{"id":45075,"date":"2020-05-13T01:50:50","date_gmt":"2020-05-12T18:50:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=45075"},"modified":"2020-05-12T22:30:08","modified_gmt":"2020-05-12T15:30:08","slug":"ngaji-alhikam-dan-kegalauan-nasib-usaha-kita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ngaji-alhikam-dan-kegalauan-nasib-usaha-kita\/","title":{"rendered":"Ngaji Alhikam dan Kegalauan Nasib Usaha Kita"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kitab Alhikam karya Ibnu Athoillah ini sangat populer di kajian keislaman, khususnya pada lingkungan pesantren. Kitab ini tidak dipelajari oleh para sufi saja, Alhikam digandrungi oleh pembelajar lainnya, karena hikmah-hikmah di dalamnya sangat indah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kitab ini memang butuh penalaran yang cukup dalam. Sehingga, tidak jarang santri yang mengkaji kitab ini, harus santri yang memiliki daya ilmu tinggi. Bahkan, dianjurkan sudah fasih dalam keilmuan lainnya. Di luar kalangan pesantren, bahkan tidak sedikit yang mengatakan kalau kitab Alhikam termasuk kitab dengan ajaran yang menyesatkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di pondok pesantren tempat saya belajar, saya berkesempatan mengkaji kitab Alhikam ini dengan kiai fenomenal sekarang, yang masyhur sangat luas keilmuannya. Beliau adalah Kiai Bahauddin Nursalim atau yang dikenal dengan Gus Baha. Cara penyampaiannya yang lugas, detail, diselingi candaan kepada santri ini menjadi sangat diminati dan membuat santri-santri bersemangat untuk mengikuti pengajian beliau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai pada hikmah yang membahas tentang himmah atau cita-cita, ada suatu hal yang cukup menggelitik. Bunyi hikmah tersebut, \u201cSawabiqul himami, laa takhriqu aswaaral aqdar\u201d, yang artinya, kekuatan semangat atau cita-cita, tidak akan mampu menembus pagar takdir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebetulan di pesantren saya konsentrasi Mahad Aly mengkaji ushul fiqh, dan rata-rata pengajian itu diikuti oleh santri Mahad Aly. \u201cIki santri fokus kajian ushul fiqih kok ngaji kitab Hikam. Aneh. Ushul Fiqih itu mbulet, membuat kita mengernyitkan dahi. Sedangkan ngaji Hikam itu mendukung pengangguran,\u201d celetuk Gus Baha pada malam itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWah seneng iki, santri-santri model sampeyan iki ngaji Kitab Hikam iki,\u201d lanjutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gelak tawa santri terdengar pada majelis malam itu. Bagaimana Gus Baha tidak mengatakan begitu? Santri macam kami sekalian begini ini ya jelas senang, ada hikmah yang mengatakan seperti itu. Malah bisa-bisa dijadikan senjata buat mager-mageran. Hehehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWah ini, nih. Cocok,\u201d gumam santri yang duduknya agak duduk dekat dengan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau kamu sekalian ingin melanjutkan kuliah di universitas x, sudah berusaha maksimal. Kalau kamu sekalian diterima, itu juga bukan karena usaha kalian, melainkan karena ketetapan dan rida Allah. Kalau sudah berusaha maksimal tidak juga diterima, begitu juga atas kehendak Allah,\u201d jelas Gus Baha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai manusia yang berilmu pas-pasan begini, saya sok-sokan membaca jalan pikiran orang yang memaknai akan hikmah satu ini. Ada dua perbedaan, yaitu tipe orang optimis dan tipe orang pesimis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tipe optimis dalam memaknai hikmah pada kitab Alhikam tersebut, pasti akan biasa saja. Dan tentunya, akan memaknainya dengan tetap selalu berikhtiar dan percaya pada janji-Nya, atas balasan kepada orang yang berusaha dengan selalu diiringi dengan mengharap rida-Nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kalau tipe orang pesimis, sudah pasti akan menyesalkan usaha-usaha dia yang lalu, dan akan menganggapnya sia-sia. Lebih parahnya lagi, kalau sehabis ngaji ini tidak mau ikhtiar lagi, dapat rezeki apa pun pasrah sama yang dikasih Tuhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, lalu bagaimana sama nasib cita-cita kita?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memahami kitab Alhikam memang nggak bisa ngasal aja. Lantaran sungguh dalamnya esensi hikmah-hikmah yang terkandung. Bahkan, kalau kitab ini tidak dikaji dengan guru spiritual yang mumpuni, malah akan menimbulkan banyak penafsiran. Nanti malah jadinya salah kaprah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang Alhikam itu lebih cocok dikaji oleh para sufi yang sudah mencapai tingkat hanya menghamba cinta-Nya, bukan kayak kita yang masih ketergantungan duniawi seperti ini. Seperti yang ditakutkan Gus Baha, kalau santri yang belum ngaji apa-apa, kok langsung ngaji Alhikam, takutnya nanti malah senang menjadi pengangguran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah to, mbok ya jadi orang itu yang sedang-sedang saja. Kalau semangat mengejar cita-cita, nggak usah terlalu ambisius. Kalau terlalu ambisius, bisa-bisa dalam mengejar keinginan malah akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya dan menjadikan Tuhan tidak rida.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benar, tanpa takdir yang sudah ditentukan-Nya, kita bukan apa-apa. Tapi juga jangan malah santuy amat. Mana ada juga Tuhan akan memberi kenikmatan hamba-Nya, kalau tanpa usaha.\u00a0 Dan tentu, diiringi selalu mendekatkan diri dengan-Nya. Allah itu Maha Adil. Allah itu Maha Rahman-Rahim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya menimbulkan banyak pemaknaan saja. Sebenarnya hikmah ini juga menjadi nasihat bagi kita semua, kalau setiap usaha kita dalam mengerjakan sesuatu untuk mencapai sesuatu, harus selalu seimbang dengan ibadah dan doa kita meminta kepada-Nya. Karena tanpa kemurahannya, ambisi-ambisi kita tidak akan menjadi apa-apa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau orang itu iman sama takdir Tuhan, pasti tidak akan putus asa,\u201d pungkas Gus Baha pada ngaji Alhikam malam itu.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA Esai-esai\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/terminal-ramadan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terminal Ramadan<\/a>\u00a0Mojok lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di luar kalangan pesantren, bahkan tidak sedikit yang mengatakan kalau kitab Alhikam termasuk kitab dengan ajaran yang menyesatkan.<\/p>\n","protected":false},"author":353,"featured_media":40198,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[225,6642,6305],"class_list":["post-45075","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-gus-baha","tag-ngaji-alhikam","tag-terminal-ramadan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45075","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/353"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45075"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45075\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/40198"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45075"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45075"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45075"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}