{"id":5127,"date":"2019-06-29T16:09:06","date_gmt":"2019-06-29T09:09:06","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=5127"},"modified":"2022-01-13T15:35:09","modified_gmt":"2022-01-13T08:35:09","slug":"paranormal-experience-situ-kesurupan-atau-cari-perhatian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/paranormal-experience-situ-kesurupan-atau-cari-perhatian\/","title":{"rendered":"Paranormal Experience: Situ Kesurupan Atau Cari Perhatian?"},"content":{"rendered":"<p>Sejujurnya tulisan ini dibuat pertama-tama sebagai bentuk reaksi terhadap viralnya fenomena spiritual. Ditambah lagi sepertinya konten berbau mistis bisa sedikit mengangkat <em><i>viewer<\/i><\/em>\u00a0tulisan saya di Mojok.<\/p>\n<p>Oke deh, sebagai permulaan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pea\/komen\/kepsuk\/kiat-sederhana-membuka-pintu-rezeki-versi-kimpul\/\">saya akan membuka diri terlebih dahulu<\/a>. Sebagai seorang mas-mas yang <a href=\"https:\/\/tirto.id\/skeptis-atas-hasil-survei-belajar-dari-pilpres-2014-pilkada-dki-cJmt\">selalu skeptis terhadap hal-hal yang berbau gaib<\/a>, bagi saya pribadi memang sangat sulit guna mempercayai hal-hal yang terjadi di luar nalar.<\/p>\n<p>Contohnya saya pernah mengalami berada di situasi di mana salah seorang teman saya kesurupan. Pada sekitar tahun 2011 semasa SMA di Bandung, seorang kawan saya mengajak aku dan 3 temanku guna menginap di sebuah Villa miliknya di daerah dataran tinggi Ciwidey. Kebetulan hari itu memang villanya sedang kosong, oleh karena itu kami bersepakat <em><i>\u201cokelah berangkat\u201d<\/i><\/em>\u00a0tanpa banyak persiapan.<\/p>\n<p>Dari siang sampai sore, tidak ada kejanggalan. Kami bertiga bermain dengan bebas dan lepas. Marko tidak ikut bermain karena alasan lelah. Tibalah malam hari, di mana semua orang sudah mulai capek karena keasyikan menghabiskan tenaga dari siang. Suasana sangat tenang waktu itu. Kami berempat pun berjejer tidur di tengah Villa.<\/p>\n<p>Tanpa ada angin tanpa ada hujan, Marko langsung bertingkah aneh. Awalnya dia tertawa-tawa sendiri. Kami pun biarkan, barangkali dia ngigau. Tapi lama-kelamaan tawanya makin keras diikuti gerakan mengguling dari kiri ke kanan.<\/p>\n<p><em><i>\u201cHAHAHA\u2026HAHAHAHA\u201d<\/i><\/em><\/p>\n<p>Mendengar suara tawa yang keras, kami yang awalnya tiduran pun langsung bangkit dan melihat tingkah Marko. Teman saya bernama Aris, berkata <em><i>\u201cLoh kenapa tuh si Marko?\u201d<\/i><\/em>\u00a0<em><i>\u201cWah pakai narkoba kali\u201d<\/i><\/em>\u00a0jawab saya bergurau.<\/p>\n<p><em><i>\u201cKo, Ko, kamu kenapa? Yang benerlah jangan bercanda. Mana ketawa keras-keras udah malam nih!\u201d<\/i><\/em>\u00a0ungkap saya diikuti rasa kesal.<\/p>\n<p>Dia langsung berhenti, dan mengambil posisi duduk bersila. Marko berkata dengan nada lantang <em><i>\u201cAing lain Marko! Aing nu Ngajaga Villa Ieu!\u201d<\/i><\/em>\u00a0(re: saya bukan Marko, saya yang jaga tempat ini)<\/p>\n<p>Kami bertiga sempat keheranan melihat keanehan Marko, ditambah dia mendadak pandai berbahasa Sunda, yang mana setahu Kami dia itu orang seberang yang baru pindah ke Bandung.<\/p>\n<p><em><i>\u201cOh Mang Diman. Penjaga Villa. Apa kabar Mang Diman?\u201d<\/i><\/em>\u00a0balas Wawan teman kami secara polos sambil menyodorkan tangannya. Dia pun langsung keheranan <em><i>\u201cBentar, kenapa Mang Diman ada di tubuh Marko? Eh Mang Diman kan masih hidup. Orang dari tadi ngobrol dan bantuin kita beresin Villa. Lho?\u201d<\/i><\/em><\/p>\n<p><em><i>\u201cEmang Mang Diman masih hidup. Kamu aja yang bego Wan, aduh! Marko ini kesurupan!\u201d<\/i><\/em>\u00a0Saut Aris.<\/p>\n<p>Mendengar Aris berkata bahwa Marko kesurupan, kami semua pun langsung <em><i>shock<\/i><\/em>. Di tempat itu hanya ada kami berempat, apalagi diantara kami pun tidak ada anak soleh atau yang pandai membaca-baca b gitu.<\/p>\n<p>Villa kami pun jauh dari keramaian. Rumah Mang Diman penjaga Villa juga berada sangat jauh sekali. Sumpah! malam itu merupakan malam yang membingungkan bagi kami semua. Aku pun hanya diam dan memperhatikan sambil gemetar.<\/p>\n<p>Kembali ke Marko, Ia masih berbicara <em><i>ngedumel<\/i><\/em>\u00a0dengan bahasa Sunda, <em><i>\u201cAing ka ganggu didieu. Saria tatadi garandeng! Aing ka ganggu! Aing ka ganggu!\u201d<\/i><\/em>\u00a0(re: saya tadi terganggu di sini. Kalian berisik dari tadi. Saya terganggu!)<\/p>\n<p>Aris pun memberanikan diri menanyai Marko dengan bahasa Sunda. <em><i>\u201cPunteun Mbah, sateacana ieu sareng Mbah saha?\u201d (maaf mbah, sebelumnya ini dengan mbah siapa?)<\/i><\/em>\u00a0suaranya bergetar pertanda takut.<\/p>\n<p><em><i>\u201cAing Mbah Golek. Aing lila cicing didieu lewih ti sia! Aing ka ganggu ku sararia, sia kudu menta hampura ka aing, bawakeun aing kopi hideung!\u201d<\/i><\/em>\u00a0(Saya Mbah Golek. Saya tinggal di sini sudah lama dari kalian. Saya terganggu oleh kalian. Ambilkan saya starbuck!) ucap Marko.<\/p>\n<p><em><i>\u201cKopi Pahit Mbah?\u201d<\/i><\/em>\u00a0timbal Aris kembali.<\/p>\n<p><em><i>\u201cHeuh eta maksud aing kopi hideung pahit buru!\u201d (iya itu maksud saya kopi hitam pahit cepat!<\/i><\/em>\u00a0jawab Marko.<\/p>\n<p>Aris pun langsung menyuruh Aku dan Wawan membuat kopi hitam yang pahit di dapur. Benar saja setelah kami buatkan dan berikan. Marko langsung minum, diikuti tubuhnya yang seketika tergeletak. Selang beberapa saat Ia pun sadar dan berkata <em><i>\u201ckenapa mulutku pahit banget nih?\u201d<\/i><\/em><\/p>\n<p>Kejadian menyeramkan waktu SMA itu begitu membekas di memoriku, Aris dan Wawan. Namun beranjak dewasa, aku menyadari kejadian kesurupan dan spiritual sebenarnya bisa dijelaskan secara logis menggunakan ilmu sains.<\/p>\n<p>Penjelasan sederhana pun saya temukan dalam sebuah <em>channel<\/em> <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UCkF8q_qfJnxBsguLfDOPthg\">YouTube bernama Vincent Ricardo<\/a> yang mewawancarai dr. Ryu Hasan\u00a0seorang Neuroscientis. Dimulai dari prinsip pisau Ockham, yang menekan bahwa <em><i>penjelasan atas suatu fenomena yang sama dengan cara yang sederhana lebih mungkin benar<\/i><\/em>.<\/p>\n<p><strong><b>Poin yang saya dapatkan adalah<\/b><\/strong><\/p>\n<p><strong><b>Kesurupan<\/b><\/strong>\u00a0secara ilmu kedokteran disebut <em><i>dissociative trance disorder <\/i><\/em>(DTD)<em><i>. <\/i><\/em>Trance di situ dijelaskan kondisi di mana manusia dalam fase sadar tidak sadar, yang sebetulnya sadar.<\/p>\n<p>Ketika <em>trance<\/em> (kesurupan) itu berlangsung otak mengirimkan sinyal untuk <em><i>releasing stress <\/i><\/em>(melepaskan stress)<em><i>. <\/i><\/em>Orang yang susah melampiaskan stres, tak jarang menjadi orang yang mudah <em><i>\u201ckesurupan\u201d<\/i><\/em>.<em><i>\u00a0<\/i><\/em>Makanya ada orang yang kesurupan langsung teriak-teriak, menari, bertingkah aneh, atau bahkan meminum sesuatu karena itu adalah cara mereka melepaskan stress dalam kondisi <em><i>DTD<\/i><\/em>\u00a0tadi.<\/p>\n<p>Keuntungan seseorang melepaskan stres dalam kondisi <em><i>trance<\/i><\/em>, ialah mereka akan banyak mendapatkan banyak perhatian. Selain itu apapun keinginan mereka pasti akan dituruti. Tak heran bila kemudian ajang kesurupan ini menjadi kondisi pelepasan stres yang tepat bagi mereka yang kurang perhatian, tidak punya banyak teman, dan memiliki banyak keinginan.<\/p>\n<p>Toh, jika diperhatikan memang jarang menemukan juga orang kesurupan ketika Ia sendirian di kamar, pasti kebanyakan pas ketika lagi ada keramaian kan? Juga jarang ada orang yang kesurupan itu mereka yang populer di sekolah dan punya banyak <em><i>temen<\/i><\/em>, pasti yang kesurupan adalah mereka yang pendiam di sekolah, <em><span style=\"text-decoration: line-through;\"><i>tidak terlalu populer <\/i><\/span><\/em>ya?<\/p>\n<p>Juga orang kesurupan biasanya minta kopi hitam. Hmm kayak nya kalau tahu gitu kebanyakan dari \u00a0mereka sekarang bakal minta <em><span style=\"text-decoration: line-through;\"><i>starbucks<\/i><\/span><\/em>\u00a0atau <em><span style=\"text-decoration: line-through;\"><i>chatime <\/i><\/span><\/em>deh. Lho?<\/p>\n<p>Selain itu berhubungan dengan orang yang kesurupan <em><i>(trance)<\/i><\/em>\u00a0yang mendadak bisa berbahasa asing (seperti Sunda, Jawa, Inggris, Arab, atau Belanda) pun dijelaskan oleh dr. Ryu.<\/p>\n<p>Hal itu termasuk ke dalam istilah <em><i>recalling<\/i><\/em>\u00a0(mengingat di dalam otak). Jadi sebetulnya orang yang kesurupan pernah mendengar bahasa-bahasa tadi. Tapi dia tidak bisa mengingat ketika sadar. Saat <em><i>trance <\/i><\/em>otaknya langsung melakukan <em><i>hyper-recalling, <\/i><\/em>makanya Ia langsung berbicara seolah mahir berbahasa tersebut.<\/p>\n<p>Jadi, kiranya cerita dan penjelasan di bawah cukup menjawab rasa penasaran saya pada kejadian yang menimpa Marko dulu.<\/p>\n<p>Memang Marko orangnya cukup susah bergaul karena waktu itu tahun pertama Ia pindah ke Pulau Jawa. Ia terpaksa datang ke Bandung ikut Ibunya, sementara sang Ayah tetap di luar pulau sana. Sewaktu SMA pun memang hanya kita bertiga saja orang yang ingin jadi temannya. Ia pun punya kepribadian yang moody, sekejap aktif dan sekejap diam. Ia juga termasuk ke dalam orang yang jarang cerita meski pada kita temannya sendiri.<\/p>\n<p><em><span style=\"text-decoration: line-through;\"><i>Sialan kau Marko!<\/i><\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Namun beranjak dewasa, aku menyadari kejadian kesurupan dan spiritual sebenarnya bisa dijelaskan secara logis menggunakan ilmu sains.<\/p>\n","protected":false},"author":145,"featured_media":5131,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[1328,1330,1327,1329,1326],"class_list":["post-5127","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-cari-perhatian","tag-hal-gaib","tag-kesurupan","tag-mistis","tag-paranormal-experience"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5127","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/145"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5127"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5127\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5131"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5127"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5127"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5127"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}