{"id":425890,"date":"2026-11-07T13:22:11","date_gmt":"2026-11-07T06:22:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=425890"},"modified":"2026-11-07T13:22:11","modified_gmt":"2026-11-07T06:22:11","slug":"nelangsa-perantau-madura-di-surabaya-jika-jembatan-suramadu-benar-benar-tidak-ada","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nelangsa-perantau-madura-di-surabaya-jika-jembatan-suramadu-benar-benar-tidak-ada\/","title":{"rendered":"Nelangsa perantau Madura di Surabaya jika Jembatan Suramadu benar-benar tidak ada"},"content":{"rendered":"<p><em>Jembatan Suramadu membantu perantau Madura yang berada di Surabaya. Ini fakta yang harus diterima dulu.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjelang lebaran, biasanya video Jembatan Suramadu yang padat dengan kendaraan berseliweran di FYP saya. Video yang lengkap dengan backsound nuansa lebaran itu, bikin saya terharu. Sebagai perantau saya turut merasakan kerinduan yang sebentar lagi akan terbayar ketika sampai di kampung halaman. Sayangnya, rasa terharu itu buyar ketika meng-klik kolom komentar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Komentarnya sangat kental dengan isu rasial. Salah satunya ada yang bilang, &#8220;setelah itu tutup portal atau robohkan jembatannya, biar nggak balik lagi.&#8221; Saya sedikit memaklumi jika pernyataannya menyinggung daerah. Toh, meski dibilang oknum sudah nggak mempan. Tapi saya jadi sangat jengkel ketika sudah menyinggung infrastruktur yang pada dasarnya menjadi sarana mobilitas banyak orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun lebaran sudah lewat, dan saya sudah melupakan komentar yang seperti itu, saya kembali diingatkan lagi dengan tulisan di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">berjudul<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Membayangkan Bangkalan Madura tanpa Jembatan Suramadu: mungkin malah baik-baik saja, warlok bisa hidup lebih tenang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari judulnya saja, sudah bikin saya sedih bukan kepalang. Bisa jadi aman bagi warga Bangkalan, tapi tidak dengan perantau. Sehingga dari sinilah saya membayangkan betapa malangnya nasib perantau dari Madura jika jembatan Suramadu benar-benar tidak ada, khusunya bagi mereka yang merantau di Surabaya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tetangga dari Madura nggak bisa bantu rewang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski sudah tidak di kampung halaman, ketika mengadakan hajatan di tanah rantau, nyatanya tradisi rewang masih kental seperti di desa. Selain dibantu oleh tetangga sekitar, tetangga-tetangga dari kampung halaman pun datang ikut membantu. Hal itu terlihat di acara nikahan sepupu saya yang diadakan di Surabaya. Kami sekeluarga merasa terbantu karena datangnya tetangga dari Madura itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan bantuannya, tuan rumah bisa tenang menyambut banyaknya tamu yang datang. Saya rasa hal itu tidak terlepas dari kemudahan akses Madura-Surabaya via jembatan Suramadu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan jika jembatan ini tidak ada. Pastinya tetangga dari Madura akan berpikir dua kali untuk bantu rewang ke Surabaya. Mau naik kapal feri dari pelabuhan kamal, misalnya, selain harus menanggung ongkos bensin, tiket per-kepala juga diperhitungkan. Sehingga muncul rasa sungkan dalam benak mereka karena semua itu sudah pasti nantinya akan ditanggung oleh tuan rumah yang punya hajat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tanpa Jembatan Suramadu, pulang kampung harus dijadwal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di masa-masa belum ada Suramadu, ketika ingin pulang ke kampung halaman, para perantau Madura biasanya naik kapal feri dari <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pelabuhan_Tanjung_Perak\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pelabuhan Perak<\/a>. Paling tidak, jika kebetulan nututi kapal masih berada di armada, membutuhkan waktu satu jam untuk sampai ke pelabuhan Kamal. Berbeda ketika kedapatan kapal sudah meninggalkan armada, penumpang harus rela menunggu beberapa waktu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk mengantisipasi hal itu, biasanya ketika mau pulang kampung, dulu mama saya belanja oleh-oleh di jauh-jauh hari agar keesokannya bisa langsung berangkat. Oleh karena itu, pulang kampung terasa seperti dijadwal. Padahal merantaunya nggak jauh-jauh amat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda ketika Suramadu sudah ada, sebagai perantau kami bisa leha-leha dulu dan tak perlu terburu-buru. Jika ingin berangkat hari ini pun, belanja oleh-oleh bisa dilakukan pagi harinya. Dan kalau takut teriknya matahari di siang hari, bisa berangkat di waktu sorenya tanpa perlu takut kemalaman karena khawatir lama menunggu kapal. Ya, selain karena takut setan, perantau juga takut begal ketika sudah turun dari kapal, mengingat banyaknya uang yang dibawa hasil kerja keras di tanah rantau. Hehehe.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kami para perantau rindu kapal feri, tapi enggan naik lagi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semenjak Jembatan Suramadu beroperasi, kapal feri makin hari makin sepi. Karena waktu tempuh yang lebih cepat, banyak orang memilih menyeberang selat Madura itu dari atas jembatan daripada kapal. Sehingga ketika kalian bepergian ke Madura via kapal, pasti jumlah penumpangnya bisa dihitung dengan jari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski begitu, nyatanya kapal feri menyisakan kenangan bagi banyak orang. Sebagai orang yang besar di tanah rantau, saya sangat senang ketika pulang ke kampung halaman. Salah satunya karena bisa naik kapal. Banyak kenangan masa kecil saya di sana. Yang masih saya ingat yaitu saya keliling ditemani mama melihat pemandangan yang kebetulan saat itu ada jet ski lewat dekat kapal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada rasa rindu ketika mengingatnya. Namun, untuk naik kapal feri lagi, rasanya harus berpikir dua kali. Di masa jayanya, dulu naik kapal feri harus antri berdesak-desakan, nggak kebagian kursi penumpang, bahkan yang paling seram satu kapal sama mobil jenazah. Sehingga ketika Jembatan Suramadu benar-benar tidak ada (jika tidak ingin bilang ditiadakan), saya rasa tak ada yang mau kembali ke masa-masa itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya sudah, itulah gambaran yang menghantui saya jika benar-benar kejadian. Kalian bagaimana? Jadi, sudah paham kan, apa yang harus dilakukan agar Suramadu tetap ada. Salam settong dhere!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Feri Hamdani Putra Fasa<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/merobohkan-jembatan-suramadu-demi-rakyat-madura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jembatan Suramadu Memang Harus \u201cRoboh\u201d demi Rakyat Madura yang Selalu Dianggap Sumber Masalah bagi Banyak Orang <\/a><\/strong><strong>dan artikel menarik lainnya di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Terminal Mojok<\/a><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jembatan Suramadu membantu perantau Madura yang berada di Surabaya. Ini fakta yang harus diterima dulu. Kalau susah, ya, gimana?<\/p>\n","protected":false},"author":3010,"featured_media":422854,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[19655,5020,22953,405],"class_list":["post-425890","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jembatan-suramadu","tag-madura","tag-pelabuhan-tanjung-perak","tag-surabaya"],"modified_by":"Rizky Prasetya","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/425890","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3010"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=425890"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/425890\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":425932,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/425890\/revisions\/425932"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/422854"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=425890"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=425890"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=425890"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}