{"id":56942,"date":"2020-06-17T06:00:09","date_gmt":"2020-06-16T23:00:09","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=56942"},"modified":"2020-06-17T10:51:05","modified_gmt":"2020-06-17T03:51:05","slug":"tiga-rekomendasi-album-untuk-melawan-depresi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tiga-rekomendasi-album-untuk-melawan-depresi\/","title":{"rendered":"Tiga Rekomendasi Album untuk Melawan Depresi"},"content":{"rendered":"<p>&#8220;The good is never gone, it&#8217;s the dark before the dawn.&#8221;<\/p>\n<p>Mungkin banyak yang belum pernah mendengar potongan lirik lagu tersebut. Dua penggal kalimat itu berasal dari lagu \u201cShine a Light\u201d karya David Archuleta yang rilis tiga tahun lalu.<\/p>\n<p>Iya, David Archuleta yang nyanyi \u201cCrush\u201d sama \u201cSomething &#8216;Bout Love\u201d itu.. Inget kan?<\/p>\n<p>\u201cShine a Light\u201d merupakan satu dari enam belas lagu yang bernaung dalam album \u201c\u201cPostcard in the Sky\u201d. Lagunya sendiri bertema self-healing yang mengajak kita untuk tetap tangguh meski sedang menghadapi saat-saat sulit. Semenjak kembali dari hiatusnya, kini David Archuleta memang rajin menggarap lagu-lagu bertema mental health.<\/p>\n<p>Memang masih belum banyak penyanyi yang menjadikan mental health sebagai tema utama dari album mereka. Kalau pun ada, mungkin hanya satu dua lagu self-love. Padahal lagu merupakan salah satu alat yang bisa membantu kita melawan depresi. Saya punya tiga rekomendasi album yang bertema mental health yang bisa kamu dengar.<\/p>\n<h4><strong>\u201cPostcard in the Sky\u201d <\/strong><strong>\u201d<\/strong><strong> oleh David Archuleta<\/strong><\/h4>\n<p>Album \u201cPostcard in the Sky\u201d adalah album garapan David Archuleta yang rilis pada tahun 2017. Album ini terdiri dari enam belas lagu. Kesehatan jiwa jadi bahasan utama dalam album ini. David mengemas pelajaran hidup yang diterimanya dalam lagu-lagu ala ballad maupun up beat. Salah satu lagunya yang berjudul \u201cShine a Light\u201d berfokus memberi tahu orang-orang untuk tetap semangat meski sedang terpuruk dan depresi. David mengibaratkan keterpurukan seperti warna gelap langit yang datang sebelum fajar. Jadi meskipun kita saat ini ada di tempat yang suram, pada akhirnya kita bakal sampai juga ke tempat yang cerah.<\/p>\n<p>Lagunya yang lain bertajuk \u201cOther Things in Sight\u201d juga cukup menarik. Melalui lagu ini David mencoba memberitahu orang-orang untuk berhenti menuntut sesuatu darinya. Dia bilang, dia udah punya banyak hal dipikirin, nggak usah ditambah lagi yang aneh-aneh. Relate banget kan?<\/p>\n<p>Invincible adalah salah satu lagu favorit saya. Kalau lagu \u201cOther Things in Sight\u201d ditujukan untuk orang-orang yang suka ngerecokin hidup orang lain, lagu \u201cInvincible\u201d dibuat untuk kalian yang sedang merasa anxious. David Archuleta menulis &#8220;even if you fall it ain&#8217;t over yet&#8221; sebagai nasihat bahwa gagal bukanlah akhir dari segalanya. Dalam lagu ini ada juga bagian yang berbunyi &#8220;you don&#8217;t have to be invincible&#8221;. Menurut David, kalau sedang ada masalah, kita nggak melulu harus sok kuat. Menangis itu nggak apa-apa dan nggak perlu malu kalau suatu saat kita jatuh.<\/p>\n<h4><strong>\u201c<\/strong><strong>Mantra-Mantra<\/strong><strong>\u201d<\/strong><strong> oleh Kunto Aji<\/strong><\/h4>\n<p>Coba siapa yang nggak nangis berceceran waktu dengar \u201cMantra-Mantra\u201d dari Kunto Aji?<\/p>\n<p>Dengan mantra-mantranya yang terbagi ke dalam sepuluh lagu, Kunto Aji menyulap pengalamannya melewati terapi menjadi karya seni yang indah. Lagu-lagu dalam album ini punya kekuatan tak kasat mata bagai keajaiban yang muncul dari mantra. Mulai dari \u201cSulung\u201d, yang dipenuhi pengulangan frasa (atau mantra) mengingatkan kita betapa self-love itu nomor wahid. Harus sayang sama diri sendiri dulu, baru yang lain-lain. Sebagai pengingat, lirik lagunya berbunyi, &#8220;Cukupkanlah ikatanmu. Relakanlah yang tak seharusnya untukmu. Yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri&#8221;.<\/p>\n<p>Dalam album ini, lagu \u201cKonon Katanya\u201d adalah favorit saya, karena lagu ini seolah menyindir kita-kita yang terbiasa hidup berdasarkan nasihat orang. &#8220;Konon Katanya&#8221; kamu bisa bahagia kalau jadi dokter, PNS, dan lain-lain yang akhirnya mengabaikan kebahagian sejati kita. Aji juga mengingatkan kalau hidup itu tidak bisa diukur hanya dengan angka-angka saja.<\/p>\n<p>Lagu lain yang juga jadi primadona adalah \u201cPilu Membiru\u201d. Untuk lagu ini, saya nggak perlu komen. Kayaknya judulnya udah cukup menggambarkan gimana perasaan orang tiap dengar lagu ini: pilu sampai biru (wajahnya). Selain itu, cara terbaik untuk mengetahui betapa menyentuhnya lagu ini adalah dengan membuka kolom komentar video YouTube lagu \u201cPilu Membiru\u201d. Di sana banyak orang membagikan pengalaman mereka melewati masa-masa pilu dan depresi. Bahkan Najwa Shihab aja menangis dengar lagu ini loh.<\/p>\n<h4><strong>\u201c<\/strong><strong>Therapy Session<\/strong><strong>\u201d<\/strong><strong> oleh David Archuleta<\/strong><\/h4>\n<p>Satu lagi album dari David Archuleta. Memang kayaknya David belum selesai mencurahkan perasaannya lewat enam belas lagu di \u201cPostcard in the Sky\u201d , jadi dia butuh satu album lagi untuk curhat. Album kali ini terdiri dari sepuluh lagu.<\/p>\n<p>Yang lucu sebenarnya adalah lagu \u201cParalyzed\u201d. Lagu ini adalah national anthem bagi kaum rebahan. Lagu ini ditulis berdasarkan pengalaman David karena sering ngerasa mager waktu harus ngelakuin sesuatu.<\/p>\n<p>Lagu lainnya yang bertajuk \u201cOk, All Right\u201d menargetkan kaum gagal move on yang masih suka stalking IG mantan sebagai bahan sindiran. &#8220;Sometimes I blink and then I&#8217;m on your Instagram. I see you with your new man but it&#8217;s cool,&#8221; kata David. Dia berpesan, sesekali stalking boleh, tapi habis itu yaudah, it&#8217;s cool!<\/p>\n<p>Tapi tenang, isi album ini bukan cuma sindiran aja. Ada lagu berjudul \u201cYou Worry\u201d yang salah satu potongan liriknya berbunyi &#8220;I hear voices telling me that I could do better, I&#8217;ll make my chances &#8216;cause I wanna do it my way.&#8221; Bisa dilihat lewat lagu ini David coba mengatakan ke orang-orang kalau dia nggak mau disuruh-suruh. Apapun yang dia lakukan harus sesuai dengan kemauannya dan menurut David itu penting demi menjaga kewarasan kita. Dalam hal ini, kita pun harus bisa meniru David. Jangan cuma dengerin saran orang aja, hatimu itu loh didenger juga dong.<\/p>\n<p>Sampai detik ini, tiga album tadi selalu jadi teman saya sehari-hari tiap ngerasa down. Baik David dan Aji menggunakan kemampuan mereka dalam meramu lagu dan menjadikan pengalaman depresi mereka sebagai karya yang bisa membantu banyak orang. Nah untuk kamu yang baca tulisan ini saya harap keberadaan lagu-lagu ini juga bisa membantu kamu meredam perasaan anxious, insecure dan depresi kalian. Semangat!<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/baskara-hindia-putra-dan-lagu-lagunya-yang-diklaim-menyembuhkan-depresi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Baskara \u2018Hindia\u2019 Putra dan Lagu-lagunya yang Diklaim Menyembuhkan Depresi<\/a>.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lagu merupakan salah satu alat yang bisa membantu kita melawan depresi. Saya punya tiga rekomendasi album yang bertema mental health yang bisa kamu dengar.<\/p>\n","protected":false},"author":798,"featured_media":57002,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2589,7296],"class_list":["post-56942","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-depresi","tag-rekomendasi-album"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56942","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/798"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=56942"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56942\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57002"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=56942"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=56942"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=56942"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}