{"id":53666,"date":"2020-06-10T19:05:34","date_gmt":"2020-06-10T12:05:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=53666"},"modified":"2022-01-27T16:18:26","modified_gmt":"2022-01-27T09:18:26","slug":"preman-pensiun-episode-15-musim-1-ubed-dapat-kenalan-cewek-cantik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/preman-pensiun-episode-15-musim-1-ubed-dapat-kenalan-cewek-cantik\/","title":{"rendered":"Preman Pensiun Episode 15, Musim 1: Ubed Dapat Kenalan Cewek Cantik"},"content":{"rendered":"<p>Dalam Preman Pensiun episode 15, kesedihan Kang Bahar setelah istrinya meninggal membuat banyak orang khawatir. Cerita dimulai saat Kang Bahar sedang duduk di teras rumah sambil menyirami pohon bonsai. Kemudian Kinanti datang, sebelum berangkat ke kantor dia minta Kang Bahar makan karena dari malam belum makan sama sekali. Kang Bahar hanya mengiyakan.<\/p>\n<p>Selain Kinanti, trio Kirani, Imas dan Amin juga merasa khawatir dengan keadaan Kang Bahar. Imas bilang dia takut Bapak sakit, soalnya Kang Bahar nggak pernah memakan setiap masakan yang dia buat. Ulukutuk, balakutuk, sampai buncis favorit Kang Bahar pun nggak dimakan. Sedangkan Amin bilang Kang Bahar belum pernah pergi keluar rumah atau nonton tivi lagi, kalau diam di ruang tengah cuma melamun saja, katanya.<\/p>\n<p>Adegan lalu pindah ke markas Kang Mus, di situ Kang Mus menanyakan kesetiaan Dikdik pada Kang Bahar. Dikdik bilang dia masih setia sama Kang Bahar tapi bingung, karena Jamal sekarang sudah menganggapnya sebagai pengkhianat sementara Kang Mus sendiri menempatkannya bareng Jamal.<\/p>\n<p>Mengetahui hal itu, Kang Mus kemudian melancarkan serangan balasan pada Jamal. Dia pengin Dikdik jadi mata-mata ganda. Lalu menyuruhnya kembali ke sisi Jamal sambil berpura-pura memihaknya. Bahkan Kang Mus juga minta Dikdik jangan menemuinya lagi kecuali diperintah oleh Jamal atau diminta Kang Mus sendiri. Mantul nggak, tuh? Dikdik yang kerempeng dan lucu itu mendapatkan tugas mahaberat dari Kang Mus.<\/p>\n<p>Adegan kemudian pindah ke taman tempat biasa Ubed sama Dewi ketemu. Di atas kursi, Ubed sedang merayu Dewi.<\/p>\n<p>\u201cAku mau kamu jadi bayang-bayang aku, selalu mengikuti ke mana pun aku pergi,\u201d kata Ubed,<br \/>\n\u201cEnak aja, kamu aja yang jadi bayang-bayang aku,\u201d jawab Dewi<br \/>\n\u201cBoleh,\u201d kata Ubed singkat.<\/p>\n<p>Ternyata adegan itu cuma terjadi dalam khayalan Ubed, aslinya dia sedang duduk di markas sambil mengusap tangan Saep. Saep menyadarkan Ubed, lalu membujuk partnernya itu agar mau menolong dia mengumpulkan uang sebesar 3 juta buat bantu saudaranya yang sakit.<\/p>\n<p>\u201cUangnya buat saudara apa Resty?\u201d tanya Ubed. Ubed tahu partnernya sedang dimanfaatkan Resti. Saep mengelak, dia keukeuh bilang uang itu mau dikasih ke saudaranya. Ubed bertanya sampai tiga kali, baru Saep mau bicara jujur.<\/p>\n<p>\u201cKita harus nolong Resty!\u201d kata Saep coba meyakinkan Ubed. Tapi Ubed keukeuh nggak mau bantu Saep, dia bilang, \u201cKita memang partner dalam urusan nyopet, tapi bukan dalam urusan menolong Resty.\u201d<\/p>\n<p>Mendengar jawaban seperti itu, Saep nggak bisa mengelak lagi.<\/p>\n<p>\u201cSaya jatuh cinta sama Resty. Kamu tahu kan, seorang lelaki akan melakukan apa saja demi perempuan yang dijatuhcintainya.\u201d DIJANTUHCINTAI CENAAAH, GAES~<\/p>\n<p>Setelah Dikdik menghadap Jamal, dia disuruh melakukan kerja sama dengan Yuyun. Untuk itu, Dikdik kembali ke pasar lalu menemui Komar, Iwan, dan Jupri. Dia disambut dengan ucapan Komar yang menuduh Dikdik mau menggoda Yuyun lagi, tapi dengan tenang dia bilang cuma mau nostalgia saja. Jujur, aktingnya Dikdik bagus banget sudah seperti mata-mata kelas kakap di sini. Dia bersikap biasa saja, senyum-senyum menghormati Komar. Bilang kalau dia nggak peduli dengan perseteruan Jamal dengan Kang Mus. Mantul emang!<\/p>\n<p>Selesai basa-basi dengan kawan-kawannya, Dikdik masuk ke pasar lalu mengabari Yuyun bahwa dia mau membicarakan hal yang penting dengannya. Selesai bertemu Yuyun, Dikdik kembali menghadap Komar. Jelas sekali Dikdik sangat berhati-hati agar Komar nggak menaruh curiga lagi padanya.<\/p>\n<p>Setelah itu Dikdik menemui Yuyun di satu sudut pasar yang sepi, oleh Dikdik, Yuyun diberi tugas menggoda setiap \u201ckucing\u201d yang datang padanya. Entah itu Komar, Iwan, atau Jupri. \u201cAda uang satu juta buat anak Euceu, saya kasih setengahnya dulu,\u201d kata Dikdik. Yuyun langsung menerima uang tersebut, lalu mereka berpisah. Selesai bicara dengan Yuyun, Dikdik nggak menemui Komar lagi, tapi langsung pergi ke tempat Jamal.<\/p>\n<p>Singkat cerita, Saep dan Ubed sudah berpisah. Saep menjalankan aksinya seorang diri, meski begitu dia tampak bersemangat sekali, dia dapat tiga korban dalam waktu yang singkat. Emang dasar sial, baru terkumpul sekitar satu juta, Saep malah kena todong. Mungkin copet memang kasta terendah dalam dunia maling, ya. Kasian banget, copet kok kena todong, sih.<\/p>\n<p>Sementara itu, Ubed keliling naik angkot sambil mencari Dewi. Saat mau pindah angkot, dia bertemu seorang wanita cantik. Kulitnya putih, senyumnya menawan. Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Eva. Lalu mereka jalan kaki berdua. Eva curhat soal kesulitannya mencari kerja dengan modal ijazah SMA.<\/p>\n<p>\u201cSenasib dong kita,\u201d jawab Ubed.<\/p>\n<p>Kemudian Eva bilang ada kerjaan dengan gaji besar di Malaysia. Jelas Ubed tertarik. Selama ini dia selalu kesulitan dapat kerjaan, akhirnya pensiun jadi copet pun hanya sebatas wacana. Tapi Eva juga bilang, Ubed harus bayar 5 juta kalau mau kerja di Malaysia.<\/p>\n<p>\u201cAneh, mau kerja kok malah disuruh bayar,\u201d jawab Ubed.<br \/>\n\u201cYa, kan buat bayar jasa penyalur kerja,\u201d balas Eva.<\/p>\n<p>Sebelum berpisah dengan Eva, Ubed sempat menerima telepon dari Dewi. Ubed yang kangen setengah mampus langsung menanyakan kabar Dewi, \u201cKamu ke mana aja, kok ninggalin saya?\u201d Namun Dewi justru bilang Ubed lah yang meninggalkannya karena kembali nyopet meski sudah punya rencana mau buka usaha bareng-bareng.<\/p>\n<p>Di tengah percakapan mereka berdua, Eva nanya siapa yang telepon ke Ubed lalu Ubed mengakhiri pembicaraannya sama Dewi. \u201cPasti cewek, ya?\u201d tanya Eva lagi. Iya, cuma temen aja, jawab Ubed. Sebelum berpisah Ubed minta nomor telepon Eva biar gampang menghubungi lagi kalau nanti duit yang 5 juta sudah ada.<\/p>\n<p>Adegan pindah ke rumah Kang Mus. Di tengah rumah, Kang Mus sedang makan saat Eneng pulang sekolah. Eneng duduk di samping Kang Mus lalu menanyakan hape yang dijanjikan Kang Mus dulu. Kang Mus bilang, \u201cHape Cina yang pintar, yang kata kamu bisa apa aja itu, harganya dua juta. Kamu tahu kan dua juta itu banyak. Bapak aja masih pake hape yang belum pintar, seken lagi, biar bisa nabung buat kamu sekolah. Masa kamu mau royal.\u201d<\/p>\n<p>Eneng kesel mendengar jawaban dari bapaknya. Sambil manyun dia bilang bapaknya pelit, lalu masuk ke kamarnya.<\/p>\n<p>Kemudian Ema datang, dia tanya Eneng mau dibeliin apa sama Kang Mus. \u201cHape Cina, hape pintar,\u201d jawab Kang Mus. Ternyata Ema juga pengin dibeliin hape Cina kayak Eneng. Kang Mus nggak bisa menghadapi mertuanya sendirian, dia harus mencari bantuan, lalu dipanggilah Esih. \u201cTuh tanya si Ema mau apa?\u201d kata Kang Mus ke Esih.<\/p>\n<p>Esih menuruti permintaan Kang Mus, lalu Ema menawab, \u201cEma mau sop Bandung.\u201d Kang Mus heran mendengar jawaban Ema yang berbeda. \u201cJangan bilang sama si Esih kalau Ema minta hape Cina, dia nggak bakal acc!\u201d kata Ema setelah Esih pergi ke dapur menyiapkan sop Bandung untuknya.<\/p>\n<p>Set\u2026 adegan pindah ke rumah Kang Bahar. Dari dalam rumah Kang Bahar melihat Kinanti pulang dianter Adit lewat kaca. Setelah itu dia masuk ke kamar lalu menelepon Kang Mus. Dia minta Kang Mus menjaga Kinanti karena ada temen kantornya yang lagi deketin anaknya itu. Dia nggak mau ada yang main-main sama anaknya.<\/p>\n<p>Bagaimana kelanjutan rencana balas dendam Jamal? Bagaimana nasib Adit setelah Kang Mus mendapatkan perintah dari Kang Bahar? Apakah nanti Ubed jadi berangkat ke Malaysia bareng Eva?<\/p>\n<p><strong>Baca sinopsis semua episode\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/preman-pensiun-musim-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Preman Pensiun musim 1<\/a>\u00a0di sini.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam Preman Pensiun episode 15, kesedihan Kang Bahar setelah istrinya meninggal membuat banyak orang khawatir. Ia jadi mogok makan dan banyak diemnya.<\/p>\n","protected":false},"author":158,"featured_media":54806,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13082],"tags":[6711,7105,7036],"class_list":["post-53666","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sinetron","tag-preman-pensiun","tag-preman-pensiun-musim-1","tag-review-sinetron"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53666","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/158"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53666"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53666\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54806"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53666"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53666"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53666"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}