{"id":4796,"date":"2019-06-26T09:00:32","date_gmt":"2019-06-26T02:00:32","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=4796"},"modified":"2022-01-13T15:54:21","modified_gmt":"2022-01-13T08:54:21","slug":"soal-mas-kawin-xpander-atau-fortuner-please-deh-biasa-saja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/soal-mas-kawin-xpander-atau-fortuner-please-deh-biasa-saja\/","title":{"rendered":"Soal Mas Kawin Xpander atau Fortuner, Please deh Biasa Saja"},"content":{"rendered":"<p>Di tempat saya\u2014yakni Kabupaten Pati\u2014orang-orang sedang dibikin ribut oleh beberapa lamaran mewah yang viral di grup daerah. Saking ramainya, kini ia bahkan sampai tahap nasional. Kebisingannya sudah kayak <a href=\"https:\/\/tirto.id\/igauan-illuminati-ala-baequni-kontraproduktif-bikin-umat-jumud-eciy\">kasus Masjid Al-Safar<\/a>. Apa jangan-jangan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/daf\/ulasan\/pojokan\/daripada-teori-konspirasi-ustaz-rahmat-baequni-konspirasi-setya-novanto-lebih-nyata\/\">ini juga konspirasi Illuminati<\/a> ya?<\/p>\n<p>Dalam berbagai unggahan itu, banyak respon muncul. Sebagian nyinyirin kalau pernikahan itu terlalu mewah. Sebagian bilang wajar-wajar saja karena pasti dia orang kaya. Beberapa bilang mereka takkan bertahan lama. Beberapa bilang si lelaki pasti begitu menghargai si wanita\u2014karenanya pernikahan mereka akan langgeng.<\/p>\n<p>Respon-respon itu tentu normal. Pro dan kontra selalu terjadi sejak dahulu kala\u2014bukan sesuatu yang muncul baru-baru saja. Hanya saja semenjak media sosial hadir, ia memang makin kentara.\u00a0Meski begitu, ada satu komentar yang membuat saya ingin menangis kencang. Seorang warganet yang <em>kakehane<\/em> menulis\u2014<em>masyaAllah, mas kawin menentukan harga diri seorang perempuan. Kalau mas kawinnya mewah, berarti mempelai perempuan mahal.<\/em><\/p>\n<p><em>Uasuuu<\/em>!<\/p>\n<p>Terus kalau mas kawinnya nggak mewah berarti harga diri si calon istri rendah dan murah gitu? Hmmm, tiap orang memang berhak berpendapat\u2014tetapi menyampaikan pendapat goblok tanpa punya malu di muka publik saya rasa juga bikin penyakit. Apalagi sekarang semua punya jejak digital. Apakah ini salah satu contoh bahwa demokrasi kita kebablasan dan ugal-ugalan? <em>eh.<\/em><\/p>\n<p>Pandangan seperti ini tentu saja perlu disikapi dengan cukup serius. Berpikir mas kawin sama dengan harga perempuan berarti menempatkan wanita sebagai objek material yang juga dapat dikalkulasi dengan pendekatan materi. Saya khawatir kelak YouTuber kurang kerjaan bakal punya pertanyaan nggak mutu selain <em>berapa harga outfit lo<\/em>? yaitu <em>berapa harga cewek lo<\/em>. Kan parah. Bisa-bisa suatu saat ukhti-ukhti feminis bakal menggelar demonstrasi berjilid-jilid di Monas\u2014bakal ada persaudaraan alumni feminis. Dan tentu, ukhti-ukhti Indonesia Tanpa Feminis akan selalu menjadi tetangga nan berisik\u2014kayak Manchester City.<\/p>\n<p>Yang perlu kita soroti lagi tentang mas kawin yang jadi tolak ukur harga wanita ini adalah bagaimana nasib agan-agan <em>misqueen<\/em>? Saya yakin jiwa kekurangmampuan mereka bergetar mendengar pernyataan ini. Sudah cari pacar susah, sekalinya mau nikah malah dipersulit lagi dengan mas kawin mahal. Enggak jadi nikah muda dong. <em>ehehe<\/em><\/p>\n<p>Padahal nih memang seberapa penting sih mas kawin mewah itu?\u00a0Dalam Islam mahar punya beberapa fungsi yakni sebagai simbol persetujuan, pemaknaan, dan perlindungan terhadap wanita. Tidak ada peraturan bahwa mahar harus tinggi. Tidak ada pernyataan bahwa semakin mewah mahar, maka semakin mulialah perempuan yang\u2014hendak\u2014dipersunting.<\/p>\n<p>Saya teringat salah satu kisah sahabat pada zaman Rasul. Dia seorang yang tidak berkecukupan. Barangkali kalau sudah zaman industri 4.0\u2014bahkan dia nggak mampu beli kuota internet. Namun dengan segala keadaan itu, dia ingin menikah. Sahabat itu kemudian mengadu pada Rasulullah bahwa kejomloan sudah tidak <em>mashook<\/em> lagi baginya\u2014status itu harus segera diakhiri.<\/p>\n<p>Apa yang dikatakan Rasul? Apakah beliau bertanya si sahabat punya Xpander atau Fortuner? Atau apakah beliau bertanya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/mam\/corak\/movi\/berapa-harga-outfit-lo\/\"><em>berapa harga outfit lo<\/em><\/a>?<\/p>\n<p>Nggak. Manusia paling mulia itu justru menjawab\u2014menikahlah meski hanya cincin besi yang kau punya. Ini pelajaran penting bagi semua orang. Bahwa menikah itu bukan soal harta\u2014melainkan soal tanggung jawab. Apa gunanya jika punya suami kaya tapi tak bertanggung jawab? Semua perempuan waras di dunia ini saya rasa tentu tak akan mau\u2014kecuali yang diincar memang uang dan segala asetnya. Tentu saja bagaimanapun juga, nafkah harta tetap tak terelakkan. Ketika sudah menikah nanti suami dan istri harus melaksanakan tugasnya masing-masing setelah bersepakat.<\/p>\n<p>Yap\u2014bersepakat. Menikah adalah soal tanggung jawab dan kesepakatan merupakan anak-anaknya. Bagi saya, hubungan\u2014sampai kapan pun itu\u2014adalah sikap saling menghargai secara berkelanjutan. Sampai akhir\u2014benar-benar akhir. Semua bicara soal kesepakatan\u2014termasuk mas kawin. Kalau memang cuma punya kuota internet\u2014ya kuota saja. Kalau memang benar-benar mampu mobil\u2014ya sama dibolehkannya. Kesepakatan itu termasuk apa-apa yang hadir seteah ijab kabul dan serentetan acara semonial pernikahan berakhir. Kita bersepakat apa yang dilakukan suami hal-hal yang jadi bagian istri.<\/p>\n<p>Jadi, nggak ada hubungannya sama sekali antara mas kawin dengan rendah-tingginya harga diri seorang wanita. Kalau kita benar-benar ingin menghargai wanita maka tempatkanlah mereka pada posisi yang sama sebagaimana lelaki. Bukan sama secara kodrat lo ya\u2014melainkan keduanya punya hak sama untuk bersuara. Lelaki tak boleh mendikte istri\u2014sama halnya istri tak boleh menuntut macam-macam tanpa melihat kondisi.<\/p>\n<p>Coba bayangkan\u2014seorang perempuan boleh saja dikasih mas kawin mobil saat nikah, tapi setelah prosesi kawin selesai, ia hanya dianggap pembantu oleh suaminya. Apakah itu benar-benar yang namanya menghargai?<\/p>\n<p>Dalam pernikahan kesepakatan-kesepakatan itulah yang nantinya akan memupuk cinta menjadi lebih subur\u2014sederhananya, melanggengkan. Toh jika kita pertanyakan maksud mas kawin itu lebih lanjut barangkali motif pemberiannya nanti jadi berbeda. Bisa jadi si mempelai pria itu tak bermaksud menunjukkan wanitanya &#8216;mahal&#8217;\u2014melainkan karena gengsi karena sudah jadi pejabat. Bisa jadi dia ingin terlihat kaya. Bisa jadi juga itu konspirasi illuminati biar media sosial tetap ramai\u2014bisa jadi.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, soal mas kawin mobil Xpander atau Fortuner itu\u2014saya rasa sesungguhnya kita tak perlu berlebihan. Toh itu juga urusan orang lain yang sedang menikah. Kenapa kita malah yang repot dan rewel nggak jelas?<\/p>\n<p>Jadi sudahlah\u2014nggak usah lebay. Apalagi sampai bilang <em>perawan Pati mahal lur <\/em>atau l<em>anangan Pati kudu rekoso lur<\/em> atau <em>halah sedelok ngkas mesti cerai. <\/em>Corai-cerai\u2014<em>mbahmu ngetril kuwi!<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seorang warganet menulis\u2014masyaAllah, mas kawin menentukan harga diri seorang perempuan. Kalau mas kawinnya mewah, berarti mempelai perempuan mahal.<\/p>\n","protected":false},"author":68,"featured_media":4808,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[814,1244,1245,1094,46],"class_list":["post-4796","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-feminis","tag-mas-kawin","tag-pati","tag-viral","tag-wanita"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4796","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/68"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4796"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4796\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4808"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4796"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4796"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4796"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}