{"id":426010,"date":"2026-11-08T11:50:23","date_gmt":"2026-11-08T04:50:23","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=426010"},"modified":"2026-11-08T11:50:23","modified_gmt":"2026-11-08T04:50:23","slug":"warga-ungaran-bertaruh-nyawa-hanya-demi-bekerja-di-semarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/warga-ungaran-bertaruh-nyawa-hanya-demi-bekerja-di-semarang\/","title":{"rendered":"Penderitaan warga Ungaran yang tiap hari harus turun gunung ke Semarang, tua dan taruhan nyawa di jalan, hanya demi gaji yang tak seberapa"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang Semarang bawah ngira tinggal di Ungaran itu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalanan-hutan-karet-mendiro-ungaran-timur-cocok-untuk-uji-nyali\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">punya privilege tersendiri<\/a>. Hawanya sejuk, pemandangannya asri, dekat Gunung Ungaran, juga banyak tempat ngopi estetik. Mendengar pujian itu, rasanya pengen nyuruh mereka beli mereka tiket Trans Jateng rute Bawen-Tawang biar mereka ngerti kenyataan sebenarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian nggak tau rasanya jadi kita, kaum &#8220;penglaju&#8221; yang tiap hari harus bertaruh nyawa menuruni gunung demi mengejar fingerprint pukul 8 pagi di ibu kota provinsi itu. Tinggal di daerah atas buat kerja di daerah bawah sama saja menyiksa jiwa dan raga.<\/span><\/p>\n<h2><b>Orang Ungaran sering dibikin menderita sama cuaca waktu pergi ke Semarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah pertama dan paling mendasar itu perkara adaptasi cuaca. Cuaca di rute Ungaran ke Semarang itu nggak jelas pakai banget. Berangkat dari rumah di Ungaran pukul setengah tujuh pagi, hawa dinginnya masih nusuk sampai ke tulang. Kita wajib pake jaket tebal, sarung tangan, hingga masker dobel agar tidak masuk angin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi coba maju sedikit sampai ke Jatingaleh atau Kaliwiru. Jaket yang tadinya jadi pelindung, tiba-tiba berubah jadi emergency blanket. Sampai di parkiran kantor, ketiak udah banjir keringat, rambut bau matahari kena helm, terus mood sudah hancur lebur sebelum sempet buka laptop. Kita ini pekerja kantoran, tapi bau badan saat sampai di meja kerja udah mirip kuli panggul Pasar Johar.<\/span><\/p>\n<h2><b>Rute yang berbahaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi jika kita membahas rute paling ngerinya. Sepanjang Jalan Setiabudi sampai <a href=\"https:\/\/jateng.idntimes.com\/news\/jawa-tengah\/mengupas-mitos-tanjakan-gombel-semarang-sejarah-dan-fakta-tersembunyinya-00-2m8jx-0n2wjg\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tanjakan Gombel<\/a> itu rasanya udah kaya ada di padang mahsyar, ibarat matahari nambah lima. Di sana, motor ibu-ibu yang belum pernah ganti oli dari 2 tahun yang lalu, mobil-mobil plat H yang cicilannya belum lunas, bus AKAP, sampai truk tronton berkumpul jadi satu. Kesenggol sedikit, pindah alam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Macetnya Tanjakan Gombel di pagi hari itu sering bikin saya overthinking di atas jok motor. Sambil nahan tuas rem, saya sering merenung, &#8220;Kerja buat hidup, atau cuma buat tua di jalan ya?&#8221;<\/span><\/p>\n<h2><b>Beda UMR Ungaran dan Semarang yang bikin dilema<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, mari kita bahas UMR. Harus sangat diakui bahwa, selisih UMR Kabupaten Semarang dan Kota Semarang memang jadi alasan utama kita, warga Ungaran rela turun gunung. Ada gengsi tersendiri yang harus saya kejar buat jadi pekerja ibu kota.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi mari kita berhitung. Selisih gaji yang nggak seberapa itu nyatanya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ungaran-bisa-dibanggakan-mengalahkan-kota-semarang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cuma sekadar mampir di slip gaji<\/a>, terus menguap di SPBU Pudakpayung. Ya, selisihnya habis buat beli Pertalite yang naiknya kurang ajar, ganti kampas rem yang cepat aus, terus servis CVT motor yang setiap hari tersiksa karena terus lewat jalur ekstrem. Ujung-ujungnya, kesejahteraan kami ya sama saja bohong. Rekening tetap sesegukan di tanggal 20.<\/span><\/p>\n<h2><b>Stop romantisasi enak tinggal di Ungaran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bekerja di Semarang dan tinggal di Ungaran juga membuat kami kehilangan hak untuk hangout sepulang kerja. Ketika teman-teman kantor ngajak nongkrong di Pleburan atau Kota Lama pukul 7 malam, kami kaum laju hanya bisa meringis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kepala kami, udah kebayang jalan pulang yang gelap, dingin, dan potensi bertemu truk oleng di tanjakan. Nongkrong dua jam, tapi capek di jalannya bisa kerasa sampai lusa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, buat kalian warga Semarang bawah, tolong berhenti meromantisasi kehidupan kami di Ungaran. Udara sejuk dan kabut pagi kami bayar lunas dengan encok di pinggang, paru-paru yang penuh debu ala Pantura, dan masa muda yang tergerus habis di jalanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita nggak butuh kata-kata motivasi. Kita cuma butuh harga bensin turun dan bos yang paham kalo telat lima menit karena kejebak macet di Gombel itu bukan sebuah tindakan indisipliner, tapi musibah.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-ungaran-mengaku-asli-semarang-karena-malu-nggak-ada-yang-bisa-dibanggakan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Orang Ungaran Pilih Mengaku Asli Semarang karena Malu Nggak Ada yang Bisa Dibanggakan<\/a> dan artikel menarik lainnya di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">TERMINAL MOJOK<\/a>.<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kerja di Semarang dan tinggal di Ungaran adalah petaka, musibah, karena kami harus taruhan nyawa di setiap perjalanan.<\/p>\n","protected":false},"author":3388,"featured_media":426040,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[16629,10003,4652,35574,35573,17065],"class_list":["post-426010","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kabupaten-semarang","tag-kota-semarang","tag-semarang","tag-tanjakan-gombel","tag-umr-semarang","tag-ungaran"],"modified_by":"Yamadipati Seno","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/426010","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3388"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=426010"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/426010\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":426041,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/426010\/revisions\/426041"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/426040"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=426010"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=426010"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=426010"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}