{"id":45543,"date":"2020-06-01T20:47:55","date_gmt":"2020-06-01T13:47:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=45543"},"modified":"2020-06-01T20:47:55","modified_gmt":"2020-06-01T13:47:55","slug":"cerita-horor-pakdhe-saya-yang-diseruduk-siluman-manusia-berkepala-kuda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cerita-horor-pakdhe-saya-yang-diseruduk-siluman-manusia-berkepala-kuda\/","title":{"rendered":"Cerita Horor Pakdhe Saya yang Diseruduk Siluman Manusia Berkepala Kuda"},"content":{"rendered":"<p>Sore itu saya baru saja selesai menyiram tanaman di pekarangan rumah ketika seorang kerabat berlari gopoh-gopoh menghampiri.<\/p>\n<p>\u201cMas, Pakdhe, Mas,\u201d ucapnya dengan napas tersengal. \u201cPakdhe ditemukan pingsan di ladang!\u201d<\/p>\n<p>Mendengar itu sontak saja saya taruh gembreng air dan bergegas menuju rumah Pakdhe yang berjarak sepuluh rumah dari rumah saya.<\/p>\n<p>Setiba di rumah Pakdhe, para tetangga sudah berkerumun menjejali balai bambu tempat Pakdhe dibaringkan. Napas Pakdhe turun naik tidak teratur, tanda kalau dia masih hidup. Hanya saja tatapan matanya kosong, tak berkedip barang sedetik pun, wajahnya juga tampak pucat pasi dengan leleran keringat di sekitar leher dan dahi.<\/p>\n<p>Namun, ada satu yang aneh. Di dada Pak Dhe seperti ada bekas luka lebam. Bentuknya lingkaran besar seperti tanda lahir, namun warnanya putih pucat. Dan seperti yang orang-orang tahu, tanda itu tidak pernah dimiliki Pakdhe selama ini. Maka sudah bisa dipastikan, sesuatu yang ganjil telah terjadi pada Pakdhe. Terlebih lagi Pakdhe tidak memiliki riwayat sakit apa pun.<\/p>\n<p>Sementara menurut pengakuan tetangga yang menemukannya di ladang, dia sempat bertegur sapa dengan Pakdhe sebelum dilihatnya tubuh jangkung Pakdhe menggelosor di tanah.<\/p>\n<p>Alih-alih memanggil dokter, Budhe meminta tiga keponakannya termasuk saya untuk sowan ke rumah Pak Kiai. \u201cSampaikan ke Pak Kiai, Pakdhe butuh di-suwuk (istilah Jawa untuk pengobatan alternatif),\u201d Begitu pesan Budhe yang kami sambut dengan anggukan hampir bersamaan.<\/p>\n<p>Selepas magrib, Pak Kiai datang ke rumah Pakdhe. Sejenak dipandangi tubuh Pakdhe yang setengah sekarat. \u201cCoba ambilkan segelas air putih,\u201d titah Pak Kiai yang langsung dipenuhi sama pemilik rumah.<\/p>\n<p>Karena dirasa sangat pengap, Pak Kiai akhirnya meminta agar para tetangga dan kerabat Pakdhe yang masih berkerumun untuk sedikit mengambil jarak. Dan setelah agak longgar, Pak Kiai mulai memejamkan mata sambil merapal doa-doa di hadapan segelas air putih yang sudah disediakan.<\/p>\n<p>Beberapa menit selanjutnya, orang-orang yang\u00a0 berkerumun dibuat riuh ketika mendapati tanda putih pucat di dada Pakdhe berangsung memudar setelah disiram \u201cair doa\u201d dari Pak Kiai. Sisa air dalam gelas kemudian diminumkan ke mulut Pakdhe yang masih belum sepenuhnya sadar.<\/p>\n<p>Tidak butuh waktu lama, mata Pakdhe akhirnya mengerjap-ngerjap dengan disertai batuk kecil. Seisi rumah pun mengucap hamdalah secara serentak. Termasuk Budhe yang sampai menangis sesenggukan saking harunya.<\/p>\n<p>Setelah suasana sedikit lebih tenang, Pak Kiai kemudian meminta Pakdhe untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi sore tadi. Sehabis menengggak segelas air putih yang disodorkan oleh Budhe, Pakdhe pun mulai bercerita.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p>Seperti biasanya, bakda asar saya musti turun ke ladang untuk mencari pakan ternak dan ngasih pupuk buat jagung dan sawo.<\/p>\n<p>Semula saya memang sudah punya firasat aneh. Udara di ladang terasa cukup dingin dan suasana tiba-tiba jadi hening dan mencekam. Bulu kuduk saya juga berdiri meremang, tapi saya masih berusaha untuk nggak berpikir yang aneh-aneh.<\/p>\n<p>Untunglah ada Karmijan (tetangga yang menemukan Pakdhe pingsan) menyapa saya. Saya sedikit lega karena akhirnya saya tahu kalau saya tidak sendirian di ladang seluas itu. Beberapa saat setelah Karmijan berlalu ke petak ladangnya sendiri, saya mendengar ada suara gedebak-gedebuk dari arah utara ladang. Seperti suara orang berlari.<\/p>\n<p>Benar saja, saat mata saya betul-betul mengawasi arah suara itu bermuasal, sesosok orang berlari tunggang-langgang. Karena hanya Karmijan yang ada di ladang, saya sempat mau berteriak memanggilnya, tapi suara saya tersekat di tenggorokan. Tubuh saya juga mendadak tidak bisa digerakkan sama sekali. Saya hanya bisa berdiri mematung dengan kaki-mulut terkunci. Hanya mata saya yang masih awas mengamati sosok dari utara itu.<\/p>\n<p>Semakin dekat sosok itu menyongsong saya dan semakin jelas sosok aslinya yang berperawakan manusia tapi berkepala kuda. Saya semakin tercekat. Ingin rasanya meronta, tapi tidak ada daya apa pun yang saya miliki untuk sekadar berlari. Satu-satunya yang bisa saya perbuat adalah membaca Ayat Kursi dalam hati, berulang-berulang, berharap sosok itu tidak jadi mendekat.<\/p>\n<p>Tapi apa mau dikata, sosok manusia berkepala kuda itu akhirnya berdiri persis di hadapan saya. Hidungnya mendengus-dengus dan sesekali meringkik. Iya, benar-benar bertubuh manusia, tapi kepalanya kuda.<\/p>\n<p>Sekejap kemudian, sosok ini menyeruduk dada saya dengan kepalanya, sekencang-kencangnya. Saya terjengkang ke tanah. Sebelum saya benar-benar pingsan, samar-samar saya lihat sosok itu berlari lagi entah ke mana.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p>Kami mendengar cerita Pakdhe dengan napas tertahan saking ngerinya. Kecuali Pak Kiai dan Karmijan yang sedari tadi hanya manggut-manggut saja.<\/p>\n<p>\u201cApa sebelumnya siluman itu nggak pernah muncul di ladang, Dhe?\u201d tanya Pak Kiai. \u201cNggak pernah, Pak Kiai. Selama ini nyatanya ya nggak pernah terjadi apa-apa,\u201d jawab Pakdhe mantap. \u201cMungkin hanya lewat. Cari tempat tinggal baru,\u201d ucap Pak Kiai yang diam-diam juga diamini oleh seisi rumah.<\/p>\n<p>Namun, berbeda dengan Karmijan yang dari gestur tubuhnya terlihat sekali kalau dia sedang gusar. Paling tidak demikianlah sejauh yang saya perhatikan.<\/p>\n<p>\u201cPak Kiai,\u201d kini Karmijan mulai angkat suara. Yang dipanggil pun menoleh dengan sorot mata penuh tanda tanya. \u201cSaya sebenarnya sudah dua kali ngelihat penampakan siluman kuda itu berkeliaran di ladang.\u201d<\/p>\n<p>\u201cOh iya, sampeyan diganggu?\u201d<br \/>\n\u201cNggak pernah Pak Kiai, sebab bukan saya incarannya.\u201d<br \/>\n\u201cSebentar, saya belum mengerti.\u201d<br \/>\n\u201cSaya sebenarnya tahu, kalau siluman itu adalah jelmaan dari adik tiri Pakdhe yang ngambil pesugihan. Dia masih menaruh dendam sama Pakdhe terkait dengan tanah warisan.\u201d<br \/>\n\u201cDari mana sampeyan tahu?\u201d<br \/>\n\u201cSaya teman dekat adik tiri Pakdhe.\u201d<\/p>\n<p>Seisi rumah kembali dibuat riuh dengan pernyataan Karmijan.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ketukan-tiga-kali-di-pintu-saat-bermain-jelangkung-tengah-malam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ketukan Tiga Kali di Pintu saat Bermain Jelangkung Tengah Malam<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aly-reza\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aly Reza<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kami mendengar cerita horor Pakdhe dengan napas tertahan saking ngerinya. Kecuali Pak Kiai dan Karmijan yang sedari tadi hanya manggut-manggut saja.<\/p>\n","protected":false},"author":540,"featured_media":53668,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1304,3501,7052],"class_list":["post-45543","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-cerita-horor","tag-malam-jumat","tag-siluman"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45543","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/540"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45543"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45543\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53668"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45543"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45543"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45543"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}