{"id":44351,"date":"2020-05-11T13:55:33","date_gmt":"2020-05-11T06:55:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=44351"},"modified":"2020-05-12T21:46:14","modified_gmt":"2020-05-12T14:46:14","slug":"4-alasan-usaha-ternak-ayam-sebaiknya-jangan-dilakukan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-usaha-ternak-ayam-sebaiknya-jangan-dilakukan\/","title":{"rendered":"4 Alasan Usaha Ternak Ayam Sebaiknya Jangan Dilakukan"},"content":{"rendered":"<p>Mohon maaf sebelumnya, ini bukan tulisan ala-ala motivator yang mendukung agar kita semua mampu dan punya jiwa optimistis untuk membangun suatu usaha. Tulisan ini adalah upaya kecil dari saya agar banyak dari kita semua untuk tidak memulai usaha, khususnya ternak ayam. Pada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/firdaus-al-faqi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">beberapa tulisan sebelumnya<\/a>, saya sering mengambil perspektif yang enak dan yang baik-baik saja dari beternak ayam. Tapi rasanya kurang lengkap kalau tidak saya tuliskan juga tentang nggak enaknya sekaligus saran agar banyak dari kita tidak memulai usaha beternak ayam ini.<\/p>\n<p>Ada beberapa alasan nggak enak dan semoga bikin yang membacanya tidak ingin beternak ayam.<\/p>\n<h4><strong>4 alasan usaha ternak ayam sebaiknya jangan dilakukan #1\u00a0Sangat melelahkan<\/strong><\/h4>\n<p>Pada alasan pertama ini, saya merasakannya cukup lama. Ayah saya memulainya sekitar enam bulan yang lalu. Kalau saya ada kesempatan libur atau rehat sejenak dari proses nggarap skripsi, biasanya saya bantu ayah untuk memberi makan ayam. Dalam pemberian makannya, saya harus bolak-balik ke kandang tiga kali sehari. Dalam prosesnya, saya harus mengambil makannya terlebih dulu. Mengambil makannya juga tidak sembarangan. Saya harus membuat sendiri komposisi pakan sesuai dengan arahan dari ayah. Untuk makannya, biasanya dalam satu wadah air berukuran sedang, saya harus mencampur konsentrat beserta bubuk dengan perbandingan 5 centong konsentrat dicampur 11 centong bubuk. Pokoknya susah.<\/p>\n<p>Selain itu, saya harus memutari kandang karena antara ayam yang sudah besar dan masih kecil itu kandangnya terpisah. Saya juga masih harus mengira-ngira seberapa banyak pakan yang harus saya tuangkan ke ayam-ayam yang sudah besar dan yang masih kecil. Dan paling melelahkannya lagi, saya harus disiplin dalam waktu pemberian makan ayam. Misalnya, kalau dari awal ayah saya memberi makan itu pagi jam 08.00, sore jam 16.00, dan malam 20.00, maka seterusnya harus begitu. Tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Pokoknya capek.<\/p>\n<h4><strong>4 alasan usaha ternak ayam sebaiknya jangan dilakukan #<\/strong>2 Kandang ayam sangat bau dan kotor<\/h4>\n<p>Untuk yang ini, mungkin hanya orang-orang desa seperti saya saja yang merasakan bagaimana baunya kandang ayam. Bau itu berasal dari telek ayam. Awal saya mencoba untuk membantu saja, saya harus mengenakan masker terlebih dahulu untuk berjaga-jaga siapatahu saya tidak kuat dan langsung pingsan di tempat. Orang-orang yang mengerti ternak juga pernah berkata, memang begitu bau kandang ayam. Apalagi kalau diberi pakan konsentrat, itu akan membuat telek ayam bertambah bau. Kalau mungkin yang membaca ini orang kota, saya sangat yakin kalau kalian akan melambaikan tangan saat berada di dekat kandang ayam selama tiga puluh menit karena tidak tahan oleh baunya.<\/p>\n<p>Selain itu, namanya juga ayam. Teleknya pasti menyebar kemana-mana. Ini yang membuat teritorial di sekitar kandang itu sangat kotor. Seringkali, saat saya memberi makan, celana, sandal, dan badan saya dihinggapi oleh telek ayam ini. Paling menyebalkan adalah ketika saya baru saja mengganti pakaian dan setelah memberi makan malah kena telek ayam lagi. Kan, saya kasihan sama ibu yang sudah mencucikan baju. Dasar ayam!<\/p>\n<h4><strong>4 alasan usaha ternak ayam sebaiknya jangan dilakukan #<\/strong>3 Keuntungannya kecil<\/h4>\n<p>Di tulisan saya tentang penghitungan pendapatan ayam sudah menjelaskan keuntungan yang didapatkan. Dalam seratus ekor ayam, penghasilan maksimal per dua bulan hanya sekitar enam ratus ribu rupiah. Kalau dihitung-hitung, ini nggak sebanding dengan pengorbanan keringat, ketempelan telek ayam, dan perjuangan menahan bau teleknya itu. Jihad susah-susah dapatnya hanya enam ratus ribu per dua bulan. Nggak cocok blas. Jujur saja, dalam tulisan tentang pendapatan dari ternak ayam itu sambil mringis dan cari-cari alasan agar pembaca punya kesan baik terhadap keuntungan ternak ayam. Tapi sebenarnya, dari hati yang terdalam, keuntungannya sangat kecil.<\/p>\n<p>Selain itu, dalam ternak ayam ini, keuntungannya sangat dipengaruhi oleh tengkulak-tengkulak yang sering ambil untung besar. Mereka ambil ayam dari tangan pertama dengan harga murah, tapi di pasar, mereka mematok harga yang lumayan tinggi. Kita yang beternak ayam ini berpeluh-peluh, tengkulak tinggal nyantai dan ongkang-ongkang kaki menikmati &#8220;jarahan&#8221;-nya.<\/p>\n<h4><strong>4 alasan usaha ternak ayam sebaiknya jangan dilakukan #4 K<\/strong>ebanyakan pesaing<\/h4>\n<p>Ternak ayam ini ada kan sudah dari dulu. Dari mbah-mbah, bahkan mungkin dari zaman sebelum mbah-mbah kita itu lahir, ternak ayam sudah merajalela di dunia. Ini juga alasan kenapa sangat saya sarankan agar tidak beternak ayam. Dalam sudut pandang ekonomi, kalau ketersediaan barang sejenis\u2014dalam hal ini ayam\u2014itu banyak di pasaran, harganya akan menurun. Nah, kalau langka, yang terjadi adalah sebaliknya. Harga akan meningkat dan kesejahteraan peternak ayam lainnya akan meningkat juga, termasuk saya dan ayah. Dan, seluruh keuntungan yang dengan rindu dendam para peternak ayam sering impikan akan dibayar tuntas.<\/p>\n<p>Maka dari itu, sekali lagi saya tegaskan, agar pembaca memantapkan hati dan jiwa dan mempertahankan dengan segenap jiwa raga prinsip untuk bersedia tidak memulai usaha ternak ayam.<\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/commons.wikimedia.org\/wiki\/File:Peternakan_Ayam_Potong_Desa_Sampiri_Airmadidi_-_panoramio.jpg\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Wikimedia Commons<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menghitung-ongkos-dan-untung-usaha-beternak-ayam-untuk-pemula\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Menghitung Ongkos dan Untung Usaha Beternak Ayam untuk Pemula<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/firdaus-al-faqi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Firdaus Al Faqi<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tulisan ini adalah upaya kecil saya agar tidak sembarang orang memulai usaha ternak ayam. Bisa jadi usaha ini tidak seperti bayangan Anda.<\/p>\n","protected":false},"author":585,"featured_media":44718,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[6275,6474,6369],"class_list":["post-44351","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-ayam","tag-peternakan","tag-ternak-ayam"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44351","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/585"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44351"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44351\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44718"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44351"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44351"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44351"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}