{"id":52023,"date":"2020-05-26T14:31:27","date_gmt":"2020-05-26T07:31:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=52023"},"modified":"2021-11-01T07:52:44","modified_gmt":"2021-11-01T00:52:44","slug":"alasan-orang-suka-langsung-komen-artikel-padahal-baru-baca-judul-doang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-orang-suka-langsung-komen-artikel-padahal-baru-baca-judul-doang\/","title":{"rendered":"Alasan Orang Suka Langsung Komen Artikel Padahal Baru Baca Judul doang"},"content":{"rendered":"<p><em>Baru baca judul artikel aja jari langsung tergelitik buat ngetik komen.<\/em><\/p>\n<p>Saya belakangan mulai rutin menulis dan mengirimkan tulisannya ke Terminal Mojok. Puji syukur beberapa tulisan saya akhirnya dilirik oleh redaktur dan ditayangkan. Sejak itu pula saya semangat lagi buat menulis.<\/p>\n<p>Kerajinan saya dalam menulis ini berbanding lurus dengan kerajinan orang mengomentari tulisan-tulisan saya. Dari lubuk hati yang terdalam, saya sangat berterima kasih kepada mereka yang suka komen di tulisan saya itu. Soalnya, tanpa komentar mereka, tulisan saya jadi hambar. Meskipun ya saya tahu nggak semua dari mereka membaca lengkap tulisan saya karena banyak yang suka komen di luar konteks tulisan alias komennya malah ke mana-mana wqwq.<\/p>\n<p>Tapi nggak apa-apa, wajar. Kalo urusan komentar, netizen kita kan paling semangat melakukannya. Baru beberapa menit artikel dibagikan, pasti sudah banjir komentar. Khususnya buat artikel-artikel yang membahas isu sensitif, punya kedekatan, dan&#8230; dibagikan di halaman Facebook.<\/p>\n<p>Loh ini serius, artikel yang dibagikan di Facebook paling cepat dikomentari. Saya pernah perhatikan baru 2 menit artikel dibagikan, di sana sudah ada komentar. Padahal kan, satu artikel utuh di Mojok, normalnya selesai dibaca 5-10 menitan. Canggih nggak tuh?<\/p>\n<p>Curiga saya, orang yang komen cepat tadi nggak baca artikelnya secara utuh. Yang penting pokoknya komen dulu dari judul, baca artikel bisa belakangan. Orang kayak gini biasanya jadi bulan-bulanan pembaca lain yang greget ikut komen di komentarnya dia soalnya komennya ngaco atau nggak nyambung blass. Akhirnya tentu saja terjadi perang komentar\u2014dengan orang yang komen cepat tadi ngeyel ketika diingatkan atau ditunjukan kekeliruannya. Hadeeeh.<\/p>\n<p>Kira-kira kenapa ada orang yang suka kayak gitu?<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya punya jawabannya, khusus buat kamu-kamu yang baca artikel ini. Kalau kamu nggak baca, siap-siap menjadi bagian dari mereka\u2014atau malah sudah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mengamati perilaku orang yang hobi komentar tanpa membaca lengkap artikel dari setiap link yang dibagikan. Saya juga tanya-tanya dengan handai tolan yang kebetulan memiliki tabiat demikian. Hasilnya adalah\u2026 jeng, jeng, jeng!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai netizen, saya membaca jawaban mereka ketika ada yang nembak <\/span><del><span style=\"font-weight: 400;\">cewek<\/span><\/del><span style=\"font-weight: 400;\"> pertanyaan &#8220;udah baca artikelnya, mas\/mbak?&#8221; Mereka mempunyai alasan tersendiri dan ajaibnya lagi saya menangkapnya kok ya logis juga.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Takut kehilangan momentum<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada semacam kesan tersendiri kalau bisa menjadi orang pertama yang ngasih like dan komentar pada setiap postingan yang dibagikan, tidak terkecuali link artikel di media online. Begitulah netizen kita. Banyak di antara mereka yang cepet-cepetan pengin komentar dulu. Takut kehilangan momentum atau keduluan orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski beberapa media online atau yang memposting link jarang ngasih balasan, nyatanya adu cepat komentar tetap berlangsung. Mereka penginnya komentar dulu, ya sekadar supaya dianggap orang pertama yang tahu. Kendati belum tentu baca lengkap artikelnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sering terjadi di Halaman Facebook. Saya amati di FP Mojok saja ketika ada satu orang yang memancing diskusi\u2014untuk tak menyebutnya kegaduhan\u2014dengan berkomentar, entah dia membaca lengkap artikelnya atau tidak, yang jelas sesaat setelah itu seseorang lain menanggapinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selepas itu ada orang lain lagi yang ikut menimpalinya. Karena sudah terlanjur berbuah diskusi yang panas, komentar pun semakin banyak. Nah di fase inilah waktu untuk membaca sirna, dan lebih banyak orang memilih untuk ikut nimbrung gitu aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak baca artikelnya sama sekali, bahkan mungkin baca judulnya saja tidak. Mumpung momentumnya pas. Ada postingan, cek kolom komentarnya, dan ikut berkomentar. Setelah ditanya, eh nggak tahu yang lagi dikomentari itu cuma link artikel.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Nggak punya waktu membaca<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membaca artikel lengkap di media online itu paling-paling sekitar 5-10 menit saja. Kira-kira dalam sepeminuman teh kita bisa membaca artikel pendek hingga 5 artikel loh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi ya mau bagaimana lagi. Membaca adalah kegiatan tersulit buat dilakukan. Rasanya membaca artikel itu berat banget. Penginnya sih, baca langsung paham isinya. Tulisan di media online pun terpaksa deh menyesuaikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak media-media online yang menaruh judul yang panjang banget. Fungsinya jelas: buat memudahkan pembaca agar secepat mungkin mengetahui inti artikelnya. Sehingga cukup dengan membaca judulnya, anggaplah paham, terus bisa komentar deh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal bisa jadi judul artikel dan isinya nggak punya kemistri sama sekali. Tetapi bodo amat, yang penting komentar biar kelihatan paham dan mengerti, iya nggak? Toh, kalau baca artikelnya dulu, malah entar nggak keburu buat ikutan komentar yang sedang ramai-ramainya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Nggak punya kuota<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Link-link artikel biasanya nggak cuma disebar via Twitter, Facebook, atau media sosial yang bersifat publik lainnya, tapi juga WhatsApp. Orang lebih leluasa menyebar link artikel via WhatsApp, karena jauh lebih privat dan strategis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang-orang yang ada di WAG, misalnya, yang isinya kerabat sendiri, teman sendiri, atau kumpulan mantan pacar sendiri. Membagi link jadi nggak perlu malu-malu. Apalagi untuk sekadar cari perhatian, ya anggaplah sebagai bahan diskusi di WAG.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasrat berkomentar pun tak terkendali. Tak jarang saya menjumpai orang-orang yang langsung komentar ketika link artikel baru saja satu menit di-share. Saat disinggung supaya baca artikelnya dulu, mereka membalas pesan itu dengan pesan yang menyayat hati: &#8220;nggak punya kuota&#8221;. Gubrak!!!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bingung mau balas apa. Mau nyuruh dia buka link dan baca artikelnya, nggak mungkin. Pengin menyuruhnya diam agar nggak usah komentar, nanti saya yang dikeluarkan WAG, atau nanti saya yang kena marah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak punya kuota adalah alasan paling efektif saat ditanya &#8220;sudah baca artikelnya belum?&#8221; Intinya komentar dulu, baca artikelnya nanti kalau sudah punya kuota internet. Saya memakluminya sih, ya barangkali beneran nggak ada kuota atau cuma punya kuota chattingan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun ada juga yang ngaku-ngaku nggak punya kuota, tapi ikut bersuara di kolom komentar di Twitter dan Facebook. Ibarat pengemis yang datang ke rumah kamu dengan mengendarai Avanza. Duh, kalau begini caranya, iba pun ogah saya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Malas<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap orang berhak malas, tidak ngelakuin apa-apa. Setuju nggak? Begitu pula dalam membaca artikel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, ada orang yang nggak malas ngomentari artikel atau berita hanya dari judulnya, tapi malas kalau baca isinya, ya biarin aja. Biarkan dirinya berkomentar. Sedangkan kita? Malas juga buat menanggapinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Well, itulah tadi alasan-alasan orang lebih suka mengomentari artikel dengan membaca judul saja, tanpa mau baca artikelnya. Barangkali alasan-alasan tersebut juga bisa kamu pakai. Selamat berkomentar~<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rendahnya-minat-baca-masyarakat-indonesia-itu-bukan-hoax-saya-jadi-korbannya\/\">Rendahnya Minat Baca Masyarakat Indonesia Itu Bukan Hoax, Saya Jadi Korbannya!<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-arsyad\/\">Muhammad Arsyad<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Baru 2 menit artikel dibagikan, di sana sudah ada komentar. Padahal, satu artikel utuh di Mojok, normalnya selesai dibaca 5-10 menitan. Canggih nggak tuh?<\/p>\n","protected":false},"author":448,"featured_media":52123,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12906],"tags":[6901,1382,6900,905],"class_list":["post-52023","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-media-sosial","tag-artikel","tag-minat-baca","tag-minat-komentar","tag-netizen"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52023","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/448"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52023"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52023\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52123"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52023"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52023"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52023"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}