{"id":47303,"date":"2020-05-20T01:53:31","date_gmt":"2020-05-19T18:53:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=47303"},"modified":"2020-05-20T01:13:28","modified_gmt":"2020-05-19T18:13:28","slug":"hal-hal-yang-dapat-kita-pelajari-dari-langgengnya-serial-para-pencari-tuhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-hal-yang-dapat-kita-pelajari-dari-langgengnya-serial-para-pencari-tuhan\/","title":{"rendered":"Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial \u201cPara Pencari Tuhan\u201d"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama bulan Ramadan, stasiun televisi berlomba menghadirkan tayangan yang bernafaskan Islam terutama di waktu-waktu utama seperti saat sahur dan berbuka. Tayangan sahur biasanya diisi dengan komedi, tausiyah, atau sinetron. Dalam hal ini, SCTV adalah salah satu stasiun TV yang memiliki keunggulan dibanding yang lain. SCTV konsisten menayangkan serial Ramadan yang sudah berusia lebih dari 1 dekade yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Para Pencari Tuhan.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Dengan usia yang tidak lagi muda untuk ukuran sebuah sinetron, SCTV patut berbangga.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Para Pencari Tuhan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah sinetron yang disutradarai oleh aktor senior Deddy Mizwar yang juga sekaligus memerankan tokoh utama. Deddy Mizwar dan tim nyatanya mampu mengemas alur cerita menjadi kisah yang dekat dengan pengalaman masyarakat. Alhasil sinetron yang episode pertamanya tayang pada tahun 2007 ini langgeng hingga hari ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain alur ceritanya yang membumi, sinetron ini juga tidak melenceng dari judul dan garis besarnya. Seperti judulnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Para Pencari Tuhan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tetaplah usaha pencarian seorang hamba terhadap keteguhan imannya sendiri. Sekalipun konflik pada masing-masing jilid berbeda-beda, tapi tetap pada poros utama yaitu pencarian \u201cTuhan\u201d dalam diri masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya saya bukan termasuk anak yang tumbuh bersama dengan sinetron ini, karena sedari lulus SD hingga tahun 2019 saya tidak pernah menjalankan ibadah puasa di rumah yang bisa ditemani berbagai tayangan televisi. Jadi anak pesantren dan kuliah jauh dari rumah membuat saya tidak punya banyak kenangan dengan tayangan televisi. Beruntunglah tahun 2020 ini saya berkesempatan untuk menjalankan ibadah puasa full di rumah (walaupun hal ini terjadi akibat pandemi) tetapi saya akhirnya tahu gimana serunya sahur sambil nonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Para Pencari Tuhan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang legend itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kali ini, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Para Pencari Tuhan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> jilid 13 banyak sekali memberikan nasihat melalui dialog, alur, maupun karakter tokoh yang diperankannya. Seperti Bang Jek yang sudah menjadi takmir masjid tapi masih harus memutar otak lebih keras untuk memakmurkan masjid, untuk bisa mendatangkan orang-orang ke masjid. Sebaliknya si Udin yang belum waras sepenuhnya dan sering berganti nama jadi nama buah-buahan justru dengan mudah memanggil orang untuk datang ke masjid tanpa seruan azan melainkan dangdutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironi ya, orang yang terlihat sempurna akalnya terkadang justru tidak se-peka orang yang dianggap gila, dalam hal menentukan pilihan-pilihan taktis. Ya, walaupun pada akhirnya orang-orang yang berdatangan ke masjid adalah untuk mencari sumber suara dari dangdutan, setidaknya hal tersebut berhasil menarik minat masyarakat kampung Dukuh Atas yang kebanyakan tidak peduli dengan ibadah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sub judul yang diusung kali ini juga unik, yaitu masjid sengketa. Uniknya, tokoh dalam sengketa ini sangat membumi dan dekat dengan realitas, yaitu Pak Haji Jalal yang membangun masjid dengan Baharuddin sang pemeluk agama lokal yang memiliki hak atas sebagian tanah yang telah dibangun masjid. Dalam salah satu dialog, Baharuddin bahkan sempat berucap \u201cpemeluk agama impor itu memang sering merepotkan\u201d. Hal ini bagi saya adalah gambaran tentang kondisi keberagaman keyakinan di Indonesia saat ini. Agama-agama dan kepercayaan yang sudah dianut oleh masyarakat sejak sebelum lahirnya Indonesia saat ini tergeser dan tersisih oleh datangnya agama yang notabene tidak lahir di Indonesia. Perlakuan diskriminatif pemerintah hingga masyarakat kepada para pemeluk agama lokal ini pun tak terhindarkan. Mulai dari pemaksaan pindah keyakinan untuk mengurus dokumen kependudukan hingga pelarangan ibadah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin betul bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Para Pencari Tuhan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan gambaran dari masyarakat kita bukan hanya karena banyaknya pesan tersirat di dalamnya. Tapi juga karena masih terselip cerita-cerita yang memiliki kecenderungan patriarkis. Seperti cerita tentang anak Pak Jalal yang bernama Zahrotussitta seorang sarjana ekonomi yang bermimpi membangun pabrik pesawat seperti BJ Habibie.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam berbagai kesempatan ibunya selalu menyarankan kepada Zahro untuk segera menikah dan mengesampingkan mimpi besarnya itu. Hal ini dengan anggapan bahwa perempuan itu lebih utama kalau segera menikah dan menjadi pendukung karier suami. Begitu pulalah kondisi masyarakat kita yang masih tidak menganggap perempuan sebagai individu yang berdaulat atas pilihan dan cita-citanya, makanya disuruh cepet nikah dan jadi peran pendukung saja. Eh bukan hanya masyarakat, negara pun begitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena serial <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Para Pencari Tuhan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> lahir dan besar di tengah realita yang terjadi di masyarakat, saya berharap Bapak Deddy Mizwar dan seluruh tim melakukan riset lagi tahun ini. Siapa tahu menemukan fakta bahwa masyarakat Indonesia makin cerdas, toleran, dan egaliter pasca pandemi. Sehingga, PPC jilid 14 bisa bikin sub judul \u201cHikmah setelah Wabah\u201d.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA Esai-esai\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/terminal-ramadan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terminal Ramadan<\/a>\u00a0Mojok lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seperti judulnya, Para Pencari Tuhan tetaplah usaha pencarian seorang hamba terhadap keteguhan imannya sendiri. Sekalipun konflik pada masing-masing jilid berbeda.<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":40506,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6348,1134,6305],"class_list":["post-47303","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-para-pencari-tuhan","tag-sinetron","tag-terminal-ramadan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47303","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47303"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47303\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/40506"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47303"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47303"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47303"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}