{"id":43421,"date":"2020-05-08T01:50:28","date_gmt":"2020-05-07T18:50:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=43421"},"modified":"2020-05-06T00:03:53","modified_gmt":"2020-05-05T17:03:53","slug":"horornya-antrean-panjang-di-pesantren-tiap-ramadan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/horornya-antrean-panjang-di-pesantren-tiap-ramadan\/","title":{"rendered":"Horornya Antrean Panjang di Pesantren Tiap Ramadan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hidup di lingkungan pesantren, tidak bisa lepas dari kebiasaan \u2018mengantre\u2019. Di pesantren nih, mau ngapain aja harus terbiasa mengantre. Mau mandi antre, mau makan antre, mau nyuci antre. Jadi, kalian yang santri saya akui tingkat kesabaran kalian top markotop. Kalau kalian sukanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nyalip, nyelak,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> a.k.a nyelonong minta duluan, berarti ya santri yang nggak sabaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun, sekarang juga sudah banyak pondok pesantren modern yang per kamar dapat kamar mandi satu, atau ambil jatah makan sudah disiapkan per anak tanpa harus mengantre panjang. Tapi, di sini saya mau cerita dan nostalgia Ramadan di pesantren yang serba antre, seperti di pesantren yang pernah saya singgahi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa antrean di pondok ambil makan jadi lebih panjang? Padahal kan, orangnya tetep segitu-gitu aja. Diramein sama jin muslim yang ikut ambil makan buat sahur dan buka puasa, gitu? Nggak, nggak gitu, Gaes.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kan ada pesantren yang kalau Ramadan menerima santri kilatan atau santri ngaji pasaran? Terus, emang iya, karena itu? Nggak juga, sih.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi begini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mulai dari sahur nih. Kalau sahur telat jam setengah empat baru bangun aja antrean udah kayak kereta berapa gerbong tuh. Atau kalau nggak, makanan tinggal stok akhir-akhir. Jadi, biasanya para santri memilih untuk begadang di malam harinya. Selesai pengajian kitab jam 11 malam, nunggu tiga jam doang, sambil belajar, ngobrol-ngobrol, tau-tau udah jam dua pagi dan jatah makan sahur sudah mulai disiapkan di dapur pesantren.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau banyak santri lebih memilih begadang, kita yang memilih untuk tidur dan jam tiga pagi baru bangun itu bisa-bisa sudah pada kelabakan. Sambil kucek mata, ngantre panjang, ngantuk. Jadi nggak heran, kalau pada ngantre sambil duduk, jongkok, dan sambil merem-merem. Tapi, mau gimana lagi, jam empat sudah imsak dan kegiatan di pondok sudah mulai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, ambil makan buka puasa. Buat yang pernah nyantri nih, pasti pada pernah ngerasain ngaji kitab habis Asar dan baru selesai jam lima. Kalau ustaznya cerita panjang lebar, sampai jam setengah enam biasanya baru selesai. Kalau pesantren di daerah Jawa dan sekitarnya nih, jam enam sore sudah buka puasa, kan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebayang nggak sih, santri ratusan pulang ngaji jam lima semua, langsung berbondong antre ambil makan buka puasa. Dan bayangin lagi, perut laper karena puasa, udah gitu harus sabar antre kayak kereta. Mantep!!!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pesantren selalu mengajarkan saya akan banyak hal. Tentu bukan hanya pelajaran mengaji atau pendidikan yang saya dapatkan. Ada saja pelajaran yang saya ambil dari setiap momen dan bagaimana seharusnya berhubungan sosial yang baik dengan sesama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh nih, kalau ada yang nyelonong antrean, langsung deh diomelin mulut santri se-pondok. Karena kita sudah terbiasa mengantre di keseharian kita. Ibaratnya, pesantren adalah rumah kedua. Kalau di rumah kita sudah terdidik dan terbiasa sedemikian rupa, untuk menerapkan kebiasaan disiplin di luar rumah juga tentunya akan lebih mudah. Terlebih jika sedang berada di tempat umum, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">queue<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah kunci kenyamanan semua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, itu kenapa antrean ambil makan di pondok waktu bulan Ramadan jadi lebih panjang dibanding hari-hari biasa. Karena kalau hari dan bulan yang lain, waktu ambil sarapan lebih panjang, alias nggak ada waktu imsak. Waktu untuk makan malam juga lebih panjang. Jadi, waktu untuk ambil makan, lebih fleksibel. Begitu~<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA Esai-esai\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/terminal-ramadan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terminal Ramadan<\/a>\u00a0Mojok lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di sini saya mau cerita dan nostalgia Ramadan di pesantren yang serba antre, seperti di pesantren yang pernah saya singgahi.<\/p>\n","protected":false},"author":353,"featured_media":40198,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4597,52,6305],"class_list":["post-43421","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-antre","tag-pesantren","tag-terminal-ramadan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43421","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/353"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43421"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43421\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/40198"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43421"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43421"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43421"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}