{"id":43745,"date":"2020-05-07T15:37:03","date_gmt":"2020-05-07T08:37:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=43745"},"modified":"2020-05-07T15:37:03","modified_gmt":"2020-05-07T08:37:03","slug":"kuncung-lagu-didi-kempot-yang-mendeskripsikan-kemiskinan-dengan-begitu-mewah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuncung-lagu-didi-kempot-yang-mendeskripsikan-kemiskinan-dengan-begitu-mewah\/","title":{"rendered":"Kuncung, Lagu Didi Kempot yang Mendeskripsikan Kemiskinan dengan Begitu Mewah"},"content":{"rendered":"<p>Di sebuah desa nun jauh di pelosok Rembang sana, saya tumbuh dengan iringan lagu maestro campursari Didi Kempot. Adalah bapak saya\u2014kempoters sejati\u2014yang mengenalkan saya dengan lirik-lirik asik tembang gubahan sang maestro. Bapak juga memasang poster idolanya tersebut di beberapa sudut ruangan. Utamanya di kamarnya sendiri. Sejak saya masih TK, lagu-lagunya sudah sering saya dengar dari radio butut di rumah.Ada sekian banyak lagu Pakdhe Didi Kempot yang sering bapak putar. Namun, insting kanak-kanak saya\u2014pada masa itu\u2014cenderung terpikat dengan sebuah lagu dengan judul \u201cKuncung\u201d. Sejak kelas dua SD saya sudah mulai menghafalnya tanpa terpeleset atau terbolak-balik satu lirik pun. Orang-orang desa saya juga sering menggunakan lagu ini buat ngudang (menggoda) bocah-bocah balita.<\/p>\n<p>\u201cKuncung\u201d, menurut Sujiwo Tejo, adalah sebuah lagu yang berhasil mendeskripsikan kemiskinan dengan begitu mewah. Kehidupan memprihatinkan ala masyarakat pedesaan yang di tangan Didi Kempot, justru terkesan sangat syahdu dan indah. Lagu yang setiap kali saya putar, pasti membuat saya bersegera mengatur jadwal untuk pulang kampung, meski kegiatan di kampus sedang padat-padatnya.<\/p>\n<p>Cilikanku rambutku dicukur kuncung<br \/>\nKatokku soko karung gandum<br \/>\nKlambiku warisane mbah kakung<br \/>\nSarapanku sambel korek sego jagung<\/p>\n<p>Saya ingat betul, dulu anak-anak di desa saya memang sering kali dicukur model kuncung oleh para orang tuanya, Model cukur yang hanya menyisakan potongan rambut bagian depan saja. Seharusnya ini sangat memalukan. Tapi Pakdhe Kempot menggambarkannya sebagai sesuatu yang indah buat dikenang.<\/p>\n<p>Potret kemiskinan bisa dilihat dari kehidupan kami\u2014anak-anak desa tempo dulu\u2014yang celananya hanya terbuat dari karung gandum. Baju pun warisan dari mbah kakung, dan sarapan yang hanya cukup dengan sambal korek dan nasi jagung. Tapi itu sudah lebih dari mewah. Dan lewat lirik tersebut, Pakdhe Didi mengajak kita untuk sama-sama merayakan keprihatinan diri sendiri dengan cara yang paling elegan: tertawa dan berjoget ria.<\/p>\n<p>Kosokan watu ning kali nyemplung ning kedhung (byur)<br \/>\nJaman ndisik durung usum sabun (pabrike rung dibangun)<br \/>\nAndhukku mung cukup andhuk sarung<br \/>\nDolananku montor cilik soko lempung<\/p>\n<p>Bagi masyarakat desa, kedhung (sumbatan air sungai cukup besar) menjadi elemen multifungsi untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Mulai dari pagi, siang, sampe menjelang magrib, kedhung nggak bakal sepi dari aktivitas masyarakat desa yang bermacam-macam. Mandi, mencuci pakaian, dan beberapa ada yang menimba untuk dibawa ke rumah masing-masing. Ya karena rata-rata masyarakat desa tempo dulu tidak memiliki kamar mandi sendiri di rumah mereka.<\/p>\n<p>Saya termasuk ke dalam golongan yang sempat merasakan nggak punya kamar mandi sendiri. Untuk itulah kedhung menyimpan kenangan yang sentimental buat saya. Pagi betul sekitar pukul setengah enam, saya sudah harus ke kedhung\u2014mandi sebelum sekolah. Siangnya saya ke kedhung lagi\u2014mandi untuk ngaji madrasah. Dan sorenya, selepas lelah berburu capung di pematang sawah, saya akan menceburkan diri ke sana untuk yang terakhir kalinya.<\/p>\n<p>Potret kemiskinan yang amat sangat nyata, tapi terkesan begitu menawan di tangan Pakdhe Kempot. Nggak ada sabun, kami\u2014masyarakat desa\u2014lebih terbiasa menggunakan batu kali sebagai alat untuk menggosok kotoran dari tubuh. Nagak ada handuk, hanya sehelai sarung yang kami gunakan untuk mengeringkan badan. Bahkan ketika anak-anak di kota sana sudah bisa bermain dengan mobil remote control, kami\u2014anak-anak desa\u2014sudah cukup menikmati bermain hanya dengan lempung yang bisa kami bentuk berupa macam jenis mainan: mobil, robot-robotan, perkakas rumah tangga, bergantug imajinasi kami. Ngenes, tapi menyenangkan sekali.<\/p>\n<p>Rekasane saiki wis (pis holopis kuntul baris)<br \/>\nGegere gek mbok ndang wis<\/p>\n<p>Lewat bait selingan ini, sang maestro mengajak para pendengarnya untuk menyudahi rekasa (kesusahan). Pakdhe Kempot menyisipkan pesan, \u201cSungguh nggak ada yang susah kalau segalanya disengkuyung (dijalani) bareng-bareng.\u201d Ini tersirat pada peribahasa Jawa \u201cpis holopis kuntul baris\u201d.<\/p>\n<p>Konon, peribahasa ini dipopulerkan Sukarno pada dekade \u201860-an untuk mengampanyekan tradisi gotong royong, yang disimbolisasi dengan kuntul\u2014sejenis burung camar yang hidupnya berkelompok. Dalam lirik tersebut jelas, Pakdhe Kempot memberi tips sekaligus memberi gambaran tentang kehidupan desa yang sarat akan kebersamaan, gotong royong untuk meringankan beban (kesusahan) satu sama lain.<\/p>\n<p>Tanggal limolas padhang njingglang bulane bunder (serrr)<br \/>\nAku dikudang sok yen gedhe dadi dokter (sing ngudang mboke)<br \/>\nTanggal limolas padhang njingglang bulane bunder (serrr)<br \/>\nBareng wis gedhe aku disuntik karo bu dokter<\/p>\n<p>Kurang ngenes gimana coba? Ketika kecil digadang-gadang bakal jadi dokter, pas udah gedhe eh malah cuma jadi pasien. Sekilas lirik ini terdengar sangat memilukan memang. Di mana seseorang harus dihadapkan dengan realitas yang selalu melenceng jauh dari ekspektasi sebelumnya. Tapi demikianlah hidup. Dan Didi Kempot menganggapnya hanya sebagai lelucon; mengajak kita untuk menertawakan kenyataan hidup masing-masing. Kenyataan, sepahit apa pun, jangan diratapi, jangan ditangisi. Ha wis pokoke dijogeti waeee.<\/p>\n<p>Pakdhe, bahagialah di sana, sebagaimana jenengan membuat masa kecil saya\u2014atau kami anak-anak desa\u2014sebegitu bahagia di tengah kenyataan hidup yang serba memprihatinkan.<\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/commons.wikimedia.org\/wiki\/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_Javaanse_vrouw_wast_kleren_terwijl_haar_kinderen_in_de_rivier_baden_Java_TMnr_10002877.jpg\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Wikimedia Commons<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tiga-catatan-penting-soal-pernikahan-orang-kaya-dan-miskin-usul-muhadjir-effendy\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tiga Catatan Penting Soal Pernikahan Orang Kaya dan Miskin Usul Muhadjir Effendy<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aly-reza\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aly Reza<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam lagu &#8220;Kuncung&#8221;-nya Didi Kempot, kehidupan memprihatinkan ala masyarakat pedesaan justru terkesan sangat syahdu dan indah.<\/p>\n","protected":false},"author":540,"featured_media":43880,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[322,1427,6541,2682,542],"class_list":["post-43745","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-desa","tag-didi-kempot","tag-kuncung","tag-lagu","tag-miskin"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43745","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/540"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43745"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43745\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/43880"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43745"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43745"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43745"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}