{"id":5445,"date":"2019-07-03T10:00:59","date_gmt":"2019-07-03T03:00:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=5445"},"modified":"2022-01-20T15:33:20","modified_gmt":"2022-01-20T08:33:20","slug":"mengenang-fenomena-alay-yang-kini-memasuki-fase-kepunahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengenang-fenomena-alay-yang-kini-memasuki-fase-kepunahan\/","title":{"rendered":"Mengenang Fenomena Alay yang Kini Memasuki Fase Kepunahan"},"content":{"rendered":"<p>Kebanyakan dari generasi 90-an boleh berbangga hati dengan apa yang selama ini mereka lalui, dari masa kecil yang dirasa indah karena <em>gadget<\/em>\u2014khususnya <em>handphone<\/em>\u2014belum menjauhkan yang dekat sampai tontonan di televisi yang dianggap menghibur bagi banyak kalangan.<\/p>\n<p>Setelah kemunculan <em>handphone<\/em> yang satu paket dengan segala kecanggihannya, perlahan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/apk\/rame\/list\/5-skenario-reborn-band-populer-90-an\/\">generasi 90-an juga menikmati peran teknologi<\/a> tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Bermain game, <em>streaming<\/em>, dan pastinya sebagai alat komunikasi\u2014baik telepon, <em>chatting<\/em>, pun SMS. Tentunya kecanggihan tersebut akan sia-sia tanpa sentuhan dari manusia.<\/p>\n<p>Namun dalam proses penggunaannya, namanya juga pengguna baru dan kali pertama berhadapan dengan sesuatu yang canggih\u2014pada masanya\u2014banyak diantara kita seperti tidak siap cenderung berlebihan dalam menggunakan fitur yang terdapat pada <em>handphone<\/em>.<\/p>\n<p>Saya ambil contoh dari Ibu saya sendiri, sekitar tahun 2004 Ibu memiliki <em>handphone<\/em> pertamanya, <a href=\"https:\/\/tirto.id\/nokia-raja-yang-belum-mati-bGYt\">Nokia 3310 yang pada masanya teramat canggih<\/a> dengan game Snake dan Space Impact menjadi hiburan selain radio. Karena terlampau senang memiliki \u201cmainan\u201d baru, Ibu menelepon saudara di luar kota sampai dengan bermenit-menit lamanya hanya agar nomornya diketahui saudara. Terkesan pamer, sih, padahal saat itu ada telepon rumah.<\/p>\n<p>Saya sendiri baru memiliki <em>handphone<\/em> saat kelas 2 SMP\u2014itu pun beli <em>second<\/em> menggunakan uang lebaran\u2014dengan layar berwarna oren dan jika dibandingkan <em>handphone<\/em> sekarang, tentu kualitas serta kecanggihan berbeda jauh. Mau bagaimana pun, <em>handphone<\/em> yang dikenal usang itu menjadi awal mula\u2014tetap perlu diakui dan diapresiasi kehadirannya.<\/p>\n<p>Kala itu, pulsa yang saya beli terbilang awet karena hanya digunakan untuk SMS-an dengan teman mengenai PR atau tugas apa yang harus dikumpulkan esok hari sewaktu menjalani aktivitas sebagai siswa SMP. Kemudian yang menjadi tidak biasa adalah siapa pun pembalas SMS-nya pasti menggunakan beberapa kata yang sulit dimengerti\u2014sesekali berupa singkatan\u2014dengan perpaduan huruf besar, kecil, beserta angka.<\/p>\n<p>Misalnya saja saat saya bertanya \u201cBam\u2014Bambang\u2014besok ada PR apa aja?\u201d, jawaban dan balasannya \u201cB5k ad pR bH5 iNd0n3s1A\u201d. Pusing, bukan? Tapi saya cukup yakin pasti kalian langsung paham isi dan maksud dari karakter tersebut. Awalnya saya sempat kesulitan dan perlu berpikir keras dalam mengartikan kalimat tersebut sampai akhirnya saya pun ikut-ikutan menggunakan gabungan karakter demikian dalam berbalas SMS. Ternyata keren juga\u2014pikir saya kala itu\u2014dan sempat menjadi tren pada masanya.<\/p>\n<p>Banyak perubahan kata yang muncul, misalnya saja kata \u201caku\u201d menjadi \u201caq\u201d, \u201ckamu\u201d menjadi \u201cqm\u201d, kata \u201clagi\u201d disingkat menjadi \u201cLg\u201d\u2014huruf L harus besar karena khawatir tertukar dengan huruf \u201ci\u201d kapital, begitu kata teman saya. Lalu yang ajaib adalah huruf \u201cx\u201d sama dengan kata \u201c-nya\u201d, saya ambil contoh pada kata \u201cbersamanya\u201d menjadi \u201cbersamax\u201d. Mengacu pada contoh tersebut, lalu apakah kata \u201cnyamuk\u201d dapat disingkat dan diganti menjadi \u201cxmuk\u201d?<\/p>\n<p>Singkatan, pergantian kata, juga campuran karakter antara huruf dan angka dalam suatu kalimat pada SMS tersebut berlangsung hingga saya SMA kurang lebih sekitar periode 2006-2009. Dengan munculnya <em>provider<\/em> yang memberi tarif Rp1\/karakter waktu itu, menjadi penegas bagi kami yang suka menyingkat kata pada pesan singkat untuk lebih sering dan giat dalam membuat singkatan baru yang lebih unik\u2014dan sulit dimengerti orang lain.<\/p>\n<p>Secara perlahan\u2014dalam kehidupan saya\u2014memasuki awal 2010 secara perlahan penggunaan kata alay mulai berkurang, beberapa singkatan mulai ditiadakan apalagi di ruang lingkup perkuliahan juga sewaktu menghubungi dosen. Jika hal tersebut masih dilakukan sudah pasti akan mendapat teguran.<\/p>\n<p>Pada akhir masa kejayaan penggunaan kata alay\u2014sekali lagi, hal ini mengacu pada generasi angkatan saya\u2014yang tersisa hanyalah kata \u201cW\u201d sebagai pengganti kata \u201cgue\u201d dan \u201cU\u201d untuk kata ganti \u201celu\u201d. Saya cukup yakin beberapa teman kalian masih ada yang menggunakan kata tersebut dalam chatting\u2014begitu pula dengan beberapa teman saya.<\/p>\n<p>Saat ini, di ruang lingkup pertemanan saya sudah bisa dikatakan hampir tidak ada yang menggunakan kata yang mencirikan alay saat berkomunikasi. Semuanya sudah bertransformasi menjadi penikmat senja dan kopi pada bio singkat di media sosialnya. Paling tidak dijadikan caption pada salah satu postingan foto di instagramnya.<\/p>\n<p>Semua yang berkaitan dengan alay seperti menjadi salah satu bagian dari kenangan dan hiburan. Kali ini sebagai salah satu anak generasi 90-an, saya kembali merasa beruntung karena sempat merasakan langsung dan menjadi salah satu pelaku fenomena alay. Ya, mungkin benar apa yang pernah dikatakan Raditya Dika bahwa alay adalah proses menuju kedewasaan.<\/p>\n<p><em>J4di, n6a uSh khW7ir dbL9 4LaY. TrZ cMun6UDh e4aAa, qAq4<\/em>~<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat ini, di ruang lingkup pertemanan saya sudah bisa dikatakan hampir tidak ada yang menggunakan kata yang mencirikan alay saat berkomunikasi.<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":5466,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13080],"tags":[650,1170,1235],"class_list":["post-5445","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-personality","tag-alay","tag-generasi-90an","tag-masa-muda"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5445","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5445"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5445\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5466"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5445"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5445"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5445"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}