{"id":43460,"date":"2020-05-06T12:10:52","date_gmt":"2020-05-06T05:10:52","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=43460"},"modified":"2020-05-06T12:10:52","modified_gmt":"2020-05-06T05:10:52","slug":"ketika-pidi-baiq-menulis-kisah-cinta-karl-marx","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ketika-pidi-baiq-menulis-kisah-cinta-karl-marx\/","title":{"rendered":"Ketika Pidi Baiq Menulis Kisah Cinta Karl Marx"},"content":{"rendered":"<p>Kita sepakati bahwa Karl Marx adalah dua sisi uang koin. Pemikirannya banyak dipuja, pun banyak pula yang menganjing-anjingkan. Tokoh teoritikus sosialis ini adalah pusat alam raya bagi yang mencintainya. Pemikirannya bak sebuah ilham dan tak jarang pula banyak yang menganggap \u201csesat\u201d. Tapi, setidaknya, ada satu sisi yang sebenarnya Karl Marx ini nggak Marxist-Marxist amat. Ya apa lagi jika bukan urusan cinta.<\/p>\n<p>Mau bagaimana lagi, Karl Marx tetaplah Karl Marx, ia adalah manusia biasa yang jika keslomot api akan tetap mengaduh walau jiwanya selalu berkobar-kobar tentang asas bara perlawanan. Puisi-puisi yang ia buat, setidaknya begitu lepas dan tidak terpatri dengan apa yang ada di \u201cmenu utama\u201d kepalanya. Setidaknya Marx adalah kita, ketika mencintai seseorang, maka kata cinta bagai sebuah jamur di musim penghujan. Siapa yang nggak bakal geli ketika membayangan sosok Marx bilang seperti ini, \u201cDalam helaian Jiwa cemerlang\/ Akan mendekap duniamu\/ Akan meruntuhkanmu, akan merendahkanmu\/ Akan menabuhkan tarian purba.\u201d Setidaknya terdapat satu nama yang menjadi pusat dari roman picisan seorang Marx. Yakni Jenny, istrinya.<\/p>\n<p>Bukan berarti saya mengatakan Marx dan Jenny nggak bahagia-bahagia amat dalam menjalani bahtera rumah tangga mereka hanya karena puisi Marx. Biarkan Insert atau Silet saja yang mengurus perkara dapur rumah tangga orang, kita jangan. Yang jelas, yang menjadi titik pokok dalam tulisan kali ini ialah betapa wagunya Marx dalam mengolah urusan percintaannya. Bagaimana nggak layak dipisuhi, lha wong pas bulan madu yang seharusnya khuyuk dan melupakan urusan pekerjaan, Marx justru membawa beberapa buku dalam perhelatan yang dianggap paling suci pascapernikahan itu.<\/p>\n<p>Puisi dan tindakannya tidak sinkron, namun penafsiran ini hanya didapat dalam literatur-literatur saja. Dalam puisinya yang penuh ungkapan romantik abad pertengahan, nyatanya tidak sebanding dengan apa yang ia perbuat. Dilansir dari <a href=\"https:\/\/tirto.id\/sejarah-keluarga-karl-marx-radikal-sampai-anak-istri-coav\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tirto<\/a>, bahkan Jenny pernah menerima dampak ngambeknya seorng Marx yang entah apa penyebabnya, namun Marx mengasingkan Jenny selama berbulan-bulan.<\/p>\n<p>Seandainya saja Marx hidup tidak terlalu awal, dan ia besar dan dilahirkan di daerah Dago, saya tentu akan menawarkan Ayah Pidi Baiq sebagai penasehat utama Marx. Setelah saya terkesima dengan buku barunya, Helen dan Sukanta, sepertinya Ayah akan sanggup meromantisasi kisah cinta Marx dan Jenny dalam sebuah kacamata yang berbeda. Mungkin saja, jadinya akan seperti ini.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: center;\"><strong>Karl dan Jenny<\/strong><\/h4>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>(pura-puranya) oleh Pidi Baiq\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Namaku Jenny. Jenny von Westphalen. Jenis kelamin perembuan tadi baru saja membantu Bapak mengurus jurnal terbarunya. Bapakku, Ludwig von Westphalen, adalah orang termasyhur di daratan Bornum am Elm, Prusia. Tetapi, ini bukan kisah mengenai diriku, bukan juga keluargaku, melainkan tentang dia. Dia yang memberikan aku pemahaman bahwa Kerajaan Prusia adalah kerajaan paling romantis walau penuh siksa. Ya, dia adalah Marx, dia adalah Marx-ku 1836.<\/p>\n<p>Kota Trier pagi itu adalah sebuah lanskap romantis dengan penuh gairah yang tak tertandingi. Asap-asap pabrik mengepul dengan indahnya, ribuan buruh menatapku nanar karena jam kerjanya. Aku berjalan dengan anggunnya, menangkap semua mata yang aku lewati dan ternyata, ada seorang pria muda yang menghampiriku dengan wagu-nya. Lantas, ia njejeri aku.<\/p>\n<p>\u201cPagi-pagi di Trier yang penuh kelas pekerja, eh ada wanita manja dan menggoda,\u201d katanya dengan kaku.<\/p>\n<p>\u201cCakeuuup!\u201d jawabku mengikuti Denny Cagur tiap nimpali Bang Sapri.<\/p>\n<p>\u201cBukan sedang pantun, itu puisiku,\u201d katanya dengan jutek.<\/p>\n<p>\u201cOh,\u201d aku menahan tawa.<\/p>\n<p>\u201cSelamat pagi,\u201d sapanya lagi, memulai perbincangan kami yang tadinya mati.<\/p>\n<p>\u201cEh, iya, pagi,\u201d aku menoleh perlahan kepadanya. Janggutnya, unch banget. Tapi sengaja aku jual mahal dan tidak memperhatikan dirinya yang masuk kategori lumayan.<\/p>\n<p>\u201cKamu Jenny, ya?\u201d<\/p>\n<p>Aku diam tak menjawab, aku hanya menoleh lagi dengan perlahan. Barangkali aku mengenalnya.<\/p>\n<p>\u201cBoleh nggak aku ramal?\u201d<\/p>\n<p>\u201cRamal?\u201d Jenny pun kebingungan. Kok ramal? Kok bukan kenalan?<\/p>\n<p>\u201cAku ramal kapitalisme bakal tumbang!\u201d katanya sambil mengepalkan tangannya.<\/p>\n<p>\u201cAyo, ke bapakku sekarang juga!\u201d Dan kami pun akhirnya berkenalan dan aku perkenalkan dia dengan bapakku yang sepertinya memiliki pola pikir yang sama dengannya. Uwu kan kisah cinta kita?<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p>Bukan hanya di bagian ikonik dalam kisah cinta Dilan dan Milea itu saja, kisah cinta Marx dan Jenny bisa dihaturkan dengan manis oleh Pidi Baiq dalam bagian yang lainnya. Salah satunya adalah ketika Milea ulang tahun dan diberikan TTS yang sudah diisi oleh Dilan. Agaknya kisah tersebut bisa dicontek oleh Marx dengan sedikit perubahan. Begini jadinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p>Karl menghadiahiku sepucuk surat dan sebuah kotak hadiah. Dengan penuh senyum medeni, aku berlari ke kamar. Aku bumbungkan hadiahnya ke udara, aku lihat lagi perlahan. Aku buka dengan cepat-cepat dan menendang kado boneka dari Nandan van Houten. Setelah aku buka, kosong. Babar blas nggak ada isinya. Wah, apakah Karl memainkanku?<\/p>\n<p>Lantas aku buka dengan cepat sepucuk surat darinya. Ia gambari samping-sampingnya. Ada gambar doodle mulai dari Mickey Mouse sampai Haji Sodiq yang ia beri panel komik \u201ciya iya iya\u201d. Di tengahnya, ada kata-kata yang disusun secara manis olehnya. Kata-kata tersebut berbunyi:<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">SELAMAT ULANG TAHUN, JENNY.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">INI HADIAH UNTUKMU, HANYA KOTAK YANG\u00a0 TADI ADA ISINYA.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">TAPI SUDAH AKU HILANGKAN SEBAGAIMANA PENERAPAN SEWA TANAH YANG HARUS KITA HILANGKAN<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">AKU SAYANG KAMU<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">AKU TIDAK MAU KAMU CAPEK-CAPEK MENGONSEPKANNYA.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">KARL<\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/B3oBukqBYU5\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Instagram Pidi Baiq<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/begini-jadinya-cerita-dilan-dan-milea-jika-pidi-baiq-orang-bantul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Begini Jadinya Cerita Dilan dan Milea Jika Pidi Baiq Orang Bantul<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seandainya Marx hidup tidak terlalu awal, dan ia lahir dan besar di Bandung, saya akan menawarkan Ayah Pidi Baiq sebagai penasehat cinta utama Marx.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":43547,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6522,2258,5743],"class_list":["post-43460","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-helen-dan-sukanta","tag-karl-marx","tag-pidi-baiq"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43460","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43460"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43460\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/43547"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43460"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43460"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43460"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}