{"id":55742,"date":"2020-06-12T14:06:03","date_gmt":"2020-06-12T07:06:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=55742"},"modified":"2020-06-12T14:06:03","modified_gmt":"2020-06-12T07:06:03","slug":"setelah-sempat-hijrah-sekarang-saya-unhijrah-dan-memutuskan-kembali-jadi-ahli-bidah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/setelah-sempat-hijrah-sekarang-saya-unhijrah-dan-memutuskan-kembali-jadi-ahli-bidah\/","title":{"rendered":"Setelah Sempat Hijrah, Sekarang Saya Unhijrah dan Memutuskan Kembali Jadi Ahli Bid&#8217;ah"},"content":{"rendered":"<p>Alkisah ada seorang gadis desa merantau ke kota untuk mendapat gelar sarjana. Tiba di suatu masa, si gadis yang ilmu agamanya pas-pasan merasakan gejolak yang membara dalam dada. \u201cAku harus berubah!\u201d batinnya. Tanpa ragu, si gadis bergegas <em>menyabet<\/em> gawainya, apalagi kalau bukan mau cari ilmu agama.<\/p>\n<p>Mulailah dia mencari hukum anu, hukum itu. Lalu tak menunggu lama, bak <em>power<\/em> <em>rangers<\/em>, si gadis berubah seketika. Jadilah ia ramai diperbincangkan tetangga dan sanak saudara, <em>Pakdhe<\/em>-nya bertanya <em>\u201cdia nggak ikut aliran sesat to?\u201d.<\/em> Ya maklumlah kota perantauannya sempat ramai diperbincangkan soal aliran radikal yang dianut sekelompok penduduknya. Pantas saja sang <em>Pakdhe<\/em> curiga.<\/p>\n<p><em>Nggak<\/em> mau menutupi, sebenarnya itu kisah saya sendiri haha. Yap! Cerita lama yang saya simpan hingga saya memutuskan ingin berbagi. Tidak memilih yang lain, saya langsung menuju Terminal Mojok untuk menuliskankannya. Ya mau gimana, lha wong memang Mojok yang paling nyaman untuk bernyinyir ria.<\/p>\n<p>Jadi begini, cerita-cerita macam begitu nyatanya tidak saya seorang diri yang alami. <em>Buanyak<\/em>! Bisa dibilang, rata-rata memang begitu. Sebenarnya bukan pakaian yang jadi permasalahannya. Masalahnya lebih ke soal pemahaman si empunya cerita.<\/p>\n<p>Sebagaimana lazimnya penganut setia slogan \u201cKembali pada Al-Qur\u2019an dan Sunnah\u201d saya sempat ikut-ikutan menyalahkan <em>slametan<\/em> lho. Bedanya, saya masih ikut menikmati <em>sego<\/em> berkatan. Lha namanya juga makanan hehehe.<\/p>\n<p>Tidak puas di situ, saya juga ikut menyalahkan Qunut, <em>nggak<\/em> mau baca <em>Usholli<\/em> sampai mengharamkan musik. Gimana <em>nggak<\/em> ikutan, lha memang itu yang tertulis di situs-situs keagamaan yang saya temui. Percaya atau harus percaya, situs-situs macam itu yang ada di barisan atas di Google. Barangkali itu juga yang menyebabkan banyak kawula muda, ada juga yang tua ikut aliran ini. Biar <em>cetho<\/em> langsung sebut saja Salafi-Wahabi.<\/p>\n<p>Kalau dipikir-pikir, slogan \u201cKembali pada Al Qur\u2019an dan Sunnah\u201d memang sekilas nampak begitu manis. Orang yang ilmu agamanya minim jelas <em>kepincut<\/em>, contohnya <em>nggak<\/em> usah jauh-jauh, saya sendiri!<\/p>\n<p>Memang sudah jadi kesepakatan, kalau kitab suci Al-Qur\u2019an dan Hadits adalah sumber dan dalil hukum yang musti diagungkan. Dalam menjalani hidup pun, kita berpedoman pada keduanya kan? Tapi apa iya orang awam seperti saya yang sedari SD langganan sekolah Negeri bisa langsung kembali pada Al-Qur\u2019an dan Sunnah hanya dengan modal membaca terjemahannya? Ya <em>nggak<\/em> to!<\/p>\n<p>Coba bayangkan, kalau slogan ini dikoar-koarkan secara membabi buta ke seluruh penjuru dunia. Mau jadi apa kehidupan kita? Bayangkan kalau setiap ada persoalan, orang awam langsung merujuk pada Al-Qur&#8217;an dan Hadits lalu mengamalkannya. Karena tidak menguasai bahasa Arab, langsung lah ia mengamalkan Al-Qur&#8217;an dan Hadits sesuai dengan teks terjemahannya. Wow!<\/p>\n<p>Sebagai contoh misalnya, ada laki-laki awam yang <em>nggak<\/em> kaya dan <em>nggak<\/em> juga rupawan <em>ngebet<\/em> <em>pengen<\/em> kawin lagi. Terus dia langsung buka Al-Qur\u2019an dan membaca ayat yang membahas tentang poligami. Disebutkan bahwa laki-laki boleh memiliki lebih dari satu istri. Jelas bersorak-sorai lah dia. Langsung <em>gas blar<\/em> menghampiri wanita muda selingkuhanya lalu ke KUA.<\/p>\n<p>Eh sebagaimana pepatah sepandai-pandainya bangkai disimpan, akan tercium baunya juga. Si laki-laki ketahuan punya istri kedua. Gelas, piring, manci, sampai TV dibanting sama istri pertama. Lalu si laki-laki dengan entengnya berkata \u201cJangan marah bunda, poligami itu sunnah. Coba bunda baca Al-Qur&#8217;an deh\u201d. Karena sang istri sama-sama awamnya, dia <em>nerimo<\/em> begitu saja. Akhirnya istri pertama hidup makan ati sampai akhir hayatnya.<\/p>\n<p>Itu salah satu bahaya slogan \u201cKembali pada Al Qur\u2019an dan Sunnah\u201d yang dibangga-banggakan penganutnya. Apa pun perilaku bahkan bisnis dan dagangan mereka yang paling sunnah deh. Selain memakai celana cingkrang sunnah misal juga warung es cendol dawet seger sunnah. Tapi jangan <em>ngarep<\/em> ada \u2018tak gintang-gintang\u2019 nya soalnya musik haram.<\/p>\n<p>Nah karena mereka yang paling sunnah maka di luar aliran mereka adalah ahlul bid\u2019ah. Tahlilan bid\u2019ah, ziarah kubur bid\u2019ah, maulidan bid\u2019ah, sholawatan bid\u2019ah dan tentunya menurut mereka pelaku bid\u2019ah pantas masuk neraka.<\/p>\n<p>Di situ pentingnya memiliki guru yang ilmunya bersambung sanadnya kepada Rasulullah SAW. Tidak modal ngaji di internet saja. Gurulah yang akan menunjukkan pada kitab-kitab tafsir dan fiqih para \u2018Ulama. Bukankah kitab-kitab fiqih para \u2018ulama juga merujuk kepada Al-Qur\u2019an dan Hadits Nabi? Nggak usah sok yes deh, mau menafsiri ayat Al-Qur\u2019an atau hadits pakai akal sendiri.<\/p>\n<p>Misal di contoh soal poligami tadi, hukum poligami bisa jadi sunnah, makruh, bahkan haram. Nah soal itu, \u2018Ulama telah menjelaskannya. Toh hukum asal poligami itu boleh dalam Islam, bukan sunah. Jadi para laki-laki <em>nggak<\/em> usah ngoyo <em>ngumpulin<\/em> duit buat ikut seminar poligami ya!<\/p>\n<p>Nah kalau soal kenapa saya berhenti menekuni aliran berslogan \u201cKembali pada Al-Qur\u2019an dan Sunnah\u201d, karena saya rasa kok hidup saya jadi kaku amat. Nggak ada asyik-asyiknya gitu. Mana saya jadi gampang nyalahin orang, ini sesat itu sesat, kalau gitu saya jadi ngerasa paling bener dong?<\/p>\n<p>Faktor <em>nggak<\/em> betah dan tentunya atas petunjuk dari Allah SWT, kembalilah saya pada Ahlussunnah wal jama\u2019ah an-Nahdliyah. Kembali pada organisasi masyarakat (ormas) Islam terbesar yang dianut mbah saya, bapak saya, ibu saya, pakdhe saya, paklik saya, dan seluruh keluarga besar dan tetangga saya. Akhirnya saya kembali jadi orang yang aliran Salafi-Wahabi sebut sebagai ahlul bid\u2019ah.<\/p>\n<p>Ternyata jadi ahli bid\u2019ah lebih menyenangkan lho. Eh tapi jangan salah, meski ahli bid\u2019ah, saya ahli bid\u2019ah yang baik. Sebagaimana kaidah Imam Syafi\u2019i bahwa bid\u2019ah itu ada dua, bisa jadi baik, juga bisa saja sesat. <em>Nggak<\/em> seperti kata Salafi-Wahabi kalau semua bid\u2019ah itu sesat. Setelah menjadi pelaku bid\u2019ah yang baik atau dikenal juga dengan bid\u2019ah hasanah, hidup saya jadi makin harmonis dan berwarna. Ah beruntungnya saya.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/poligami-bikin-saya-keluar-dari-majlis-hijrah-dan-berhenti-berniqab\/\">Pengalaman Saya Hijrah sampai Berniqab dan Alasan Berhenti Menggunakannya<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/anggi-purnamasari-yulianto\/\">Anggi Purnamasari Yulianto<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerita-cerita macam begini nyatanya tidak saya seorang diri yang alami. Buanyak!<\/p>\n","protected":false},"author":786,"featured_media":23166,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[7203,1177,7202],"class_list":["post-55742","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-ahli-bidah","tag-hijrah","tag-salafi-wahabi"],"modified_by":"Nia Lavinia","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55742","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/786"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55742"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55742\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/23166"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55742"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55742"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55742"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}