{"id":46699,"date":"2020-05-19T07:20:36","date_gmt":"2020-05-19T00:20:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=46699"},"modified":"2020-05-19T01:34:52","modified_gmt":"2020-05-18T18:34:52","slug":"macam-macam-perilaku-orang-yang-menerima-parsel-lebaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/macam-macam-perilaku-orang-yang-menerima-parsel-lebaran\/","title":{"rendered":"Macam-macam Perilaku Orang yang Menerima Parsel Lebaran"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendekati lebaran, di rumah saya mulai menumpuk parsel. Biasanya, ia ini datang dari agen tempat ibu saya belanja untuk stok barang yang akan dijual kembali di warung. Sebagai seorang pelanggan yang setia, baik, rajin, dan tentu saja berbudi luhur, ibu saya selalu mendapatkan parsel lebaran yang cukup banyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Isi bingkisan lebaran yang diterima ibu saya pun bermacam-macam mulai dari bingkisan sembako, macam-macam kue kering khas lebaran, terkadang baju dan selimut, atau kalau sedang beruntung dapat aksesoris cantik mulai dari satu set gelas sampai yang saya nggak tahu fungsinya. Pokoknya, parsel akan selalu ada di momen mendekat hari lebaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk keluarga saya sendiri, dapat atau tidak dapat sebenarnya biasa saja dan santai saja. Pasalnya, tahun ke tahun juga isinya begitu-begitu saja. Dan sebetulnya, ini juga bukan kewajiban untuk para agen. Lagian, sebenarnya parsel hanyalah bingkisan apresiasi yang diberikan agen dagangan atau atasan yang senang dengan kinerja atau kesetiaan pelanggan atau bawahan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, yang namanya manusia tidak ada yang sempurna dan masih ada di luar sana (termasuk lingkungan saya sendiri) yang memiliki sifat hasad. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang-orang yang saat melihat parsel yang kita miliki, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dia malah menggunjing dengan cerita-cerita nggak enak semacam, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Si ibu ini kan cuma warung ya, dapat bingkisan dari mana, sih?&#8221;, &#8220;Apa nggak aneh, kita yang pekerja nggak dapat, lah dia yang cuman warung dapat parsel? Kan dia wirausaha, nggak punya atasan!&#8221; <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">A<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tau yang lebih menyebalkan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ibu ini punya banyak parsel tapi kok nggak dibagikan, ya.&#8221; <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">I<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tu orang sudah julid, tapi mentalnya masih minta-minta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Macam-macam perilaku orang-orang yang menerima bingkisan memang selalu menarik dan saya anggap komedi saja. Bukannya apa-apa, kalau dianggap serius orang-orang itu malah makin menjadi-jadi dan haus akan perhatian.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Jadi, s<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">epertinya enak kalau saya bahas satu-satu macam perilaku orang yang menerima parsel lebaran.<\/span><\/p>\n<h4>#1 Diterima dan dipergunakan dengan semestinya.<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang perilakunya paling normal adalah orang yang macam ini, tidak banyak komplain dan tidak banyak omongan. Pokoknya dapat parsel karena memang pantas mendapatkannya. Bingkisan yang diterima juga digunakan oleh dirinya sendiri bersama keluarganya di rumah. Toh, gunanya bingkisan ini memang untuk digunakan dengan baik, bukan?<\/span><\/p>\n<h4>#2 Dapat parsel tapi iri sama milik orang lain.<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tipikal yang begini memang bikin penyakit, padahal orang-orang begini juga dapat parsel dan nggak kalah banyak. Nggak tahu kenapa, kok bisa-bisanya iri hati karena melihat orang lain mendapat lebih banyak? Mohon maaf <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">nih, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">orang-orang yang dapat parsel lebih banyak kan sudah saya bilang karena dia pelanggan suatu toko\/agen yang setia dan sering belanja. Atau dia adalah pekerja di kantor yang taat serta rajin pekerjaannya. Jadi harusnya Anda muhasabah, kenapa parsel Anda sedikit wahai orang hasad??!!!<\/span><\/p>\n<h4>#3 Pamer ke orang yang belum dapat.<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang namanya parsel kan pasti pemberian alias boleh diberikan, ya? Namun, ada golongan orang yang tanpa berpikir panjang lalu memamerkan parsel kepada khalayak umum. Macam pengemis yang pamer uang, macam orang yang di muka bumi ini hanya dia yang dapat bingkisan parsel. Norak sekali, bingkisan hasil dikasih saja pamer apalagi punya sendiri?<\/span><\/p>\n<h4>#4 Belum dapat terus nyindir biar dikasih.<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah perilaku yang paling menyebalkan. Saat kita dapat banyak parsel, tentu kita sekeluarga senang, dong? Namun, ada orang yang tidak senang melihat kita sekeluarga senang. Masalahnya, orang seperti ini kadang-kadang ada yang tidak tahu diri. Eh, sudah nyindir, masih minta. Ya ampun jika bukan bulan puasa, niscaya adalah batako yang diberikan sebagai parsel. Ngelawak memang manusia ini<\/span><\/p>\n<h4>#5 Dapat tapi dijual lagi.<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau yang ini biasanya adalah para warung-warung kecil yang menerima parsel dari agen\/toko besar tempat belanja. Karena kebanyakan parsel adalah sembako, sirup, dan makanan-makanan yang bisa dijual kembali, maka bingkisan tersebut dijual. Bukan tidak menghargai, cuma karena saking banyaknya takut tidak habis kalau dikonsumsi sendiri. Begitu~<\/span><\/p>\n<h4>#6 Punya banyak lalu dibagikan ke orang lain.<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang dermawan macam ini biasanya adalah orang-orang pekerja kantoran atau pegawai yang sudah punya jabatan tinggi, terus dapat bingkisan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">bejibun <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dari perusahaan atau <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kliennya<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Pasalnya, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">saya sering lihat tetangga yang macam ini dan parsel numpuk di rumah beliau (saya bisa tahu karena sering antar galon ke rumahnya) lalu dibagikan ke banyak orang-orang yang butuh. Hmmm, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">gokil<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> nggak, tuh!\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Dari keenam kategori tersebut, keluarga saya sepertinya masuk di nomor satu dan lima. Pertama, kami bersyukur dapat parsel. Kedua, ya karena ibu saya punya warung, makanya dijual lagi karena takut nggak habis kalau dikonsumsi sendiri. Begitu.<\/p>\n<p>Lha kalau kalian, masuk kategori mana, nih?<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/balas-dendam-di-hari-lebaran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Balas Dendam di Hari Lebaran<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/nasrullah-alif\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nasrulla<\/a><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/nasrullah-alif\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">h Alif<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<div>\n<div><span class=\"ctaText\">Baca Juga:<\/span>\u00a0\u00a0<span class=\"postTitle\">Di Bulan Ramadan Orang Mendadak Percaya Agama<\/span><\/div>\n<\/div>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tipe orang yang dapat parsel tapi dijual lagi biasanya adalah para warung kecil yang menerimanya dari agen atau toko besar tempat mereka belanja.<\/p>\n","protected":false},"author":321,"featured_media":47016,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[342,6777],"class_list":["post-46699","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-lebaran","tag-parcel"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46699","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/321"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46699"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46699\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/47016"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46699"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46699"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46699"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}