{"id":47469,"date":"2020-05-21T01:50:15","date_gmt":"2020-05-20T18:50:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=47469"},"modified":"2020-05-21T00:56:44","modified_gmt":"2020-05-20T17:56:44","slug":"terima-kasih-kepada-tim-pencari-hilal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/terima-kasih-kepada-tim-pencari-hilal\/","title":{"rendered":"Terima Kasih kepada Tim Pencari Hilal!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika mendengar isu sidang isbat Kementerian Agama yang menelan dana sembilan milyar untuk menentukan hilal, membuat Mahmud, ayah Hilal teringat lagi tradisi mencari hilal yang dilakukan pesantrennya dulu. Begitu secuil cerita film <em>Mencari Hilal<\/em>. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah perjalanan Hilal diajak oleh ayahnya mencari menara bukit Hira, pada akhir bulan Ramadan untuk melihat hilal masuknya bulan Syawal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film yang muncul di layar lebar tahun 2015 itu, sampai saat ini masih sering diputar di layar kaca Indonesia dalam rangkaian film spesial lebaran. Memangnya masih ada ya, orang yang sampai saat ini masih cari hilal dengan mata telanjang, rela naik bukit sendirian, gara-gara nggak mau dengar keputusan pemerintah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penampakan hilal bulan baru memang sangat tipis. Memang terkadang bisa dilihat dengan mata telanjang, tetapi kemungkinan sangat sedikit sekali. Bahkan, yang memberi pernyataan bahwa ia melihat hilal dengan mata telanjang pun harus berani disumpah kalau dia benar-benar melihatnya. Oleh karena itu, alat bantu seperti teleskop ataupun theodolite menjadi alat yang diandalkan dalam pencarian hilal saat ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu diakui kalau selama ini penentuan awal bulan dalam kalender hijriyah yang paling dicari adalah Ramadan dan Syawal. Pasalnya, kedua bulan tersebut bisa dikatakan sebagai bulan spesial bagi umat muslim. Awal penentuan puasa, akhir puasa, menuju hari raya Idul Fitri. Ada dua metode yang digunakan oleh pemerintah Indonesia, yaitu hisab (perhitungan) dan rukyat hilal. Baik dari kalangan NU, MU, ormas-ormas Islam besar di Indonesia rata-rata memakai dua metode tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa tahun kemarin kita sering mengalami perbedaan Muhammadiyah dan NU terkait perbedaan hari raya. Tak jarang, hal ini membuat anak-anak kecil iri karena ngelihat tetangganya yang Muhammadiyah sudah lebaran duluan sementara mereka yang NU masih menjalankan hari terakhir ibadah puasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadi, kenapa sih, kok bisa beda gitu?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini, kalau kata teman saya yang anak ilmu falak, \u201cMuhammadiyah itu pakainya wujudul hilal dilihat waktu tanggal 29. Berapa pun tingginya, asal di atas 0 derajat, berarti sudah masuk bulan baru. Sedangkan NU, pakai rukyah tinggi hilal minimal 2 derajat. Jadi ya jelas, kalau Muhammadiyah biasanya lebih duluan kalau lebaran. Dan NU masih menggenapkan sampai tanggal 30 Ramadan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, pencarian hilal ternyata tidak semudah itu. Jadi, hilal masuk awal bulan itu susah banget buat dilihat. Bahkan biasanya hanya muncul selama tidak lebih dari lima belas menit saja. Belum lagi nentuin derajat bayangannya, belum kalau mendung, belum kalau munculnya hanya sebentar. Keluh kesah ini saya dapat dari cerita teman-teman saya yang kuliah di jurusan Ilmu Falak dan beberapa kali mengikuti rukyat penentuan awal bulan Syawal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah saya berpikir, \u201cKalau mendung kan nggak terlihat, berarti nggak jadi lebaran dong?\u201d Hahaha, bodoh sekali saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan gitu juga ternyata. Kita ini kan tinggal di bumi Indonesia yang sangat luas. Nah, di Indonesia sendiri memiliki kurang lebih sekitar 80 titik pusat untuk melihat hilal. Jadi kalau di kotamu mendung, masih bisa dong dilihat di kota lain yang kondisi cuacanya cerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat kita tim yang setiap akhir Ramadan cuma mantengin TV untuk kepastian hilal, kita perlu berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada Kementerian Agama beserta tim falak dari ormas-ormas yang sudah berjasa menentukan bulan dan hari yang kita nanti-nanti datangnya. Gimana kita nggak berterima kasih?<em> Lha wong<\/em> kita cuma nungguin siaran langsung sidang isbat di depan tv, sambil gonta-ganti channel film spesial malam lebaran. Kalau nggak ya, nontonin siaran langsung musik gema takbir. Iya, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terima kasih kepada kalian yang telah memberi kepastian hari kemenangan kami. Terima kasih telah memberi kepastian malam terakhir ini kami masih harus melaksanakan tarawih atau tidak. Terima kasih karena sudah mau repot-repot ngintip hilal demi besok jadi ditunaikan salat Idul Fitri atau tidak. Terima kasih juga sudah berpusing ria dengan angka-angka hisab.\u00a0 Sekali lagi, terima kasih tim pencari hilal~<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA Esai-esai\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/terminal-ramadan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terminal Ramadan<\/a>\u00a0Mojok lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penampakan hilal bulan baru memang sangat tipis. Memang terkadang bisa dilihat dengan mata telanjang, tetapi kemungkinan sangat sedikit sekali.<\/p>\n","protected":false},"author":353,"featured_media":40198,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1710,6311,53,777,6305],"class_list":["post-47469","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-hilal","tag-ilmu-falak","tag-ramadan","tag-syawal","tag-terminal-ramadan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47469","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/353"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47469"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47469\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/40198"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47469"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47469"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47469"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}