{"id":45053,"date":"2020-05-13T06:00:13","date_gmt":"2020-05-12T23:00:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=45053"},"modified":"2020-05-13T00:09:44","modified_gmt":"2020-05-12T17:09:44","slug":"keuntungan-kala-menjadi-penjaga-toko-buku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/keuntungan-kala-menjadi-penjaga-toko-buku\/","title":{"rendered":"Keuntungan kala Menjadi Penjaga Toko Buku"},"content":{"rendered":"<p>Menjadi penjaga toko buku selama 2 tahun lebih merupakan pengalaman paling berharga dalam perjalanan hidup saya. Profesi ini gak pernah ada dalam daftar perbendaharaan karier yang ingin saya tempuh dan tuju sewaktu lagi asyik berkhayal di bangku belakang kelas saat STM dulu. Saya ingat, selain pengen jadi tentara\u2014yang merupakan cita-cita kolektif anak STM\u2014target saya dulu setelah selesai STM ialah ingin merantau ke Batam dan bekerja di PT atau membuka usaha bengkel las dan bubut, selaras dengan jurusan saya, Teknik Pemesinan. Namun alam berkata lain. Tak satu pun target itu saya realisasikan. Pasca tamat, saya merantau ke Banten dan justru \u201cterjebak\u201d bekerja sebagai penjaga toko buku. Seiring waktu berjalan, menjadi penjaga toko buku ternyata justru saya nikmati dan syukuri, alih-alih dianggap kesialan. Ini profesi yang menguntungkan secara moril. Juga, ia menjadi profesi yang prospek yang membuka dan meluaskan wawasan.<\/p>\n<p>Loh, kok bisa? Ya, saya serius. Berikut saya uraikan keuntungan yang akan kita dapat saat menjalani profesi penjaga toko buku ini.<\/p>\n<h4><strong>Keuntungan menjadi penjaga toko buku #1 Menjadi pribadi yang ramah dalam berkomunikasi<\/strong><\/h4>\n<p>Perubahan pertama yang akan kita dapati saat menjadi penjaga toko buku ialah kita diajarkan untuk menjadi orang yang ramah dalam berkomunikasi. Pasalnya, dalam melayani pembeli kita dituntut untuk menjadi ramah dan murah senyum agar pelanggan tetap nyaman dan setia untuk membeli buku di toko kita. Ini penting. Mengingat pembeli, terlebih mahasiswa itu, adalah mitra ekonomi strategis kita dalam jangka panjang, setidaknya dalam rentang waktu 4 tahun. Memelihara kemitraan ini sudah menjadi hukum wajib.<\/p>\n<p>Pengalaman saya soal keramahan ini juga cukup unik. Sebagai anak BTL (Batak Tembak Langsung; istilah populer bagi perantau Batak yang langsung dari kampung merantaunya), saya menemui kesulitan dalam hal memperhalus dialek Batak saya yang kental. Acap kali, ketika saya menyapa pembeli, terlebih orang Sunda, saya dikira sedang marah. Padahal bagi saya itu sudah halus dan ramah menyapanya. Untungnya, mereka segera maklum tatkala saya jelaskan memang dah dari sononya dialek kental saya. Tentu saja, saya juga jadi belajar memperhalus intonasi dan dialek daerah saya yang kental.<\/p>\n<p>Selain itu, kesabaran kita juga akan semakin diasah dalam dinamika menghadapi berbagai macam jenis pembeli <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-saat-membeli-buku-tipe-mereka-berdasarkan-jenjang-semester\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">seperti yang saya tulis sebelumnya<\/a>.<\/p>\n<h4><strong>Keuntungan menjadi penjaga toko buku <\/strong><strong>#2 Akses wawasan yang terbuka<\/strong><\/h4>\n<p>Dengan menjadi penjaga toko buku, tentu saja mendapatkan akses membaca berbagai macam buku secara gratis akan terbuka. Tak pelak, kita dapat memboboti diri kita dengan pengetahuan. Sekalipun awalnya kita malas membaca buku-buku tersebut, namun seiring waktu kita akan tetap membacanya, kok. Misalnya, tatkala tidak ada pembeli. Salah satu cara menghibur diri dari kejenuhan adalah dengan membaca berbagai buku tersebut.<\/p>\n<p>Belum lagi bila ada mahasiswa yang memintai tolong pada kita agar mencari bahan-bahan untuk referensi skripsinya. Alhasil, kita \u201cdituntut\u201d membaca berbagai buku agar buku kita turut jadi laku. Apabila sudah berhasil mendapatkan buku yang pas isinya dengan bahan skripsinya tersebut, itu adalah kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi kita selaku penjaga buku. Secara tidak langsung, kita telah turut berkontribusi dalam penyusunan karya ilmiah yang bersangkutan, sekalipun kita hanya tamatan STM, misalnya.<\/p>\n<h4><strong>Keuntungan menjadi penjaga toko buku #<\/strong><strong>3 Memiliki relasi dengan para intelektual<\/strong><\/h4>\n<p>Ya, saya serius. Dengan menjadi penjaga toko buku, peluang \u201cmenjalin relasi\u201d dengan para mahasiswa, dosen, bahkan rektor sekalipun itu sangat mungkin. Bahkan kontak nomor kita akan jadi primadona karena kerap diminta para intelektual ini. Bila biasanya di kampus yang kerap dicari-cari dan diminta adalah nomor dosen dan rektor, bagi penjaga toko buku itu berlaku sebaliknya, justru para dosen dan rektor yang meminta nomor penjaga toko buku. Bayangkan!<\/p>\n<p>Selain itu, pengalaman saya, sebagai tamatan STM kala itu, menjadi penjaga toko buku juga \u201cmemaksa\u201d saya untuk mengerti dan mengikuti taraf pembahasan mereka. Sering kali para intelektual ini mengajak saya diskusi lepas dan sharing-sharing. Tak ayal, saya mesti mengikuti ritme pembahasannya sekalipun tidak mengerti. Demi buku yang akan dibeli.<\/p>\n<h4><strong>Keuntungan menjadi penjaga toko buku <\/strong><strong>#4 Memunculkan niat untuk kuliah<\/strong><\/h4>\n<p>Keuntungan ini memang terkesan subjektif. Tergantung pribadi masing-masing. Namun, dengan menjadi penjaga toko buku dan tiap hari melayani pembeli seperti mahasiswa membuat kita iri dan pengen kuliah seperti mereka, lho. Seperti saya, waktu STM dulu gak pernah ada niat untuk kuliah. Pengennya langsung kerja. Eh, setelah saya kerja jadi penjaga toko buku, malah punya niat besar ingin kuliah. Sampai saya nyoba SBMPTN\u2014istilah yang asing bagi saya saat sekolah\u2014meski akhirnya (pasti) gagal. Saya kemudian nyoba kuliah swasta dan tak terasa, saya sudah menyelesaikannya. Iya, meski sampai saat ini menganggur. Hiks.<\/p>\n<p>Nah, demikianlah keuntungan yang kalian dapat saat menjalani profesi penjaga toko buku. Karenanya, saya ingin merekomendasikan profesi ini pada teman-teman, terlebih yang baru menyelesaikan SMA\/SMK\/STM-nya.<\/p>\n<p>Gimana? Sudah siap meniti hidup dari profesi sini?<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bisa-dapat-ipk-cum-laude-dan-3-alasan-lain-yang-bikin-kuliah-di-kampus-b-aja-itu-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Bisa Dapat IPK Cum Laude dan 3 Alasan Lain yang Bikin Kuliah di Kampus \u201cB-aja\u201d itu Enak<\/a> dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/hendra-sinurat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u00a0Hendra Sinurat<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menjadi penjaga toko buku selama 2 tahun lebih merupakan pengalaman paling berharga dalam perjalanan hidup saya yang saat itu lulusan STM.<\/p>\n","protected":false},"author":688,"featured_media":45111,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[34,6646,1422],"class_list":["post-45053","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-mahasiswa","tag-penjaga-toko","tag-toko-buku"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45053","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/688"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45053"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45053\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45111"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45053"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45053"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45053"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}