{"id":57159,"date":"2020-06-18T15:46:48","date_gmt":"2020-06-18T08:46:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=57159"},"modified":"2020-06-18T15:46:48","modified_gmt":"2020-06-18T08:46:48","slug":"dear-mas-pacar-cewek-punya-sahabat-cowok-tidak-melulu-berakhir-suka-sama-suka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dear-mas-pacar-cewek-punya-sahabat-cowok-tidak-melulu-berakhir-suka-sama-suka\/","title":{"rendered":"Dear Mas Pacar, Cewek Punya Sahabat Cowok Tidak Melulu Berakhir Suka Sama Suka"},"content":{"rendered":"<p>Selama kurang lebih 20 tahun hidup di dunia, saya patut berbangga hati karena jangkauan \u201cmain\u201d saya cukup luas. Hidup saya tidak melulu berbicara tentang mode, perhiasan, atau Instagram cowok ganteng berkat hadirnya figur sahabat laki-laki. Nggak cuma itu, punya sahabat laki-laki cukup ampuh menangkal serangan fakboi yang berniat memainkan perasaan. Sobat lelaki bisa jadi keran aspirasi, ide, dan perspektif dalam menanggapi fakboi kurang\u00a0ajar. Namun, punya sobat lelaki juga bisa jadi bumerang di waktu dan kondisi tertentu, contohnya saat kita punya pacar. Eits, pacar bukan sembarang pacar, tapi pacar yang cemburuan.<\/p>\n<p>Membahas sosok kekasih tersayang memang selalu berhasil melunakkan hati. Seburuk apapun sifat mas atau mba pacar, kita selalu memaklumi. Namun, ada satu sifat dari pasangan yang bikin saya bete tingkat tinggi. Tingkat kekesalannya bukan lagi sekadar jawab \u201cAku ngapapa kok\u201d kalau ditanya \u201cKamu kenapa?\u201d, tapi udah di titik mau bisikin ayat Kursi di samping telinganya. Yak tepat, saya paling benci punya pacar posesif.<\/p>\n<p>Pernah suatu ketika mantan saya marah karena saya ngucapin \u201cget well soon\u201d ke seorang sahabat laki-laki. Loh, saya juga bakal melakukan hal yang sama ke seseorang di pinggir jalan sekali pun kalau memang kelihatan kurang sehat. Saya mencoba bertanya, salah saya di mana?<\/p>\n<p>Berulang kali sudah saya ikrarkan, \u201csahabat adalah sahabat, pacar adalah pacar\u201d tiap kali membangun hubungan dengan lawan jenis. Seolah pejabat publik yang hanya pandai beretorika, saya tidak pernah benar-benar dipercaya oleh pasangan. \u201cAh, dusta! mana ada sahabatan tanpa melibatkan perasaan,\u201d begitu katanya. Ya, ini buktinya ada, bhambank~<\/p>\n<p>Parahnya, trust issue mas pacar tadi memunculkan masalah-masalah yang sebenarnya nggak perlu terjadi. Pertama, hubungan saya dan sahabat merenggang. Dengan dalih merasa nggak enak, sahabat laki-laki saya perlahan menjauh. Kedua, memunculkan opsi semu, \u201ckamu pilih aku atau sahabat kamu?\u201d. Plis deh, mending kita berdebat perkara bubur diaduk atau bubur disedot aja. Ketiga, berada di ambang putus hubungan. Nah, ini!!!1!!1!<\/p>\n<p>Oke, saya perjelas. Cemburu memang lumrah bahkan terkadang diperlukan untuk validasi perasaan. Namun, cemburu jangan sampai tidak dibarengi dengan rasionalitas. Buat apa cemburu kalau ada penjelasan berdasarkan fakta di lapangan?<\/p>\n<p>Saya tipikal orang yang gemar mengkotak-kotakan di dalam ranah relationship. Saya punya tembok besar yang membatasi apa-apa saja yang harus dilakukan dan nggak dilakukan. Buat saya, pacar berkontribusi dalam pencapaian hasrat manusia untuk merasa dicinta dan mencinta, dengan bumbu romansa tentunya.<\/p>\n<p>Berbeda lagi dengan sahabat, tukang sayur, atau seleb TikTok yang sering saya tiru resep masakannya. Intinya, semua punya jobdesc dan saya berkomitmen untuk selalu menempatkannya di dalam kotak-kotak tadi.<\/p>\n<p>Dugaan saya mengenai sikap posesif mas pacar adalah bisa jadi memang konsep pemikiran di dalam hubungan kita berbeda. Bisa jadi saya yang kelewat rasional atau dia yang terlalu mengagungkan anggapan sahabatan lawan jenis pasti berakhir suka. Nyatanya, saya dan sahabat laki-laki saya tidak pernah berpikir sampai ke sana.<\/p>\n<p>Dalam menjalin hubungan dengan pacar nggak butuh persamaan persepsi ngejelimet mesti sama-sama suka ini suka itu. Hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita mengenali kepribadian dan lingkungan pasangan. Kalau pasangan udah bisa percaya dan mengerti kondisi lingkungan dan pertemanan kita, dijamin deh, posesifnya bakal jadi posesif yang elegan. Posesif karena si pacar ngadain acara ulang tahun kucingnya lebih meriah ketimbang acara ulang tahunnya, misalnya. Eh, sama aja nggak, sih?<\/p>\n<p>To the point aja, eksistensi orang yang bersahabat tanpa melibatkan perasaan itu ada. Persahabatan dengan lawan jenis juga nggak sekompleks yang dipikirkan. Awal dekat dengan sahabat saya ini pun karena hal remeh, sebatas sama-sama suka Green Day. Perlu digarisbawahi, \u201csama-sama suka\u201d tadi bukan berarti selalu menjurus ke kisah romantis.<\/p>\n<p>\u201cAh, tapi kan itu bisa jadi awal mula dari perasaan!\u201d Iya, perasaan saling membutuhkan di kala sedih mau pun senang dengan sahabat. Weseeee umummmm.<\/p>\n<p>Pokoknya, saya berpesan kepada siapa pun pacar masa depan saya untuk lebih mengenal saya dan lingkungan pertemanan saya. Nggak ada yang salah kok dengan nimbrung di circle pertemanan pacar (kalo diterima) asal nggak nimbulin intervensi negatif. Malahan, nggak jarang juga hubungan bakal lebih awet kalo kita bisa berbaur sama circle pasangan karena bisa terhindar dari prasangka dan praduga.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mencoba-mengungkap-misteri-di-balik-helm-nyebelin-ojek-online\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mencoba Mengungkap Misteri di Balik Helm Nyebelin Ojek Online<\/a><\/strong>\u00a0atau tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ersya-fadhila-damayanti\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u00a0Ersya Fadhila Damayanti<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cewek bisa punya sahabat cowok dan tidak berujung ke suka sama suka. Perdebatan tentang pertemanan lawan jenis hanya akan menciptakan masalah sepele.<\/p>\n","protected":false},"author":572,"featured_media":58000,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1904,7313],"class_list":["post-57159","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-sahabat","tag-sahabat-cowok"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57159","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/572"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57159"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57159\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/58000"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57159"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57159"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57159"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}