20563,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[7344,7345,1093],"class_list":["post-57976","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-beli-followers","tag-followers-instagram","tag-instagram"],"modified_by":"Nia Lavinia","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57976","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/702"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57976"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57976\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20563"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57976"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57976"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57976"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}