{"id":43006,"date":"2020-05-05T16:53:02","date_gmt":"2020-05-05T09:53:02","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=43006"},"modified":"2020-05-05T16:53:39","modified_gmt":"2020-05-05T09:53:39","slug":"kamus-bahasa-sunda-yang-perlu-dipelajari-biar-kamu-lebih-nyunda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kamus-bahasa-sunda-yang-perlu-dipelajari-biar-kamu-lebih-nyunda\/","title":{"rendered":"Kamus Bahasa Sunda yang Perlu Dipelajari Biar Kamu Lebih Nyunda"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu hari saya sedang duduk di teras rumah sambil menunggu magrib datang. Dari seberang, terdengar tetangga bicara pada anaknya menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa Sunda halus. Kebiasaan itu mulai dilakukan banyak orang tua di sekitar sini. Biar nggak ketularan bahasa kasar, mungkin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ini nggak bagus juga buat bahasa Sunda. Mungkin nanti buyut-buyut saya nggak lagi diajari ngomong bahasa Sunda sejak orok, tapi bahasa Indonesia. Padahal bahasa daerah juga harus dijaga, dibikin lestari seperti dalam kalimat, &#8220;Utamakan bahasa Indonesia, kuasai bahasa asing, lestarikan bahasa daerah.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbekal semangat untuk melestarikan bahasa daerah, juga dengan keyakinan bahwa ada banyak orang di luar sana yang ingin belajar Bahasa Sunda, saya menulis artikel ini untuk membantu mereka agar lebih nyunda. Nggak cuma kenal <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">aing, sia, t\u00e8h, atuh, mah, naon, kas\u00e8p, geulis atau saha.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artikel ini berisi kata maupun frasa yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari, lengkap dengan arti dan konteks penggunaannya. Dengan catatan, bahasa Sunda yang ada di artikel ini adalah basa loma (bahasa akrab) atau bahasa yang sering digunakan dalam pergaulan sehari-hari buat temen seumuran atau temen nongkrong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, biar nggak banyak cang-cing-cong lagi, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hayu gaskeun lur!<\/span><\/i><\/p>\n<h4>#1 Asa teu kudu<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asa teu kudu adalah frasa dalam bahasa Sunda yang berarti \u201ckayaknya nggak harus gitu\u201d. Banyak digunakan untuk mengeluh, protes, atau marah-marah terhadap sesuatu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya kamu baru saja putus beberapa hari yang lalu. Layaknya sapiens yang berada dalam fase mupon, kamu cukup banyak melamun tanpa memikirkan apa pun. Nah di tengah-tengah lamunanmu lalu tiba-tiba kepikiran mantan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biar protesnya lebih nyunda kamu bisa menggunakan kalimat seperti ini:\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKeur ngeunaheun ngahuleng ujug-ujug kapikiran mantan. Asa teu kudu.\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Lagi enak-enak ngelamun tiba-tiba kepikiran mantan. Kayaknya nggak harus gitu).<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Karhud atau Karak hudang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karhud (karak hudang) atau \u201cbaru bangun\u201d<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">adalah frasa yang biasa digunakan untuk menolak ajakan secara halus atau sebagai alasan untuk keterlambatan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya sekolahmu sedang ikut kejuaraan sepak bola antar sekolah se-Kabupaten\/Kota. Lalu teman sebangkumu, sebut saja dia A, mengajakmu nonton pertandingan di stadion. Untuk menolak ajakan A secara halus kamu bisa menggunakaan karhud daripada sibuk mencari-cari alasan yang masuk akal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">A: \u201cHayu ka stadion n\u00e8mpo m\u00e8ngbal, bagian sakola urang ma\u00e8n.\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Hayu ke stadion nonton main bola, bagian sekolah kita main).<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">K: \u201cDu<\/span><\/i><i>h, karhud euy. Sok tiheula w\u00e8.\u201d <\/i>(Duh, baru bangun euy. Duluan aja ya).<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya dengan begini, temanmu akan mengerti bahwa kamu sedang mager alias ingin rebahan sepanjang hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau bisa juga dijadikan alasan keterlambatan, misalnya gini:\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu: \u201cA, hampura pang ngeusiankeun abs\u00e8n nu urang nya. Karhud euy, moal kaburu \u00e8k maksakeun mangkat g\u00e8.\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(A, tolong isiin absen punyaku ya. Baru bangun euy, nggak sempet mau maksain berangkat juga).<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">A: \u201cNya.\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Ok).<\/span><\/p>\n<h4>#3 Ny\u00e8m\u00e8n atau godin<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua kata ini hanya bisa digunakan selama bulan puasa karena mereka berarti makan di siang hari saat bulan puasa secara diam-diam. Jadi mereka bisa dibilang sebagai kode untuk mengajak temanmu buka puasa lebih dulu.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDaaak ke tas lohor godin\/ny\u00e8m\u00e8n kuuy!\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Guys, nanti abis dzuhur godin\/nyemen kuy!)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ingat! Bedakan antara \u00e8 p\u00e8p\u00e8t (seperti dalam t\u00e8h) dengan e (seperti dalam kembang). Soalnya nyem\u00e8n (dengan e &#8216;kembang) artinya melapisi sesuatu dengan semen.<\/span><\/p>\n<h4>#4 Wadul<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wadul berarti bohong, sedangkan ngawadul adalah melakukan sebuah kebohongan; atau bic<\/span>ara ngalor-ngidul sama orang lain.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya gini:\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">A: \u201cUmak, urang jadian jeung si C siah! Hebat, teu?!\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Umak, aku jadian sama si C loh! Hebat, nggak?!)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu: \u201cLah wadul, mana nempo buktina?\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Lah bohong, mana liat buktinya?)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">A: \u201cJig w\u00e8 tanyakeun ka jalma na ai teu percaya mah!\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Tanyain gih sama orangnya kalau nggak percaya mah).<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu: \u201cDi mana aya nu percaya ka tukang ngawadul\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Di mana ada yang percaya sama tukang bohongin orang lain)<i>.<\/i><\/span><\/p>\n<h4><b>#5 Ng\u00e8wa<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah nggak punya temen yang kelakuannya malu-maluin, nggak mencerminkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">image-<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">nya, nggak sesuai dengan umurnya? Nah semua itu dalam bahasa Sunda disebut ng\u00e8wa. Hati-hati tertukar sama ngewe ya! Nggak sopan!\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya:<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTah si \u00e8ta tong dibaturan deui lah, ng\u00e8wa kalakuan na g\u00e8. Pas\u00e8a jeung babaturan gara-gara aw\u00e8w\u00e8.\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Tuh si itu jangan ditemenin lagi, malu-maluin kelakuannnya. Berantem sama temen cuma gara-gara cewek).<\/span><\/p>\n<h4>#6 Mamantes<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mamantes adalah memaksakan sesuatu (dalam penampilan; <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">fashion<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) agar terlihat pantas padahal dia sendiri tau itu nggak pantas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGanti baju jig. Mamantes man\u00e8h mah baju koko mak\u00e8 calana cutbray.\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Ganti baju gih. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mamantes <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">kamu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mah <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">baju koko pake celana cutbray).<\/span><\/p>\n<h4>#7 Pundung<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah nggak kamu merasa bete atau marah karena nggak diajak main, atau kemauanmu nggak diturutin pacar atau dijailin temen sekelasmu? Nah yes, perasaan bete itu disebut pundung dalam bahasa sunda. Biasanya orang yang pundung itu nggak bisa ditanya, diem terus.<\/span><\/p>\n<h4>#8 Jongjon<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jongjon adalah perasaan senang yang dirasakan karena sudah terbebas dari gangguan yang bikin kamu nggak nyaman atau nggak tenang. Jadi singkatnya, jongjon adalah perasaan senang sekaligus nyaman dan tenang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh paling pas buat menerangkan jongjon adalah saat kamu berhasil menyelesaikan semua tugas yang datang terus setiap hari selama dua minggu berturut-turut. Saat-saat santai, libur, dan rebahan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">all day long <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">setelah bertarung lawan tugas itulah yang disebut jongjon.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dibikin jadi Instagram Story, saran saya coba gunakan kalimat ini:<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya merasakan kejongjonan maha damai.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi awas jangan sampai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kajongjonan <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">rebahannya alias lupa waktu terus lupa kewajiban buat ibadah, makan, bersih-bersih.<\/span><\/p>\n<h4>#9 Kamerkaan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamerkaan banyak dialami orang-orang yang sedang puasa, atau bisa juga sama yang melakukan mukbang. Pasalnya kamerkaan adalah keadaan di mana perut terlalu kenyang (bisa sampai menimbulkan sakit). Tau sendiri lah ya, pas waktunya buka puasa biasanya semua makanan diembat.<\/span><\/p>\n<h4>#10 Wayahna<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wayahna merupakan perintah agar mau bersabar meskipun sedang berada dalam keadaan yang nggak membuat hati senang atau sulit. Maka dari itu, buat kamu yang hobi dengerin curhatan temen, wayahna adalah kosa kata wajib. Kadang-kadang, ini adalah jawaban yang bikin tenang temenmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya temenmu tiba-tiba nelfon terus cerita panjang x lebar soal pacarnya yang selingkuh sambil nangis. Sebagai teman yang baik, saya percaya kamu pasti berusaha menenangkannya, tapi ada kalanya yang curhat nggak mau dengerin apa yang kamu bilang. Jawaban pamungkas untuk menenangkannya adalah sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNya enggeus ikhlaskeun w\u00e8. Wayahna, si As\u00e8p mah lain lalaki bener da ti mimiti g\u00e8&#8221; <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Yaudah, ikhlasin aja. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Wayahna, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">si Asep emang bukan laki-laki bener dari awal juga).<\/span><\/p>\n<h4>#11 Piraku<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Piraku, tergantung intonasi saat pengucapannya, bisa digunakan untuk bertanya atau mengejek seseorang. Saat digunakan untuk bertanya, piraku sama dengan \u201cmana mungkin\u201d dalam bahasa Indonesia. Tapi kalau buat mengejek, artinya mirip \u201cAaah masaaaa siiih?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya kamu punya temen yang terkenal suka membesar-besarkan ceritanya untuk mendapatkan pujian atau membuat orang lain kagum. Satu hari dia cerita tentang keberhasilannya mendapatkan nilai matematika\u2014pelajaran yang jadi kelemahannya\u2014lebih dari 80.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">A: \u201cMak, apal teu? Peunteun ulangan matematika urang 85, siah!\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Mak, tau nggak? Nilai ulangan matematika-ku 85 loh!)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu: \u201cPiraku&#8230;Pan man\u00e8h mah bodo mat\u00e8matika, A\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(mana mungkin? Kan kamu mah bodo matematika, A).<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">A: \u201cAslina ieu mah. Tadi urang nempo dina meja Pak Budi basa keur ka kantor.\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Aslinya ini mah. Tadi aku lihat di meja Pak Budi waktu lagi ke kantor).<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu: \u201cAaah, pirakuuuu waa~\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Aaah, masaaa siiih~)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">A: \u201cJeh teu percaya sia mah.\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Jeh nggak percaya kamu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/p>\n<h4>#12 Alabatan atau alahbatan atau alah batan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alahbatan, memiliki dua arti, yaitu lebih dari yang menunjukan sikap. Lalu satu lagi artinya kayak\u2014biasa digunakan saat dua orang sahabat bertengkar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya:<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNa aya \u00e8p\u00e8s m\u00e8\u00e8r alahbatan budak man\u00e8h mah!\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Kok tubuhmu gampang banget sakit, lebih dari anak kecil kamu mah!).<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHampura atuh Dang, alahbatan ka saha wae man\u00e8h mah kitu wungkul ge ngamuk.\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Maaf dong Dang, kayak sama siapa aja lu gitu doang marah).\u00a0<\/span><\/p>\n<h4>#13 Kor\u00e8t atau kop\u00e8t<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Koret atau kopet adalah sebutan untuk seseorang yang mempunyai sifat pelit (udah melewati batas wajar). Jadi kalau kamu punya teman yang pelitnya minta ampun, melebihi batas wajar, dan udah nggak bisa dikasih toleransi lagi. Saran saya, mulai sekarang panggil saja dia si koret atau si kopet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa juga buat ngatain, sih. Misalnya gini:<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNajis ih, kor\u00e8t pisan ka babaturan t\u00e8h sia mah!\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Najis ih, pelit banget lu sama temen sendiri!)<\/span><\/p>\n<h4><b>#14 H2C<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inget nggak dulu di tivi ada acara reality show percintaan yang dipimpin oleh Desta dan Ari Daginkz. Mereka menerima klien yang ingin mengetahui kesetiaan pacarnya. Jadi sepanjang acara, mereka berpakaian mirip Sherlock Holmes lalu membuntuti pacar si klien untuk memeriksa kesetiaannya. Nah itu namanya H2C alias harap-harap cemas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adakah hubungannya antara H2C yang acara tivi dengan H2C dalam bahasa Sunda? Ya nggak lah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">H2C dalam bahasa Sunda adalah hayu-hayu cicing atau bilang ayo (saat diajak mengerjakan suatu pekerjaan) tapi diem terus, nggak mau melakukan kerjaannya. Alias menyetujuinya secara lisan tapi nggak dibuktikan dengan perbuatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya:<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTeu baleg nu ngajak nyieun band deui t\u00e8h, ngan H2C wungkul.\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Nggak bener yang ngajak bikin band lagi teh, cuma hayu-hayu cicing doang).<\/span><\/p>\n<h4>#15 Rujit<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rujit berarti kotor banget (lingkungan) yang bikin orang merasa jijik saat melihatnya. Mudahnya, sungai-sungai yang dipenuhi sampah, nah keadaan sungai itu buat saya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rujit. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan membayangkan gimana baunya pun nggak mampu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain buat lingkungan, ada juga yang bisa digunakan buat orang, yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngarujitkeun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang artinya nyusahin yang ngurusnya.<\/span><\/p>\n<h4>#16 Botrok<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Botrok adalah pola hidup nggak beraturan, kotor, jauh pokoknya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mah <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sama yang namanya bersih. Dengan kata lain, botrok adalah perilaku orang yang menyebabkan lingkungan sekitarnya jadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rujit.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya temen kamu yang kamar kosnya dipenuhi sampah-sampah bekas makanan, pembalut, puntung rokok beserta abunya; lalu cucian berserakan di mana-mana.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4>#17 Heubeul<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Heubeul berasal dari kata <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">baheula <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang berarti zaman dulu. Bedanya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">baheula <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">berhubungan dengan keterangan waktu sedangkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">heubeul <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">berhubungan dengan sesuatu yang berasal dari zaman dulu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, lagu-lagu tahun 1990 ke bawah adalah lagu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">heubeul.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<h4>#18 Abong<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Abong adalah ungkapan (keluhan atau protes) yang digunakan saat ada sesuatu yang nggak seharusnya, nggak pantas atau nggak baik. Misalnya saat kemarin harga masker jadi mahal banget, para penjual memanfaatkannya untuk meraup untuk sebesar-besarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keluhan yang bisa kita gunakan dalam bahasa sunda jadi seperti ini:<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Abong masker keur marahal, sangeunahna m\u00e8r\u00e8 harga t\u00e8h\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Abong <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">masker lagi mahal, seenaknya ngasih harga <i>teh<\/i><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/p>\n<h4>#19 Cua<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bukan basis kotak yang cantik tapi udah jadi istri orang itu loh ya. Cua dalam bahasa sunda artinya benci, nggak suka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya:<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cA, urang balik tiheula nya, cua mant\u00e8n aing ningali si Ontohod\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(A, aku pulang dulu ya, keburu benci liat si Ontohod).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, orang-orang seperti si Ontohod ini tipe-tipe sapiens yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pikacuaeun batur <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(sering dibenci orang lain).<\/span><\/p>\n<h4>#20 Uyuhan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uyuhan adalah ungkapan yang digunakan saat kita melihat sesuatu yang bikin heran saat mengetahuinya karena nggak masuk akal. Dewasa ini, biasa digunakan saat gibahin temen sendiri yang bucin banget, nget, nget.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cUyuhan si A bisa kuat bobogohan jeung kabogohna. Sakitu unggal panggih sok disiksa g\u00e8.\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(<em>U<\/em><\/span><em><span style=\"font-weight: 400;\">yuhan <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400;\">si A bisa kuat pacaran sama pacarnya. Padahal tiap ketemu sering disiksa).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir dan paling pamungkas, satu kata\u2014yang jika kamu gunakan dengan baik dan benar\u2014akan membuatmu lebih Sunda daripada urang Sunda sendiri. Tapi jangan berekspektasi terlalu besar wkwkwk.<\/span><\/p>\n<h4>#21 Nafsu Kapegung<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nafsu kapegung adalah nafsu yang nggak bisa dilampiaskan karena ada sesuatu yang menghalanginya. Biasanya, orang yang punya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nafsu kapegung <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dalam hatinya sering <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kukulutus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sebagai usaha mengurangi nafsu tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kukulutus? <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Apa itu t\u00e8h, Lang? Jawabannya bisa kamu lihat di poin selanjutnya, Lur.<\/span><\/p>\n<h4>#22 Kukulutus<\/h4>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKukulutus adalah suatu kondisi di mana seseorang bibirnya manyun lalu marah-marah tanpa henti gara-gara kenyataan nggak sinkron dengan keinginan\u201d -Netijen asli Sunda, beberapa tahun ke belakang.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari kutipan di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa kukulutus adalah keluhan seorang sapiens yang disampaikan secara cepat dan kontinyu dalam tempo waktu tertentu, misalnya sambil bersih-bersih rumah, masak, atau nyuci.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><i>#23 Nu pang terakhir na pisan nya\u00e8ta: Waas<\/i><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waas adalah perasaan yang muncul waktu ingat pengalaman yang membuatmu menyukainya. Kata yang satu ini berhubungan dengan panca indera juga perasaan dalam hati. Pengalaman di sini tentu saja harus punya nilai historis ya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAsa waas ningali barudak leutik lulumpatan moro langlayangan, inget jaman ngora.\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Asa waas <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">liat anak kecil lari-larian ngejar layangan putus, ingat waktu masih muda).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh lain dari waas yaitu perasaan yang muncul saat kita mengunjungi tempat atau jalan yang dulu sering kamu gunakan buat menghabiskan waktu malam mingguan bareng mantan.<\/span><\/p>\n<p>Selamat belajar bahasa Sunda~<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/teori-soal-kenapa-orang-sunda-tidak-menikah-dengan-orang-jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Teori Soal Kenapa Orang Sunda Tidak Menikah dengan Orang Jawa<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gilang-oktaviana-putra\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gilang Oktaviana Putra<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dengan belajar ini, kamu bisa jadi lebih nyunda dibanding orang Sunda.<\/p>\n","protected":false},"author":158,"featured_media":35418,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[6512,6513,6047],"class_list":["post-43006","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-bahasa-sunda","tag-kamus-bahasa-daerah","tag-orang-sunda"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43006","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/158"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43006"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43006\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35418"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43006"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43006"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43006"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}