{"id":54325,"date":"2020-06-10T19:02:37","date_gmt":"2020-06-10T12:02:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=54325"},"modified":"2022-01-27T16:18:41","modified_gmt":"2022-01-27T09:18:41","slug":"preman-pensiun-episode-14-musim-1-kang-bahar-pensiun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/preman-pensiun-episode-14-musim-1-kang-bahar-pensiun\/","title":{"rendered":"Preman Pensiun Episode 14, Musim 1: Kang Bahar Pensiun!"},"content":{"rendered":"<p>Preman Pensiun episode 14 diawali dengan adegan mertua Kang Mus yang mengeluh kepada Ceu Esih bahwa dirinya bosan sarapan nasi goreng kecap terus.<\/p>\n<p>Setelah cekcok sana-sini, akhirnya Ceu Esih menuruti kemauan ibu kandungnya yang ingin sarapan roti tawar lapis tiga itu. Tak hanya roti tawar loh, rotinya harus dikasih mentega semua, terus juga diolesi selai kacang, stroberi, keju, dan meses. Dasar Ema.<\/p>\n<p>Lantaran Ceu Esih terkesan marah-marah di adegan tersebut, ada satu kalimat dari Ema yang bisa menjadi pembelajaran untuk kita. \u201cKalo kamu nggak mau stroke, jangan stres, jangan ngamuk.\u201d<\/p>\n<p>Adegan beralih ke kediaman Kang Bahar yang telah ramai didatangi anak kandung dan anak buahnya. Memang, saat itu kedua anak Kang Bahar (Kinasih dan Kirani) sudah pulang ke rumah, bahkan Kang Mus, Komar, dan Gobang juga menginap di teras rumah Kang Bahar. Selain itu juga ada Murad dan Pipit yang ditugaskan menjaga pagar rumah.<\/p>\n<p>Rumah Kang Bahar sedang ramai lantaran kondisi kesehatan Mami memburuk. Para anak buah siap siaga di rumah Kang Bahar untuk berjaga-jaga jika dibutuhkan bantuan.<\/p>\n<p>Saat itu si bungsu Kinanti sedang menangis sambil bersandar di bahu Kang Bahar. Sedangkan kedua kakaknya yang baru sampai di Bandung langsung menemani Mami di kamar.<\/p>\n<p>Meskipun kondisi badan sedang tidak bersahabat, saat itu raut wajah Mami tetap terlihat lebih bahagia, sebab seluruh keluarganya berkumpul di satu rumah. Hingga Mami berpesan kepada seluruh keluarga kandungnya itu, seakan momen itu ialah terakhir kali Mami bisa melihat mereka.<\/p>\n<p>Kepada anak pertama, Kinasih, Mami berpesan bahwa dirinya sungguh rindu dengan cucunya. Mami ingin cucunya itu segera dibawa ke Bandung. Karena tak mampu menolak walaupun anaknya harus bersekolah, Kinasih pun mengiyakan permintaan maminya.<\/p>\n<p>Kepada Kirani, Mami bertanya apakah Kirani sudah ada tanda-tanda diberi momongan. Dengan perasaan bersalah, Kirani menjawab dengan kalimat, \u201cBelum, Mi.\u201d Kemudian Mami dengan pasrah mendoakan Kirani untuk segera diberikan momongan.<\/p>\n<p>Kepada Kinanti, Mami berpesan bahwa ia adalah anak yang masih tinggal di rumah sehingga ketika Mami sudah tidak ada umur, ia yang harus menemani atau papinya.<\/p>\n<p>\u201cPapi nggak boleh kesepian, Papi nggak boleh sedih,\u201d itulah secuil pesan Mami kepada Kinanti. Jujur saja saya agak mbrebes mili menontonnya.<\/p>\n<p>Berbeda dengan keadaan di dalam rumah Kang Bahar yang didominasi kesedihan, keadaan luar rumah justru diselimuti kondisi yang penuh emosi tingkat tinggi dan kejadian kocak.<\/p>\n<p>Mulai dari tidak diperbolehkannya lima orang (Uyan, Adit, Ujang, Iwan, dan Jupri) untuk masuk rumah Kang Bahar, marah-marahnya Kang Pipit ke Uyan yang terus senyum-senyum kepadanya, Jamal yang meremehkan dan kurang sopan kepada Kang Mus, Komar yang saat bertelepon dengan istrinya memanggil dengan sebutan \u201cBebeb\u201d, Komar yang kena jambak Kang Mus akibat curi-curi mata ke Imas, hingga adegan Komar marah ke Jamal gara-gara dibilang \u201ccemen\u201d. Kok Komar terus yang kena?<\/p>\n<p>Namun, kondisi dengan cepat bisa kondusif dengan adanya Kang Mus. Bahkan ia rela tidak tidur semalaman demi menunggu perkembangan kondisi kesehatan Mami.<\/p>\n<p>Adegan beralih ke nasib Saep dan Ubed sebagai copet yang akhir-akhir ini justru dilanda keapesan. Saat itu Ubed sedang meratapi nasibnya yang sedang ditinggal oleh Dewi, hingga muncul batang hidung Saep yang mengajaknya beroperasi. Hendak berangkat meluncur, Saep justru mendapat telepon dari Resty, gebetannya, yang meminta ketemuan. Akhirnya operasi dibatalkan, Saep meninggalkan Ubed untuk bertemu Resty.<\/p>\n<p>Tak disangka, ternyata Resty yang baru dikenal Saep ingin meminjam uang satu juta. Alasannya sih untuk membayar uang kuliah. Tanpa berpikir panjang, Saep pun berjanji kepada Resty untuk memberikan uangnya esok hari dan berkata, \u201cSaya senang bisa membantu cewek secantik dan semewah kamu.\u201d Mewah kok ngutang.<\/p>\n<p>Saep memang copet yang payah sekaligus bucin. Ia beralasan ke Ubed bahwa saudaranya ada yang membutuhkan uang untuk biaya operasi, padahal ya butuh uang. Mereka lalu berangkat mencopet untuk mendapatkan uang itu.<\/p>\n<p>Proses mencopet tidak berjalan lancar juga. Baru dapat satu korban, yaitu istri Komar, Ubed justru mengembalikan dompet itu ke empunya. Alasannya sungguh mulia, \u201cIsinya cuma dikit, jadi saya kembalikan,\u201d ucap Ubed jujur kepada Saep.<\/p>\n<p>Alasan Ubed itu saya simpulkan sejalan dengan Dewi. Sebab pada episode sebelumnya, Dewi sempat mencopet dompet Komar, tapi setelah dilihat isinya sungguh memprihatinkan. Hingga akhirnya Dewi mengembalilan dompet itu ke rumah Komar yang diceritakan pada awal Preman Pensiun episode 14 ini.<\/p>\n<p>Kembali ke keluarga Kang Bahar. Kata Kinasih, Mami mulai berbicara ngelantur. \u201cMami mulai ngaco, katanya Almarhum Aki dan Nini datang mau jemput.\u201d Kang Bahar kaget sambil memelototkan matanya. Ia langsung menuju kamar Mami.<\/p>\n<p>Saat Mami telah terbangun, ia memberikan pesan terakhirnya kepada Kang Bahar, bahwa ia ingin diambilkan buku salatnya.<\/p>\n<p>\u201cPapi harus salat lagi ya. Bilang sama anak-anak, juga harus salat , minta doain Mami, biar Mami bisa sampai surga. Mami tunggu Papi di sana ya,\u201d ucap Mami untuk terakhir kalinya.<\/p>\n<p>Setelah seluruh keluarga berkumpul di kamar, saat itu kondisi Mami semakin lemas, hingga saat Kang Bahar mengenggam tangannya, tak ada tenaga yang menyelimuti tangan Mami. Kang Bahar pun berkata, \u201cMami sudah nggak ada.\u201d<\/p>\n<p>Momen teremosional di Preman Pensiun musim 1 sejak episode 1-14 pun terjadi. Kinasih, Kirani, dan Kinanti memeluk Almarhun Mami. Bahkan Kang Bahar dan Kang Mus yang diceritakan sebagai preman tergarang di Kota Bandung tak mampu membendung tangisannya.<\/p>\n<p>Kang Bahar berkata kepada Kang Mus, Almarhum Mami akan dimakamkan di pemakaman keluarga di Garut. Karena masih diselimuti haru yang mendalam, Kang Bahar bernostalgia dengan kenangan Mami. Ia mengingat momen saat sedang menyuapi makan, menyuruh Mami minum obat, bermesraan di teras rumah, hingga momen hangat berbincang dengan anak-anaknya.<\/p>\n<p>Adegan selanjutnya melompat ke hari ke-40 hari meninggalnya Mami.<\/p>\n<p>Kang Mus menghadap Kang Bahar dan ia berkata, \u201cSudah 40 hari tidak ada perintah dari Akang.\u201d Dengan pikiran yang masih terbayang Almarhum Mami, Kang Bahar menjawab bahwa dirinya sudah tidak mau berbisnis lagi.<\/p>\n<p>Sebelum masuk ke rumah, Kang Bahar sempat berkata kepada Kang Mus bahwa dirinya masih sangat ingat dengan Mami walau sudah lewat 40 hari. Kang Mus mencoba menghibur Kang Bahar dengan mengucapkan bahwa 40 hari memang bukan waktu yang terlalu lama, jadi wajar jika Kang Bahar masih teringat.<\/p>\n<p>\u201cSebelum Eceu meninggal, dia bilang mau menunggu saya di surga,\u201d ucap Kang Bahar. Dengan mengucap kalimat seperti itu, saya memahami bahwa Kang Bahar sedang risau, ia tak yakin bisa menyusul almarhum istrinya ke surga jika ia masih kerja dengan bisnisnya.<\/p>\n<p>Kang Mus kaget dengan pernyataan Kang Bahar hingga bertanya, \u201cMaksud Akang?\u201d<\/p>\n<p>Kang Bahar pun mengakhiri Preman Pensiun episode 14 dengan satu kalimat. \u201cAkang itu mau pensiun!\u201d<\/p>\n<p>Judul dari sinetron ini akhirnya terjawab sudah. Lalu bagaimana kondisi anak buah Kang Mus, apakah masih tetap kondusif, atau justru terjadi pergolakan? Simak terus kelanjutannya.<\/p>\n<p><strong>Baca sinopsis semua episode\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/preman-pensiun-musim-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Preman Pensiun musim 1<\/a>\u00a0di sini.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Momen teremosional di Preman Pensiun musim 1 terjadi di Preman Pensiun episode 14 ini. Malapetaka yang tak terhindarkan terjadi. <\/p>\n","protected":false},"author":711,"featured_media":54806,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13082],"tags":[6711,7105,7036],"class_list":["post-54325","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sinetron","tag-preman-pensiun","tag-preman-pensiun-musim-1","tag-review-sinetron"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54325","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/711"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54325"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54325\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54806"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54325"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54325"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54325"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}