{"id":45057,"date":"2020-05-13T16:30:27","date_gmt":"2020-05-13T09:30:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=45057"},"modified":"2020-05-13T14:59:12","modified_gmt":"2020-05-13T07:59:12","slug":"kenangan-tentang-orang-dalam-pas-nyari-kerjaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenangan-tentang-orang-dalam-pas-nyari-kerjaan\/","title":{"rendered":"Kenangan tentang &#8216;Orang Dalam&#8217; pas Nyari Kerjaan"},"content":{"rendered":"<p>Banyaknya waktu luang selama di rumah aja pada masa pandemi Corona membuat hal-hal yang awalnya terabaikan bahkan cenderung sengaja diabaikan mulai tertarik untuk saya coba. Salah satunya ialah mengisi <em>Tracer Study<\/em> yang akhirnya membawa saya kembali mengingat masa-masa menjadi <em>fresh graduate<\/em> yang berjibaku dengan lowongan pekerjaan, hingga kenangan tentang \u2018orang dalam\u2019.<\/p>\n<p>Tak menunggu lama setelah mengunduh aplikasi <em>Tracer Study<\/em>, saya bergegas mengisinya. NIM dan tanggal lahir menjadi angka kunci untuk mengakses aplikasi ini. Di grup <em>Whatsapp<\/em> para alumni, teman-teman saya mulai ramai dengan perbincangan tentang betapa mereka telah lupa akan Nomor Induk Mahasiswa itu. Sama halnya seperti mereka, saya pun telah lupa pada sembilan digit angka yang dulu saya hapal di luar kepala. Persis seperti tanggal lahir sendiri, dan tanggal pembayaran indekos-\u2013waktu itu. Beruntung, tempat duduk saya ketika berhadapan dengan aplikasi <em>Tracer Study<\/em> berada tepat di samping lemari buku tempat skripsi kebanggan saya bertengger di rak paling atasnya.<\/p>\n<p>Setelah mengisi NIM dan tanggal lahir, munculah halaman yang menampilkan profil saya ketika masih menjadi mahasiswa. Foto adalah hal yang paling ingin saya ubah dari profil ini, namun sayang tak ada pilihan untuk mengganti foto. Tiga hal yang dapat diedit adalah alamat, email, dan nomor HP. Lanjut ke bagian mengisi kuesioner. Awalnya lancar-lancar saja saya mengisi pertanyaan seputar kondisi saya saat ini mulai dari lama waktu yang dihabiskan sebelum dan sesudah memperoleh pekerjaan pertama, tempat bekerja, jumlah pendapatan, hingga kapan mulai mencari pekerjaan.<\/p>\n<p>Tiba pada poin ke 5, 6, dan 7 yang menanyakan tentang berapa kali melamar pekerjaan, berapa kali lamaran direspon, dan berapa kali sampai di tahap wawancara, seketika saya teringat akan masa-masa indah bercampur sulit ketika menjadi <em>fresh graduate<\/em> yang berjibaku dengan lowongan pekerjaan hingga kenangan tentang sosok \u2018orang dalam\u2019.<\/p>\n<p>Beberapa tahun yang lalu saya begitu semangat membuat surat lamaran kerja dengan harapan dapat diterima di salah satu instansi yang ada di daerah tempat tinggal saya. Sudah menjadi perjanjian antara saya dan orang tua bahwa selepas kuliah, saya harus kembali untuk bekerja di daerah ini. Maka mulailah saya \u2018menghambur\u2019 map-map berisi surat lamaran dan segala berkas yang menyertainya. Tak lupa saya sertakan pas foto dengan senyum penuh keyakinan.<\/p>\n<p>Berkas lamaran kerja itu tersebar hampir di setiap instansi yang berkaitan dengan gelar sarjana Farmasi yang saya sandang, dan jarak kantornya dari rumah masih memungkinkan untuk saya bolak-balik setiap hari dengan kendaraan roda dua.<\/p>\n<p><em>Nanti ditelepon. <\/em>Merupakan dua kata yang kerap kali saya dengar setelah mengantar berkas lamaran kerja dan sebelum meninggalkan kantor-kantor itu. Seharusnya mereka menambahi tiga kata lagi setelah dua kata itu. Misalnya, <em>Tapi jangan berharap. <\/em><\/p>\n<p>Ketika mengeluhkan perihal telepon yang tak kunjung tiba pada beberapa orang teman, saya mendapati pertanyaan dan pernyataan dengan dua kata yang selalu muncul sebagai kunci.<\/p>\n<p><em>\u201cSiapa \u2018orang dalam\u2019 yang kasih masuk kau?\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>\u00a0\u201cTidak\u00a0 adakah \u2018orang dalam\u2019 yang bisa kau mintai tolong?\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>\u201cCoba kau cari \u2018orang dalam\u2019 yang bisa bantu.\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>\u201cKalau punya \u2018orang dalam\u2019, langsung kerja itu. Tiada lagi tunggu-tunggu telepon.\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>\u201cGampang kalau ada \u2018orang dalam\u2019. Langsung kerja. Berkas bisa nanti menyusul.\u201d <\/em><\/p>\n<p><em>\u201cPengalaman kita di sini, memang seharusnya pake \u2018orang dalam\u2019.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Saking seringnya didengar, kata ini terus berputar-putar di dalam kepala saya. Bahkan memberi dampak buruk. Saya menjadi berburuk sangka dan sedikit mencurigai mereka yang berpotensi sebagai \u2018orang dalam\u2019 dan mereka yang menggunakan jalur \u2018orang dalam\u2019.<\/p>\n<p>Setiap melihat honorer yang baru bekerja di instansi pemerintah, saya mulai berprasangka. Gampang sekali dia dapat kerja. Kira-kira siapa orang dalam yang memasukkan dia di kantor itu. Awas saja kalau dia tidak bekerja dengan baik dan justru menambah beban negara. Lalu saya mulai memetakan mereka yang berpotensi secara serampangan berdasarkan minimnya pengetahuan yang saya miliki.<\/p>\n<p>Hemat saya waktu itu, \u2018orang dalam\u2019 ialah mereka yang memegang jabatan kepala. Terserahlah dia kepala apa. Mau kepala dinas, kepala badan, kepala bidang, kepala seksi. Yang pasti, saat dia menjadi kepala, otomatis dia memiliki peluang untuk menjadi pintu bagi para pencari kerja baru lewat jalur ini. Sehingga mereka yang memiliki hubungan keluarga, sahabat, keluarga dari sahabat, sahabat dari keluarga, dan aneka pertalian erat maupun dipaksa untuk erat lain, akan lebih mudah masuk lewat jalur ini. Sedangkan saya yang tidak memiliki akses dan pertalian serupa merasa sangat dirugikan oleh mereka.<\/p>\n<p>Lama saya berpikiran buruk seperti itu, mencurigai setiap orang sebagai peserta jalur ini. Oh, betapa berdosanya saya. Hari ini ketika mengisi Tracer Study dan teringat pada mereka, saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.<\/p>\n<p>Karena sesungguhnya tak ada yang salah dengan menjadi \u2018orang dalam\u2019 dan mencari pekerjaan lewat jalur ini sah-sah saja. \u2018Orang dalam\u2019 adalah orang baik yang membantu dan memberi kesempatan pada para pencari kerja. Dan mereka yang masuk lewat jalur ini adalah orang baik pula, yang beruntung karena dipertemukan dengan kesempatan baik. Yang salah adalah ketika sudah bertemu dengan orang baik, kesempatan baik, dan pekerjaan baik, tetapi kita justru tidak bekerja dengan baik.<\/p>\n<p>Oh iya, akhirnya saya tau bahwa dunia orang dalam ini begitu luas dan berliku. Para kepala yang saya sebutkan tadi hanyalah sebagian kecil dari \u2018orang dalam\u2019 yang terlihat. Ternyata ada yang kehebatannya sama bahkan lebih jago dari orang dalam, tapi tidak berkantor di instansi pemerintah. Oh, betapa misteriusnya dunia para \u2018orang dalam\u2019 ini.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/the-power-of-orang-dalam\/\">The Power of \u2018Orang Dalam\u2019<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-arsyad\/\">Eva Sylva<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sesungguhnya tak ada yang salah dengan menjadi \u2018orang dalam\u2019 dan mencari pekerjaan lewat jalur ini sah-sah saja.<\/p>\n","protected":false},"author":97,"featured_media":45368,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[604,6675,1415],"class_list":["post-45057","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-fresh-graduate","tag-nyari-kerjaan","tag-orang-dalam"],"modified_by":"Nia Lavinia","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45057","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/97"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45057"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45057\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45368"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45057"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45057"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45057"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}