{"id":52808,"date":"2020-05-30T09:30:22","date_gmt":"2020-05-30T02:30:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=52808"},"modified":"2020-05-30T09:53:16","modified_gmt":"2020-05-30T02:53:16","slug":"andihiyat-adalah-basnya-lini-masa-twitter-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/andihiyat-adalah-basnya-lini-masa-twitter-indonesia\/","title":{"rendered":"Andihiyat Adalah Basnya Lini Masa Twitter Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sekian banyak selebtwit yang ada, Andihiyat sukses menarik perhatian saya. Cowok berambut gondrong ini sudah berada di daftar following saya selama dua tahun. Alasannya sederhana aja, sih, saya suka gaya dia main twitter. Andi di twitter itu santuy, cuek, adem-ayem, dia cuma fokus sama twitnya sendiri; kayak pemain bas dalam satu grup band.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut beberapa artikel di internet, Andi bilang dirinya mulai tenar gara-gara twitnya tahun 2018 lalu. Dalam twit itu dia nyuruh cowok-cowok berhenti DM dia. Waktu itu Andi pake foto profil yang sama seperti yang dia pake sekarang: rambut panjang, kepala nengok ke kanan, pake kacamata. Emang pantes dikira cewek sama banyak cowok, padahal kalau di klik fotonya, keliatan jelas kumis Andi tebel banget. Emang dasar otak fakboi, liat rambut panjang doang langsung DM. Wkwkwk. Twit iitu lalu viral dan jumlah follower Andi bertambah terus tiap hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari kejadian ini, saya yakin bahwa Andi adalah bukti dari rezeki nggak mungkin tertukar. Mari kita renungkan sebentar, menurut data dari statista ada 20,9 juta orang Indonesia yang aktif main twitter tahun 2018 lalu. Kenapa harus Andi yang viral? Kan rambutnya gondrong\u2026 emang berapa banyak orang gondrong di twitter saat itu? Masa cuma Andi doang, sih? Kan nggak mungkin. Berarti emang udah rezekinya dia dapet duit dari twitter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai sekarang, follower Andi sudah 1,9 juta lebih, engagement-nya juga tinggi. Twit dia seminggu ke belakang, paling dikit diritwit 300 orang; di-like 1000 kali lebih; dan di-reply oleh 162 akun. Andi udah lolos dari ujian buru-buru buka twitter saat ada notif; dia juga udah nggak kaget lagi kalau mention tab-nya jebol. Nggak kaya klean-klean yang rame dikit langsung ngeluarin jurus \u201crame amat, gamau mutualan apa?\u201d ckckck\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Engagement tinggi tentu nggak datang begitu saja, banyak <\/span><del><span style=\"font-weight: 400;\">akun kecil yang pansos pake twit a la a la selebtwit<\/span><\/del><span style=\"font-weight: 400;\"> twit Andi yang relate banget sama kehidupan kita semua. Konten twitter cowok gondrong yang pengin nulis buku ini banyak diisi sama masalah receh manusia sehari-hari kayak galau kenapa main hp berjam-jam kuat, tapi sholat yang cuma lima menit males; atau curhat &#8220;iyain aja daripada debat nggak penting, nguras tenaga.&#8221; Ya yang gitu-gitu lah, persis rakyat jelata kayak klean pokoknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Andi juga nggak coba mengedukasi followersnya. Sepengetahuan saya, dia jarang banget ngingetin orang lain soal benar atau salah. Dia juga nggak menunjukan bahwa dia expert dalam bidang tertentu. Bahkan, dia nggak kritik pemerintah di twitter. Sama kayak netizen jelata lain yang bingung mau makan atau tidur pas lagi insomnia. Cuma rezekinya aja yang beda, sisanya sama aja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagusnya lagi, dia nggak pernah ribut sama orang lain; nggak pernah numpang tenar dari keributan-keributan yang muncul di lini masa. Nggak pernah di-spill juga sama cewek-cewek alter (eh, apa pernah tapi saya gatau?). Seperti yang saya bilang di awal tadi, Andi itu kalemnya udah kayak bassist. Dia nggak suka menarik perhatian seperti vokalis; nggak sekeren gitaris juga nggak seheboh drumer.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya membayangkan, twit setiap selebtwit seperti suara alat musik yang ada di dalam grup band. Twit dari mereka yang mengedukasi followersnya adalah suara gitar; keras dan terdengar jelas sepanjang lagu. Lalu twit dari mereka yang mengajak followersnya lebih kritis soal isu-isu \u201cberat\u201d di negeri ini adalah vokalis; menonjol dan selalu menarik perhatian orang lain. Twit para pencari keributan adalah suara drum; paling heboh dan paling keras suaranya. Twit Andi yang jadi suara basnya; pelan dan tertutup suara alat musik yang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun jangan salah, tugas utama bas\u2014dalam sebuah band khususnya\u2014adalah menjaga harmoni dan ritme musik. Saya pikir Andi juga berhasil menjaga keseimbangan lini masa twitter. Dia konsisten memberikan hiburan ke netizen biar nggak stress liat keributan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">gaje <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sama berita soal virus korona terus. Tapi ya gitu, namanya juga bas, butuh fokus lebih agar bisa terdengar suaranya. Artinya netizen juga harus fokus ke Andi kalau mau dapet hiburannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya kalau mau, Andi pasti bisa lebih \u201cmuncul\u201d lagi. Menjadi selebtwit yang menggagas sebuah trending misalnya, seperti Mas Alit dengan birojomblo yang muncul saban weekend. Tapi Andi sepertinya lebih suka pop daripada daripada reggae, dia nggak suka suara bas yang kental dan terdengar jelas sampai bikin tubuh bergerak mengikuti musik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu hal lagi yang membuat saya yakin Andi adalah \u201cbas\u201d nya lini masa twitter Indonesia, yaitu kehadirannya yang saru. Saya pernah coba unfollow dia sekali\u2014tahun kemarin kalau nggak salah\u2014karena emang saya nggak pernah interaksi sama dia. Twit Andi cuma saya baca baca doang bahkan kadang di-skip. Buat apa saya follow dia terus, kan? Anehnya setelah saya unfollow dia, kok jadi ada yang hilang dari lini masa saya ._.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persis banget sama suara bas. Coba saja kamu hilangkan suara bas dari satu lagu\u2014terserah mau lagu apa saja\u2014pasti lagunya jadi sepi, ada yang kurang, nggak enak didengerin, bahkan bisa kehilangan \u201cnyawanya&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi sampai sekarang, meskipun nggak pernah berinteraksi saya masih follow dia. Heran juga, kok bisa kayak gini ya?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah terakhir, siapa tahu nanti Andi baca tulisan ini, silahkan followback akun saya <a href=\"https:\/\/twitter.com\/POG_94\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini<\/a>, Ndi! wkwkwk.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dindasafay-adalah-bukti-kalau-orang-indonesia-punya-bakat-alami-buat-jadi-ahli\/\">Dindasafay Adalah Bukti Kalau Orang Indonesia Punya Bakat Alami Buat Jadi Ahli<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gilang-oktaviana-putra\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gilang Oktaviana Putra<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Andihiyat itu kalemnya udah kayak bassist. Dia nggak suka menarik perhatian seperti vokalis; nggak sekeren gitaris juga nggak seheboh drumer.\u00a0<\/p>\n","protected":false},"author":158,"featured_media":52873,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3525,421],"class_list":["post-52808","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-selebtwit","tag-twitter"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52808","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/158"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52808"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52808\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52873"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52808"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52808"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52808"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}