{"id":43419,"date":"2020-05-07T01:50:29","date_gmt":"2020-05-06T18:50:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=43419"},"modified":"2020-05-06T00:05:55","modified_gmt":"2020-05-05T17:05:55","slug":"menjadi-bucin-syari-dengan-syair-kasidah-burdah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menjadi-bucin-syari-dengan-syair-kasidah-burdah\/","title":{"rendered":"Menjadi Bucin Syari dengan Syair Kasidah Burdah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kasidah burdah karangan Imam Abu Abdillah al-Busyiri menjadi salah satu karya monumental yang terkenal di khazanah kesusastraan Islam dunia. Kasidah (kumpulan syair) ini berisi sajak-sajak pujian kepada Rasulullah, pesan moral, nilai-nilai spiritual, dan semangat perjuangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya di Jazirah Arab, kasidah burdah juga banyak dikaji di Indonesia. Khususnya, ketika ngaji pasaran di bulan Ramadan, banyak pesantren yang mengkaji kasidah burdah ini untuk membedah makna di dalamnya. Seperti tahun ini di antaranya, Kiai Mustofa Bisri atau Gus Mus (Rembang), Kiai Said Aqil Siroj (Jakarta), Kiai Hilmy Muhammad (Yogyakarta) yang melangsungkan ngaji burdah melalui <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">live streaming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di akun media sosial pesantrennya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain dikaji dengan membedah maknanya, kasidah burdah ini juga seringvkali dibaca pada majelis peringatan maulid nabi. Tidak sedikit pula yang menjadikan wirid sebagai doa karena kegundahan hati atau dibacakan kepada orang sakit. Alkisah, ketika Imam al-Bushiri menggubah syair ini dengan harapan mendapat syafaat Rasululllah, sampai pada bait 160, penyakit lumpuh yang dideritanya kemudian sembuh seperti sediakala. Subhanallah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa baitnya juga banyak dijadikan doa khusus pada suatu majelis pengajian dimulai. Seperti bait yang sangat tidak asing lagi, yaitu \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mawlaya sholli wa sallim da-iman Abadan, dst.\u201d, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang bermakna munajat dan permohonan kepada Allah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kasidah yang sangat indah. Kelihaian penyair dalam mencipta sajak dan pilihan diksi dan rima yang digunakan pun dapat kita rasakan pada syair-syair dalam kasidah burdah ini. Tidak hanya disukai oleh para penyair karena isi sajak-sajaknya yang menawan untuk dikaji, syair pada kasidah burdah ini juga digandrungi oleh setiap pembacanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, kalau kata anak muda sekarang, tiap bikin puisi romansa yang bermajas personifikasi, sering kali dibilang bucin. Sedikit-sedikit dibilang bucin. Padahal sejak dahulu, sudah banyak penyair Arab yang telah mengarang syair berisi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hubb<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (cinta) atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">syauq <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(rindu), baik kepada Tuhan, Rasul, juga sesama hambaNya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Euforia ngaji burdah ini, biasanya nampak sekali saat masih bagian bait pertama. Tidak sedikit para santri yang ikut mengaji kitab ini, terbawa hati atau \u2018baper\u2019 dengan sajak-sajak di dalamnya. Bagaimana tidak, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">lha wong<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sajaknya emang bikin klepek, kok. Nggak heran juga, banyak yang semangat banget ngaji burdah, pas awal-awal bait doang? Ngaku, nggak?\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSajak-sajak ini juga banyak dijadikan puisi-puisi cinta (oleh anak muda), tapi dhomirnya diganti yang-yangan dia, bukan Nabi Muhammad lagi,\u201d canda Gus Mus dalam Mukaddimah ngaji burdah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu dalam baitnya di bagian pertama nih,<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Wa atsbatal wajdu khatthay \u2018abratin wa dzanna, mitslal bahari \u2018ala khaddayka wal \u2018anami,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang artinya, \u201cDan rindumu sudah tidak bisa disembunyikan karena meninggalkan bekas tangis dan laramu, laksana ranting pohon an\u2019am yang bercabang dua karena kegelisahanmu (akibat rindu).\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asyik sekali memang, syair-syairnya. Tidak apa, kalau mau dijadikan gombal. Asal ketika sedang khusyuk membaca kasidah ini dengan niat tetap ditujukan sebagai pujian kita kepada Rasulullah Saw. Eits, tapi jangan salah, ya. Cintamu kepada yang-yangan, tidak seharusnya melebihi cinta kepada Rasul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi ya, nggak apa-apa kalau mau berbucin ria saat membaca kasidah ini. Menjadi budak cinta Rasul, tentu akan berbuah manis. Kalau sekarang ada hijab syari, pakaian syari, pedoman hidup syari, nah, kali ini ketika membaca kasidah burdah, bisa dibilang menjadi bucin syari. Hihihi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bait demi bait dalam kasidah burdah, mampu meningkatkan kecintaan kita kepada Rasulullah. Tak hanya sampai pada bab perbucinan syari saja. Selain berisikan ungkapan cinta dan senandung rindu kepada Rasulullah, 160 bait burdah ini terbagi dalam 10 bagian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bait pada bagian kedua menjelaskan peringatan dari bahaya hawa nafsu. Bagian ketiga, berisi pujian-pujian terhadap kemulian sosok Rasulullah. Bagian keempat, berisi kisah kelahiran Rasulullah. Bagian kelima, berisi mukjizat-mukjizat Rasulullah. Bagian keenam, berisikan kemuliaan dan keagungan kitab suci. Bagian ketujuh, berisi kisah perjalanan Isra\u2019 Mi\u2019raj Rasulullah. Bagian kedelapan, berisi perjuangan Rasulullah. Bagian kesembilan, berisi tawasul kepada Rasulullah. Bagian kesepuluh, berisi munajat dan permohonan hajat kepada Allah Swt.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga di bulan Ramadan ini, menjadi waktu mustajab untuk berdoa kepada Allah, dengan tawasul pujian-pujian kepada Rasul-Nya.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA Esai-esai\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/terminal-ramadan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terminal Ramadan<\/a>\u00a0Mojok lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak hanya disukai oleh para penyair karena isi sajak-sajaknya yang menawan untuk dikaji, syair pada kasidah burdah ini juga digandrungi oleh setiap pembacanya.<\/p>\n","protected":false},"author":353,"featured_media":40198,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[497,6519,6305],"class_list":["post-43419","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bucin","tag-kasidah-burdah","tag-terminal-ramadan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43419","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/353"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43419"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43419\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/40198"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43419"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43419"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43419"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}