{"id":4479,"date":"2019-06-22T17:00:37","date_gmt":"2019-06-22T10:00:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=4479"},"modified":"2022-01-14T12:47:24","modified_gmt":"2022-01-14T05:47:24","slug":"wedang-jowo-dan-segala-filosofinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wedang-jowo-dan-segala-filosofinya\/","title":{"rendered":"Wedang Jowo dan Segala Filosofinya"},"content":{"rendered":"<p>Setelah sekian lama memimpikan bisa pergi ke Yogyakarta sendiri, akhirnya mimpi itu menjadi kenyataan juga. Bukannya untuk liburan, saya pergi ke Yogyakarta untuk melakukan interview dan tes untuk <a href=\"https:\/\/mojok.co\/red\/corak\/maljum\/kuntilanak-siang-hari-nyamar-jadi-anak-magang\/\">program magang<\/a> saya di Mojok.co\u2014meskipun hanya memakan waktu sebentar saja\u2014dan selesailah urusan saya. Hari-hari lainnya saya gunakan untuk jalan-jalan di sekitaran Yogyakarta.<\/p>\n<p>Ketika banyak orang ke Yogyakarta hanya untuk memuaskan hasrat berbelanja di Malioboro dan sekitarnya, saya malah melakukan hal lainnya. Saya tidak terlalu suka keramaian. Maka dari itu, saya tidak memasukkan Malioboro ke daftar tujuan saya. Lebih baik saya pergi ke angkringan di pinggir jalan, mencoba es teh angkringan yang rasanya enak sekali dan mencicipi jajanan khasnya.<\/p>\n<p>Suatu hal terjadi di malam terakhir saya berada di Yogyakarta. Salah seorang teman yang di Yogyakarta mengajak saya untuk nongkrong di salah satu angkringan yang menjual berbagai wedangan khas jawa, atau Wedang Jowo seperti yang tertulis di spanduknya. Saya yang pertama kali datang ke angkringan seperti ini, cukup kaget dengan varian Wedang Jowo yang ternyata banyak sekali. Karena Wedang Jowo yang saya tahu selama ini ya paling hanya Wedang Uwuh sama Secang aja.<\/p>\n<p>Teman saya merekomendasikan Bir Jowo<em>, <\/em>minuman hangat yang diracik dari jahe, lemon, kayu manis, kapulaga, serta gula batu. Saya <em>manut<\/em> saja. Saya juga yakin pasti enak <em>sih.<\/em> Sepuluh menit menunggu, minuman saya akhirnya datang. Satu gelas alumunium besar lengkap dengan tutupnya yang berisi Bir Jowo<em>,<\/em> dan satu gelas alumunium kecil yang berisi gula batu.<\/p>\n<p>Sebagaimana cara orang minum, saya langsung saja minum dari gelas yang besar\u2014setelah <a href=\"https:\/\/tirto.id\/perbedaan-gula-rafinasi-dan-gula-kristal-putih-bwjh\">memasukkan gula batu<\/a> ke dalamnya. Enak juga rasanya\u2014hangat tapi segar. Teman saya yang sudah biasa dengan rasa wedang ini malah ngobrol dengan sang penjual. Sementara saya masih mencoba menganalisis rasa dari Bir Jowo\u00a0yang enak sekali ini. Hingga tibalah pada suatu perbincangan seperti ini.<\/p>\n<p>\u201cMas, minum Wedang Jowo itu ada filosofinya. Filosofinya sendiri akan keluar ketika cara minumnya juga sesuai.\u201d<\/p>\n<p>\u201c<em>Pripun <\/em>caranya, Pak?\u201d<\/p>\n<p>\u201cItu kan ada dua gelas. Satu gelas besar dengan tutupnya dan satu gelas kecil. Cara minumnya adalah tutup gelas besar dengan penutupnya, lalu <em>njenengan <\/em>tuangkan ke gelas kecil. Pelan-pelan saja.\u201d<\/p>\n<p>Seketika saya dan teman saya langsung mempraktikkan apa yang diinstruksikan oleh si penjualnya. Benar saja\u2014selain rasanya lebih mantap, air yang keluar juga otomatis tersaring oleh celah antara bibir gelas dan penutup gelasnya.<\/p>\n<p>\u201cSelain untuk saringan, cara minum seperti ini juga ada filosofi luhurnya, Mas.\u201d<\/p>\n<p>\u201cApa itu, Pak?\u201d<\/p>\n<p>\u201cFilosofinya adalah <em>berikanlah pada orang lain atau pada tamumu sesuatu yang baik, tanpa mereka harus tahu apa isi di dalamnya.<\/em>\u201d<\/p>\n<p>Mendengar perkataan penjual itu, badan dan pikiran saya serasa ingin meloncat ke sana ke mari dan tidak karuan. Lupakan sejenak filosofi besar tentang garis lurus imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu, Alun-Alun Utara, Keraton, Alun-Alun Selatan, Panggung Krapyak, hingga Pantai Selatan. Mari fokus pada filosofi kecil yang dituturkan oleh penjual Wedang Jowo ini.<\/p>\n<p><em>\u201cBerikanlah pada orang lain atau pada tamumu sesuatu yang baik, tanpa mereka harus tahu apa isi di dalamnya.<\/em>\u201d Ini adalah sebuah filosofi yang ringan namun cukup mengakar di kebudayaan kita. Bayangkan saja, kita memberikan sesuatu yang baik, tanpa orang yang kita suguhkan tahu apa isinya.<\/p>\n<p>Kalau ditelaah lebih dalam lagi, ini adalah filosofi yang salah satunya mengajarkan untuk tidak <em>riya\u2019. <\/em>Kita memberikan sesuatu yang baik\u2014apapun bentuknya\u2014tanpa orang tahu apa di dalamnya, apa maksudnya, dan apa tujuannya. Orang-orang yang diberikan suguhan, diharapkan menikmati suguhan yang sudah jelas baik dan sudah tersaring dari ampas-ampasnya. Filosofi ini hampir sama dengan <em>\u201ctangan kanan memberi, tangan kiri tidak mengetahui.\u201d <\/em><\/p>\n<p>Lima hari berada di Yogyakarta membuat saya belajar tentang nilai-nilai kehidupan yang luhur. Filosofi di atas mengajarkan kita untuk memberikan atau menyuguhkan apa-apa yang baik pada orang lain, tanpa mereka tahu apa yang ada di dalamnya. Sama seperti ketika saya memberikan cinta padamu, dan kamu tak melihat isi dalam hatiku dan berpaling pada yang lain. Wah, <em>ambyar iki~<\/em><\/p>\n<p>Cukup.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya yang pertama kali datang ke angkringan seperti ini, cukup kaget dengan varian Wedang Jowo yang ternyata banyak sekali.<\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":4481,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[1148,1146,1147,1145,509],"class_list":["post-4479","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-filosofi-hidup","tag-kebudayaan","tag-khas-daerah","tag-wedang-jowo","tag-yogyakarta"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4479","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4479"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4479\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4481"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4479"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4479"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4479"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}