{"id":4503,"date":"2019-07-05T12:00:25","date_gmt":"2019-07-05T05:00:25","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=4503"},"modified":"2022-01-20T15:02:08","modified_gmt":"2022-01-20T08:02:08","slug":"alasan-alasan-drama-korea-lebih-menarik-daripada-sinetron-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-alasan-drama-korea-lebih-menarik-daripada-sinetron-indonesia\/","title":{"rendered":"Alasan-Alasan Drama Korea Lebih Menarik Daripada Sinetron Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Sebagai salah satu Kpopers, tentu drama Korea jadi bagian dari beberapa unsur kebudayaan Korea lainnya yang sulit untuk saya abaikan. Tanpa ragu saya ucapkan kalau saya sudah menyaksikan puluhan drama Korea. Ya segitu <span style=\"text-decoration: line-through;\">gabutnya<\/span> cintanya saya dengan drama Korea.<\/p>\n<p>Di Indonesia, menurut pemantauan pribadi saya, mulai ada peningkatan dalam kualitas filmnya maupun produksi. Hal ini terbukti dari <a href=\"https:\/\/tirto.id\/hanung-bramantyo-tertarik-memfilmkan-keempat-novel-tetralogi-buru-edCU\">produktifnya sutradara-sutradara kenamaan Indonesia<\/a> dalam menciptakan karya yang menarik dengan cerita yang nggak monoton. Beberapa bahkan mampu menembus kancah internasional.\u00a0Antusiasme anak muda dalam perfilman juga meningkat. Ditambah lagi dengan adanya salah satu <em>platform<\/em> yang membantu mereka untuk \u2018<em>me-riya\u2019-kan<\/em>\u2019 karyanya.<\/p>\n<p>Namun jika membahas <em>series<\/em> ataupun sinetron\u2014dilihat dari segi kualitas cerita\u2014Indonesia nampaknya masih belum bisa menandingi <em>series<\/em> drama Korea. Produksi <em>series<\/em> Indonesia masih minim jika dibanding dengan produksi filmnya. Karena memang tidak mudah dalam membuat sebuah <em>series<\/em>. Selain karena ceritanya yang nggak bisa selesai dalam waktu 1 jam 30 menitan, membuat sebuah <em>series<\/em> juga tentu memerlukan sebuah naskah cerita yang lebih kompleks plus nggak <em>ngebosenin <\/em>dan bikin penonton setia buat nungguin kelanjutan ceritanya.<\/p>\n<p>Bukan bermaksud menjelek-jelekan karya anak bangsa dan mengagung-agungkan karya luar\u2014tapi sepertinya Indonesia memang harus sedikit belajar dari Korea soal perfilman. Kali ini saya sudah merangkum beberapa alasan kenapa drama Korea bisa lebih menarik untuk ditonton ketimbang sinetron Indonesia. <em>Cekidot!<\/em><\/p>\n<p><strong>1.Totalitas<\/strong><\/p>\n<p>Ya jelas yang pertama adalah totalitas. Mulai dari aktor, <em>setting<\/em>, <em>wardrobe<\/em> sampai pekerja belakang layar, semua harus bekerja secara total dan bersinergi. Tentu saja totalitas yang mereka berikan sejalan dengan upah yang mereka dapat.<\/p>\n<p>Salah satu unsur penting dalam produksi drama Korea adalah pemeran. Beberapa dari drama Korea yang pernah saya tonton tidak sungkan-sungkan untuk menggunakan jasa bintang <em>hallyu<\/em>\u2014sebutan bagi mereka yang punya peran dalam mempopulerkan kultur pop Korea\u2014dengan bayaran sampai ratusan juta. Kenapa mahal? Karena memang beberapa agensi tempat mereka bernaung punya pelatihan dan aturan ketat untuk artis-artis mereka. Makanya jangan kaget kalau beberapa dari mereka <em>multitalent<\/em>.<\/p>\n<p>Sebut saja Kim Soo hyun, yang dibayar 1M tiap episodenya atau Song Joong Ki yang dibayar 600jt untuk masing-masing episode. Dengan bayaran sebesar ini performa yang mereka tampilkan tentu tidak mengecewakan dan sesuai dengan harapan sutradara dan penonton.<\/p>\n<p>Selain para pemain, <em>setting<\/em> juga sangat diperhatikan. Mereka nggak ragu buat ngebangun satu gedung besar untuk dihancurin demi kebutuhan syutingnya. Salah satu drama Korea dengan biaya produksi tertinggi adalah Descendant of the Sun yang menghabiskan hingga 13 milliar Won atau yang kalau dirupiahkan sekitar 159 milliar. Sekadar info, dengan modal segini kalian bisa modif motor matic jadi kapal selam.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>2. Episode yang Nggak Panjang-panjang Amat<\/strong><\/p>\n<p>Selama ini belum pernah saya temui drama Korea dengan total episode sampai 1.533 buah. Drama Korea umumnya mentok di episode 16, 20, 24, 32, 42, 52, dan beberapa drama ada yang sampai menyentuh episode 100 ke atas. Dengan episode yang\u2014bisa dibilang\u2014pendek, penulis naskah bisa merancang cerita dengan \u2018konflik cerita\u2019 yang nggak ke sana ke mari dan fokus dengan masalah yang dihadapi karakter dalam cerita serta cara yang dipilih karakter untuk menyelesaikan konflik tersebut.<\/p>\n<p>Berkaitan dengan jumlah episode, mungkin ada prinsip yang perlu dibenahi dalam produksi sinetron di Indonesia. Kalau saya perhatikan, mereka\u2014<em>filmmaker<\/em>\u2014cenderung lebih berlomba-lomba mempertahankan karya mereka disebuah saluran TV dibanding berlomba-lomba untuk menciptakan karya baru dengan ide cerita yang lebih \u2018gila\u2019 dan <em>fresh<\/em>.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>3. Lembaga Sensor Tidak Terlalu Mengekang, Sutradara Tidak Terlalu Idealis<\/strong><\/p>\n<p>Memang dalam kebanyakan drama Korea menyuguhkan beberapa adegan ciuman dan vulgar lainnya. Karena <span style=\"text-decoration: line-through;\">memang itulah yang kita cari<\/span> adegan seperti ini sudah lumrah digunakan sebagai penambah bumbu-bumbu romansa dalam ceritanya. Tapi adegan-adegan seperti ini nggak bakal sampai ke \u2018adegan ranjang\u2019. Kalaupun sampai ke \u2018adegan ranjang\u2019, kamera pasti akan dialihkan ke objek lain.<\/p>\n<p>Sekalipun kita suka dengan adegan impulsif dalam hubungan romansa yang ditampilkan dalam layar, kita juga harus perhatikan karakter negara kita yang agak sedikit tabu dengan hal-hal seperti ini jika ingin diterapkan di Indonesia. Pada akhirnya <em>problem<\/em> yang sering dialami adalah di satu sisi sutradara ingin menampilkan adegan yang mungkin berbau vulgar dalam ceritanya demi nilai seni atau mungkin menjadi bagian esensial dalam cerita, tapi di lain sisi lembaga sensor juga berusaha memberi aturan yang sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia tanpa mengekang kreatifitas para <em>filmmaker<\/em>.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>4. Fokus pada Cerita, Bukan Editing<\/strong><\/p>\n<p>Jarang sekali kita menyaksikan sebuah drama Korea yang menggunakan <em>editing<\/em> rumit dan berlebihan. Jika dalam ceritanya membutuhkan atribut atau <em>setting<\/em> tambahan untuk menunjang cerita. Mereka lebih memilih memakai konsep <em>practical effects\u2014<\/em>di mana <em>setting<\/em> atau atribut yang dibutuhkan dalam proses syuting mereka ciptakan sendiri agar bisa langsung digunakan di lokasi syuting tanpa perlu menambah-nambah tugas editor.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>5. Iklan Produk yang Tidak Terlalu Ketara<\/strong><\/p>\n<p>\u201cKim Ji Won, kamu lagi minum apa? Enak banget kayanya.&#8221;<\/p>\n<p>\u201cIni loh Lee Min Ho\u2014ini kopi \u201cShip Fire\u201d. Kopi ini bisa bikin aku <em>melek<\/em> seharian buat ngerjain skripsi!\u201d<\/p>\n<p>\u201cWah kalau gitu aku mau dong satu. Aku juga mau begadang nih buat bikin lagu Indie.\u201d<\/p>\n<p>\u201cYa udah\u2014tunggu aku buatin dulu yhaaa~\u201d<\/p>\n<p><em>*mereka sruput kopi bersama<\/em><\/p>\n<p><em>*kamera menyorot sachet kopi<\/em><\/p>\n<p>Nggak mungkin kalian nemu iklan produk di luar kebutuhan cerita film secara <em>blak-blakan<\/em> kaya gini di drama Korea.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>6. Karena Kita Nonton Pakai <em>Subtitle<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Dan pastinya ini adalah alasan yang paling logis kenapa kita suka drama Korea. Karena tanpa subtitle kita hanyalah remahan rengginang\u2014<em>yhaaa~<\/em><\/p>\n<p>Nah, kira-kira itulah beberapa alasannya. Apakah kamu tertarik?<\/p>\n<p>Selamat menonton!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tanpa ragu saya ucapkan kalau saya sudah menyaksikan puluhan drama Korea. Ya segitu gabutnya cintanya saya dengan drama Korea.<\/p>\n","protected":false},"author":160,"featured_media":5687,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13118],"tags":[1397,546,1293,1178,1007,1134],"class_list":["post-4503","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-serial","tag-anak-gaul","tag-anak-muda","tag-drama-korea","tag-kpop","tag-kpopers","tag-sinetron"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4503","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/160"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4503"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4503\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5687"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4503"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4503"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4503"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}