{"id":55251,"date":"2020-06-10T14:33:46","date_gmt":"2020-06-10T07:33:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=55251"},"modified":"2020-06-10T14:33:46","modified_gmt":"2020-06-10T07:33:46","slug":"alasan-kenapa-kita-pelan-pelan-perlu-meninggalkan-instagram","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-kenapa-kita-pelan-pelan-perlu-meninggalkan-instagram\/","title":{"rendered":"Alasan Kenapa Kita Pelan-Pelan Perlu Meninggalkan Instagram"},"content":{"rendered":"<p>Ada masa di mana media sosial banyak dipakai orang. Setelah itu, akan muncul waktu pula di mana media sosial tak terpakai lagi. Kita nggak bisa mengelak untuk soal ini.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum mengenal Facebook, kita tahu ada sebuah media yang bisa menghubungkan seseorang dengan orang lain, namanya Friendster, muncul tahun 2002. Friendster bukan media sosial pertama yang lahir di dunia digital, melainkan didahului oleh Blogger yang muncul sekitar 1999.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menyebut Friendster tadi semata-mata karena dari Friendster lah tonggak media sosial mulai berkembang. Friendster hanya bertahan sebentar. Sejak saya mengenal internet dan dunia maya sekitaran tahun 2009, Friendster telah lenyap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak tahu di belahan dunia lainnya, apakah Friendster di tahun tersebut masih dipakai atau tidak. Saya baru mengenal yang namanya Facebook. Media sosial yang diciptakan oleh Marc Zuckerberg CS sekira tahun 2004 itu telah meracuni saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Facebook pun merajai dunia media sosial cukup lama. Namun sekuat apa pun Facebook, tetap saja pernah ditinggalkan penggunanya. Kita tahu sekian tahun lalu pesona Facebook pernah redup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selepas Facebook mendunia, Twitter muncul menjadi pesaingnya. Twitter yang lahir sekitar 2006 itu pun tak membutuhkan waktu lama untuk menguasai jagat media sosial. Twitter yang saat ini tengah kembali naik daun itu pun pernah ditinggalin orang-orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari cerita kawan-kawan saya pengguna Twitter lama, Twitter pernah sepi\u2014nggak seperti sekarang ini. Terlebih kala Instagram hadir dan mengubah paradigma dan cara bermedia sosial yang nggak cuma ngetik status atau nge-tweet, tetapi sekaligus mengunggah foto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari media sosial yang saya sebutkan tadi, hanya Instagram yang pesonanya belum redup. Instagram adalah salah satu di antara sekian banyaknya media sosial yang jumlah penggunanya konsisten.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun 2019 saja, menurut <a href=\"https:\/\/tekno.kompas.com\/read\/2019\/12\/23\/14020057\/sebanyak-inikah-jumlah-pengguna-instagram-di-indonesia\">Survei NapoleonCat<\/a>, pengguna Instagram di Indonesia menyentuh angka 61 juta pengguna. Fantastis bukan? Jika diakumulasikan, sebanyak 22,6 persen dari penduduk Indonesia menggunakan Instagram. Hampir seperempat jumlah keseluruhan penduduk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedigdayaan Instagram sebenarnya mengandung ketidakwajaran sebagai media sosial. Iya, saya katakan tidak wajar. Bukan perkara berdampak negatif\u2014semua medsos memang begitu, melainkan memang sudah saatnya kita pelan-pelan meninggalkan Instagram.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meninggalkan dalam artian tak lagi memakainya dan tidak lagi memasang aplikasinya di ponsel kita, seperti halnya kita memperlakukan media sosial yang saya sebutkan tadi. Loh, memangnya kenapa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya punya alasannya, silakan disimak hingga tuntas. Siapa tahu kamu juga akhirnya minat untuk menanggalkan akun Instagram kamu.<\/span><\/p>\n<h4><b>Menimbulkan Insekyur<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedari awal, Instagram memungkinkan penggunanya untuk membagi foto maupun video. Update status, nge-tweet, atau segala perkara yang berhubungan dengan ketik-mengetik kurang terpakai di Instagram. Soalnya saat pertama buka Instagram, orang bakal melihat foto atau video kamu, bukan kepsyen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau hal ini berangsur-angsur justru membuat sebagian penggunanya merasa insekyur atau tidak percaya diri. Instagram itu kan menampilkan visual kehidupan orang lain. Kalau kehidupan orang yang glamor, keren, good looking, dan bergelimang harta sih nggak masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya jika pengguna Instagram itu orang-orang yang hidupnya biasa saja dan cenderung pas-pasan. Kita (hah, kita?) yang kebetulan bernasib begitu malah jadinya iri, insekyur, dan jelas susah buat bersyukur alih-alih mendapatkan kesenangan bermain Instagram.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin lama bermain Instagram, maka insekyur akan terus terpupuk dalam diri kita. Melihat foto orang lain traveling ke luar negeri iri; nemu foto orang lain dengan pacarnya sinis; melihat foto pernikahan dengki; sampai melihat story orang wisuda jadi kepengin DO.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demi kesehatan mental kamu, supaya nggak punya rasa insekyur setinggi Patung Pancoran, meninggalkan Instagram adalah cara paling jitu. Kalau belum sanggup 100 persen, ya kayak lagunya Kotak Band, pelan-pelan saja.<\/span><\/p>\n<h4><b>Susah Cari Followers<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Punya akun Instagram tapi nggak punya followers sama halnya punya motor tapi nggak ada bensinnya. Punya akun Instagram tapi followers dikit juga sama seperti punya anggota dewan tapi nggak bisa kerja. Makanya, punya followers itu penting banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, mendulang followers tak semudah mendulang bayi dengan bubur promina. Boro-boro dapat ribuan followers, cari followers yang jumlahnya sepadan dengan warga yang ikut rapat RT saja susahnya setengah modyar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Instagram nggak seperti Twitter yang bisa mutualan. Misalnya, kamu follow saya, nanti saya follback. Jadi jangan heran ketika kamu menjumpai seorang karib yang followers Twitter-nya sampai ribuan, sedangkan di Instagram cuma puluhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Facebook pun sama. Walaupun ada batas jumlah pertemanan, mencari teman di Facebook terbilang gampang. Bahkan nih ya, kita bisa berteman dengan tokoh-tokoh tersohor. Facebook saya loh berteman sama penulis-penulis keren, seperti Alfian Dippahatang, Felix K Nesi, Cepi Sabre, sampai Aliurridha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Followers sedikit juga bisa membuat kita kepikiran terus. Gimana nggak kepikiran coba? Dengan followers sedikit, berpengaruh pula ke jumlah like dan views Insta Story. Maka dari itu, kuy ketimbang bingung cari followers Instagram, migrasi ke Twitter saja. Selow bosqueee~<\/span><\/p>\n<h4><b>Boros Paket Data<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh ini pakai Instagram tenang-tenang saja tuh, nggak merasa insekyur. Nggak masalah juga kalau followers hanya sebanyak pasukan pengibar bendera. Oke\u2026 oke\u2026 saya punya satu lagi alasan kunci agar kita mulai meninggalkan Instagram.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu pernah sadar nggak sih, saat berselancar di Instagram, kuotamu cepat habis? Laporan penggunaan data internet kamu juga cepat sekali naik, tahu-tahu sudah segiga saja. Iya, memakai Instagram itu boros paket data internet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya merasakan itu. Baru buka Instagram beberapa detik saja\u2014belum genap semenit, penggunaan data sudah 5 MB-an lebih. Gila! Nggak kebayang kalau menjelajah Instagram sampai berjam-jam, bisa ngabisin voucher data satu etalase tuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika dibandingkan dengan YouTube pun, lebih boros memakai Instagram. Ini serius. Saya kalau disuruh milih, mending nonton komedi tunggal di YouTube ketimbang buka Instagram. Saya nonton satu video YouTube berdurasi 5-10 menit hanya menghabiskan data 5-10 MB.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kapan nih mau meninggalkan Instagram? Toh, Instagram juga telah diakuisisi Facebook. Kita nggak perlu lah ngasih pundi-pundi cuan buat Zuckerberg terlalu banyak. Lha wong pakai Facebook sama WhatsApp saja sudah menghasilkan dollar ke kantong dia kok.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/instagram-berinovasi-nggak-ngaruh-sama-kecemasan-saya\/\">Percuma Instagram Berinovasi, Nggak Ngaruh Tuh Sama Kecemasan Saya<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-arsyad\/\">Muhammad Arsyad<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Daripada waktunya habis dipake main Instagram terus mending ngerjain skripsi ~<\/p>\n","protected":false},"author":448,"featured_media":19293,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1093,42],"class_list":["post-55251","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-instagram","tag-sosial-media"],"modified_by":"Nia Lavinia","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55251","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/448"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55251"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55251\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19293"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55251"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55251"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55251"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}